Mohon tunggu...
Gigih nugroho
Gigih nugroho Mohon Tunggu... Wiraswasta - Founder of ICPG (Information Communication and Political Governance)

Hidup adalah “SENDAl gURAUn” belaka, biar tidak terlalu kepanasan saat berjalan

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan Pilihan

Patungan untuk IKN Nusantara Rasa Metaverse

2 April 2022   18:06 Diperbarui: 2 April 2022   18:11 481 5 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Pemerintahan. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

Program Crowdfounding atau patungan dari masyarakat untuk pembiayaan pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara menjadi perhatian publik. Meskipun sebenarnya program Crowdfonding bukan menjadi prioritas karena skema pembiayaan IKN Nusantara sudah diatru melalui UU Nomor 3 Tahun 2022 tentang IKN. 

Dalam regulasi tersebut mekanisme pembiayaan dilakukan melalui Public-Provate-People Participation (PPPP/4P). Crowdfounding hanyalah salah satu skema yang dimungkinkan dalam pembiayaan atau pendanaan persiapan pembangunan IKN.
 
Bicara Crowdfounding untuk pembiayaan proyek strategis nasional bukan hal yang aneh bahkan di banyak negara mekanisme ini menjadi alternatif pilihan. Skema ini populer di Amerika Serikat terutama terkait dengan krisis keuangan global 2008. Satistia.com melaporkan dana yang berhasil dikumpulkan melalui crowdfunding mencapai US$17,2 miliar (Rp 246 triliun) di AS dan US$ 10,5 miliar (Rp 150 triliun) di Asia. 

Menurut bapak Presiden Jokowi, untuk membangun IKN Nusantara dibutuhkan dana sebesar Rp 501 triliun. Jika skema crowdfunding suskes seperti di Amerika Serikat itu, setidaknya 50% lebih sudah terpenuhi. Belum dihitung dengan inflasi karena berbeda tahun.
 
Selain masalah pendanaan yang menuai polemik publik, pembangunan IKN Nusantara diwarnai juga dengan isu tata kelola pertanahan. Komite Nasional Pembaruan Agraria (KNPA) menyatakan bahwa terjadi permasalahan dalam pengadaan tanah, proses pembangunan infrastruktur hingga persoalan ekonomi, sosial, agama, pendidikan bahkan kesehatan. Tanah IKN Nusantara belum sepenuhnya milik negara.
 
Dibalik semua persoalan tersebut, pemindahan Ibu Kota Negara perlu diapresiasi dan didukung dengan bijak dan cermat. Bahkan IKN Nusantara bukan sekadar memindahkan kota dan pusat pemerintahan, tetapi juga merencanakan pusat perkotaan moderen sebagai Future Smaret Forest City of Indonesia. 

Kementerian PUPR pun telah menyiapkan perencanaan secara makro, meso dan mikro termasuk detailed engineering design dengan 5 prinsip pengembangan (Smart Workplace, Smart Living, Smart Mobility dan Transportation, Smart Nature Preservation, dan Smart Transformation of Nation and Culture). Nampaknya nafas digitalisasi dengan pemanfaatan teknologi menjadi core dalam pembangunan IKN Nusantara.
 
Berkait dengan itu, jika memang sulit untuk mewujudkan IKN Nusantara secara nyata, apakah memungkinkan kita bangun dahulu IKN Nusantara secara virtual dengan memanfaatkan pengembangan teknologi metaverse? Kita tahu bahwa saat ini teknologi blockchain menjadi core utama transformasi bisnis. Sejumlah raksasa teknologi rela merogok gocek yang dalam untuk pengembangan ekosistem metaverse ini. 

Sebut saja Facebook, menyiapkan dana hingga US$ 150 juta atau sekitar Rp 2,1 triliun. Sementara  Google menyiapkan anggaran sebear 29,5 juta USD atau setara Rp 574 miliar. Investasi terbesar adalah Microsoft yang reala menyiapkan anggaran hingga Rp 987 T untuk membeli perusahaan video game. Jika membandingkan angka investasi facebook maupun google dengan biaya pembiayaan IKN Nusantara, pembangunan versi metaverse cukup efisien sekitar 0,4% dari total dana yang dibutuhkan.
 
