Bagi masyarakat kita, bulan Syawal dianggap sebagai bulan yang special. Sebab pada bulan ini ada hari idul fitri. Maka, pada bulan ini, sejak tanggal 1 Syawal, terhampar aktivitas sosial bernama silaturahmi dalam skala yang bersifat keluarga sampai dalam skala nasional. Pendek kata, bulan Syawal seakan menjadi magnet sosial.
Sebagai magnet sosial, maka bulan syawal dianggap mempunyai kukuatan yang dapat menarik secara sosial dari berbagai kalangan, baik yang bersifat informal maupun formal. Magnet tersebut terasa tarikannya sampai akhir bulan Syawal.
Mengapa bulan Syawal dianggap sebagai bulan yang mempunyai magnet sosial? Jawabannya akan dimulai dari aktivitas puasa Ramadhan selama satu bulan.Â
Apa hubungannya dengan magnet sosial bulan Syawal? Hubungannya adalah perjalanan panjang ibadah puasa bulan ramadan dengan ritual lapar dan dahaga.Â
Dalam proses tersebut ada tujuan mulia yang ingin diraih yaitu beralihnya status orang beriman menjadi orang bertakwa.
Dalam proses tersebut, melalui lapar dan dahaga, orang beriman diasah dan digembleng fitrah-nya yaitu fitrah individualnya agar tidak menjadi manusia individualis, fitrah sosial agar orang beriman mempunyai kepekaan sosial dan kepedulian sosial terhadap sesama, sedang fitrah berikutnya adalah fitrah spiritualnya agar jiwa orang beriman bersih dalam membangun hubungan dengan Allah melalui ibadah.
Setelah puasa satu bulan dijalankan, puncaknya adalah idul fitri. Masyarakat kita memaknai idul fitri pada dua hal yaitu syariat dan budaya.Â
Sebagai syariat, dijalankan kegiatan salat id dengan beberapa ketentuan yang ada. Selanjutnya dilanjutkan puasa bulan Syawal enam hari, dan meningkatkan kebaikan-kebaikan yang sudah diperoleh selama ramadan. Sehingga Syawal disebut juga sebagai bulan peningkatan.
Sebagai budaya, idul fitri dimaknai sebagai momen saling memaafkan dan silaturahmi. Oleh sebab itu, setelah salat id, masyarakat melanjutkan dengan kegiatan meminta maaf dan silaturahmi kepada orang tua, para sesepuh, antar keluarga, antar tetangga, teman bermain, teman sekantor, sampai antar anggota masyarakat.
Padahal, saling memaafkan dan silaturhmi mempunyai konsep masing-masing. Namun, pada bulan Syawal, kedua hal tersebut dianggap mempunyai makna yang sama.Â