Mohon tunggu...
Citra Dwikasari
Citra Dwikasari Mohon Tunggu... Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jurusan Ilmu Hubungan Internasional Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Open-ended human.

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan Pilihan

Krisis Iklim Dunia, Alasan Australia Menolak Konsensus Pacific Forum Islands 2019: Demi Batu Bara dan Ekonomi Australia

11 Mei 2020   20:12 Diperbarui: 11 Mei 2020   20:52 42 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Krisis Iklim Dunia, Alasan Australia Menolak Konsensus Pacific Forum Islands 2019: Demi Batu Bara dan Ekonomi Australia
jadwal-pif-2019-5eb956b8d541df6d161147b2.jpg

Mempertanyakan Tindakan Australia Mengambil Tindakan Berbeda Dari Negara Lain

PIF merupakan salah satu forum pertemuan para pemimpin negara di Pasifik untuk membahas isu penting bersama di kawasan Pasifik agar dapat ditemukan solusi berdasarkan konsensus bersama. Pada pertemuan tahunan terbaru ke-50 yang dilaksanakan di Tuvalu tanggal 13 Agustus 2019, salah satu isu yang dibahas adalah mengenai masa depan kawasan Pasifik yang menjadi kawasan terdampak cukup parah akibat perubahan iklim di dunia. Adapun prioritas utama adalah mengenai kelangsungan hidup masa depan masyarakat kawasan Pasifik.

Saat ini, keadaan darurat telah terjadi di kawasan Pasifik yang ditandai dengan terjadinya kenaikan tinggi air laut. Hal ini menjadi penting untuk ditangani dikarenakan kondisi geografis negara anggota kawasan Pasifik yang mayoritas berbentuk kepulauan. 

Dengan adanya kenaikan ini, berdampak pada keamanan dan stabilitas domestik para negara anggota Pasifik yang diakibatkan oleh tindakan migrasi masyarakat pesisir pantai ke tempat lain (United Nations University, 2017). Selain itu, kenaikan ini berdampak pada kedaulatan para negara anggota terkhususnya pada territorial negara yang mengalami penyusutan wilayah daratan. (Campbell, 2014)

Pentingnya isu penanganan terhadap perubahan iklim secara umum menjadikan diperlukan tindakan nyata yang berpengaruh agar dampak tersebut dapat diminimalisir atau setidaknya tidak bertambah parah. Oleh karenanya, PIF menyepakati bahwa semua negara harus berupaya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca di dunia. (PIF, 2019) Sebagai tindak lanjut atas kesepakatan ini, mayoritas negara anggota menyetujui hasil ini, namun terdapat salah satu negara Anggota yang tidak sepakat dengan hasil kesepakatan yakni Australia.

Australia menolak keputusan untuk mengurangi kadar emisi gas rumah kaca yang dihasilkan negaranya (ABC, 2019). Hal ini menuai kecaman dan kekecewaan dari negara anggota lainnya. Keputusan Australia dinilai sebagai upaya yang tidak ingin bersikap nyata dan dinilai tidak memiliki keseriusan dalam menciptakan kawasan Pasifik yang stabil terutama pada dampak perubahan iklim.  

Tuvalu (the guardian, 2019) dan Fiji (the guardian, 2019) merupakan negara yang menuangkan rasa kekecewaannya terhadap tindakan Australia yang tidak serius dalam bertindak menyelamatkan masa depan kawasan Pasifik. Australia juga dituntut untuk berperan lebih terhadap tindakan nyata tersebut dikarenakan kapasitas dan kapabilitasnya sebagai negara middle power dunia dan negara yang berpengaruh dominan di kawasan Pasifik. (Carr, 2019)

Untuk menganalisa keputusan yang diambil oleh Australia berupa penolakan terhadap hasil konsensus untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, maka selanjutnya akan dianalisa dengan menggunakan perspektif neorealis antara lain konsep kepentingan nasional Australia, green theory, kebijakan luar negeri Australia dan teori Rational Actor Choice untuk mengetahui faktor – faktor yang melatarbelakangi keputusan Australia tersebut.

Penyelenggaraan KTT-50 Pacifif Islands Forum (PIF)

PIF adalah sebuah forum regional di kawasan Pasifik yang dibentuk tahun 1971 atas inisiatif Selandia Baru. Pada mulanya PIF bernama South Pacific Forum hingga pada tahun 2000 yang merefleksikan negara berdasarkan lokasi stategis yakni di Kawasan Pasifik bagian Utara dan Selatan. PIF didirikan oleh tujuh negara yakni Selandia Barum Samoa, Australiam Fiji, Nauru, Tonga dan Kepulauan Cook sebagai wadah memperkuat kerja sama dan wadah intefragasi dengan upaya penyatuan sumber daya dan sinkronisasi kebijakan guna mencapai peningkatan pertumbuhan ekonomi, good governance, pembangunan berkelanjutan dan keamanan.

PIF beranggotakan banyak negara antara lain tujuh negara pendiri, Kaledonia Baru, Nieu, Kiribati, Federasi Mikronesia, Kepulauan Marshall, Papua Nugini, Palau, Kepulauan Solomon, Vanuatu, Tuvalu dan Polinesia Prancis, adapun asosiasi keanggotaan PIF dinamakan Tokelau. Status ini bisa didapatkan kepada wilayah yang berada di kawasan Pasifik dan disetujui dalam KTT oleh para Leaders dengan segala persyaratan didalamnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
VIDEO PILIHAN