Minat masyarakat dan kalangan industri di indonesia untuk membangun metaverse juga cukup tinggi. Dimulai dengan perbankan nasional yang mulai membuka gerai virtual di Metaverse seperti BRI, BNI hingga Mandiri. Bahkan perusahaan teknologi augmented reality asal Indonesia WIR Group masuk dalam daftar Metaverse Companies to Watch in 2022 VERSI Forbes GE sejajar dengan Apple, Microsoft, dan Facebook. Bahkan PT WIR Asia Tbk (WIRG) akan merambah di bursa saham dengan penerbitan prospektus sebanyak 2,34 miliar saham atau setara dengan 20% dari modal yang ditempatkan dan disetor penuh.
 
Untuk pengembangan digitalisasi di IKN Nusantara, Sebagai BUMN dan perusahaan telekomunikasi digital terdepan, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) secara konsisten terus berupaya mewujudkan kedaulatan digital Indonesia. Keberadaan BUMN kebanggaan kita ini siap mendukung konsep IKN Nusantara sebagai smart city dengan menghadirkan transformasi digital. Mengapa tidak sekalian saja membuat konsep IKN Nusantara dalam dunia metaverse sebagai bentuk pembangunan kedaulatan digital? Bahkan Mas Menteri BUMN juga mendorong Telkom dan Telkomsel untuk menggaram Metaverse hingga Game Finance di Indonesia. Tentunya dengan pengalaman Telkom, setidaknya mampu menghadirkan IKN Nusantara secara virtual ditengah upaya penyelesaian polemik yang saat ini terjadi dalam mewujudkan IKN secara offline.
 
Tentunya akan sangat banyak keuntungan jika Indonesia memiliki ekosistem Metaverse sendiri dengan mengandeng perusahaan lokal, nasional maupun internasional. Mengingat gairah metaverse dengan basis teknologi blockchain dan cryptocurrency yang menjanjikan. Berdasarkan studi Bloomberg Intelligence 2022, nilai kapitalisasi pasar metaverse dapat mencapai US$800 miliar pada 2024 atau setara Rp11.440 triliun (kurs Rp14.300). Pasar metaverse dapat mencapai US$783,3 miliar pada 2024 dibandingkan dengan US$478,7 miliar pada 2020 mewakili tingkat pertumbuhan tahunan gabungan sebesar 13,1 persen, berdasarkan analisis Bloomberg dan data Newzoo, IDC, PWC, Statista, dan Two Circles.
 
Jika memang sulit mewujudkan konsep IKN Nusantara, mungkin solusi yang dapat kita lakukan dengan melihat perkembangan teknologi dan prospek bisnis hingga kerawanan kedepan, sudah saatnya Indonesia memiliki kedaulatan digital. Salah satunya membangun ekosistem metaverse dengan mengahdirkan IKN Nusantara secara virtual berbasis teknologi blockchain dan pemanfaatan crypto currency. Apalagi Bappenas dan KADIN telah meresmikan Pusat Pendidikan Blockchain pertama di Indonesia yang dikenal dengan  Blockchain Center of Excellence and Education sebagai wadah yang bertujuan memfasilitasi pengembangan teknologi di berbagai sektor usaha
 
Skema crowdfounding tentunya akan semakin menarik dengan dikaitkan dengan crypto currency, Bagaimana tidak, apa yang sudah terjadi pada Ghozali Everyday dengan NFT foto selfie, Syahrini dengan syahrini's metaverse tour, dan Denny Januar Ali dengan menjual lukisan dirinya mampu meraup pundi pundi investasi. Kiranya jika memang crowdfounding dijadikan sebagai skema pembiayaan alternatif IKN Nusantara, kita mulai dengan pembangunan IKN Nusantara secara virtual. Mulai dengan mendorong anggaran di Kementerian Lembaga untuk disinkronisasi guna menghadirkan kantor kantor mereka secara virtual di ekosistem metaverse IKN Nusantara.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan