Mohon tunggu...
Helvira Hasan
Helvira Hasan Mohon Tunggu... pelajar/mahasiswa -

Perempuan Biasa!

Selanjutnya

Tutup

Puisi

111 Kata di Januari Emosi

31 Januari 2011   05:38 Diperbarui: 26 Juni 2015   09:02 979
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com

10 CERITA 111 KATA DI JANUARI EMOSI

Tema: Balon

Judul: "Balon Pengacau"

Meletus balon hijau. Dor! Hatiku sangat kacau. Balonku tinggal empat, kupegang erat-erat. Sesungguhnya, balonku tak berjumlah empat, apalagi yang berwarna-warni.

Ketika masih kecil, aku tak pernah bermain balon. Mainanku hanya asap knalpot. Recehan di sakuku adalah bonusnya. Kadang aku nyanyikan lagu ‘balonku’ kala mengamen. Aku suka lagu itu yang seketika bisa kuhapal saat tak sengaja mendengarnya di sebuah TK di pinggiran Jakarta.

Dahulu, aku berharap bisa memiliki lima balon sebagai penghiburku. Sekarang, keseharianku adalah balon-balon. Tapi, bukan balon berwarna-warni yang melayang di angkasa. Payudaraku telah disumpal dengan silikon hingga terbuai seperti balon. Menggoda lelaki yang menyarungkan penisnya dengan kondom yang bisa disulap menjadi balon.

Jalan nasibku belum berubah. Hatiku bertambah kacau.


Tema: Badut

Judul: "Badut Pembunuh"

Aku tak pernah suka badut. Bermuka sangat putih, berhidung bulat besar merah, mulut berseringai lebar yang juga merah. Rambut kribo menjijikan! Aku tak pernah suka badut!

Cekikikan kanak-kanak. Celoteh mulut mereka yang nyinyir. Kelakuan mereka yang tak sopan. Muka badut dilempar dengan sepotong kue tart. Badut tetap menyeringai. Malah tertawa membahana. Si badut bodoh! Aku tak pernah suka badut.

“Anda ditahan!” demikian kata seorang polisi sambil memborgol tanganku. Mata-mata tertuju padaku. Pesta bahkan belum berakhir. Aku menyeret paksa langkahku. Penyamaranku terbongkar. Mayat tetangga sebelah telah ditemukan. Tetanggaku itu berprofesi sebagai badut di karnaval kota. Aku telah merobek mulutnya menjadi lebih lebar. Kepalanya kupenggal.

Kau tahu kenapa? Aku tak pernah suka badut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun