Mohon tunggu...
cin ocin
cin ocin Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa UIN Salatiga

Tetaplah terbit walau yang kita sinari tangine kawanenπŸŒ₯️

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Agama di Sudut Jalan

16 Maret 2023   21:40 Diperbarui: 16 Maret 2023   21:54 85
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Siang itu, terik matahari menjadikan jalanan kartini terlihat sangat panas, gerombolan anak jalanan sedang begitu asyik berdiskusi. Saya kira itu hanya menjadi kumpulan orang-orang yang hanya berbicaΒ ngalor-ngidul, Β ternyata bukan, prasangka saya salah kaparah.

Sudut kumuh nan muram itu adalah ruang kemanusiaan, ya, ruang kemanusiaan. Selembaran yang ditempel pada kardus bekas itu menandakan rasa kemanusiaan yang dimiliki oleh anak-anak jalanan. Dikawasan perempatan jetis yang terbilang padat, sepertinya menjadi tempat populer bagi pengamen untuk meraup rezeki, apalagi waktu sore, lalu-lalang kendaraan masyarakat pulang kerja adalah peluang mendapatkan rupiah bagi para pengamen.

Sembari menungu 60 detik yang cukup membosankan, saya sedikit berbincang dengan salah satu pengamen,

"mau ada acara apa mas kok buka open donasi?"Β tanya saya agak sedkit curiga.

"ngumpulin dana buat acara ramadhan" jelas pengamen.

"loh wong gak pernah sholat kayak gitu kok mau buat acara ramadhan"Β guman dalam hati kotor saya ini.

sebagaian dari kita mengangap anak jalanan yang hidupnya ora cetho adalah sampah masyarakat, tak memiliki masadepan, yang mengantungkan hidup mereka pada hasil ngamen di pingar jalan. Mereka hidup dari tempat kumuh ke tempat kumuh lain, tak jarang dari satu kota ke kota lain. kehidupan yang kental akan mabuk-mabukan, seks bebas, bahakan obat-obatan terlarang, mungkin itu yang ada dibenak dari sebagian kita.

Namun, Β kali ini, mereka seakan-akan membangunkan saya dari tidur yang amat panjang. Seolah-olah mereka mengatakan bahwa berbuat baik tak harus beragama. Mereka membantu sesama manusia tak mengharapkan pahala, lebih-lebih berharap masuk surga.

Ah, berbeda sekali dengan yang saya lakukan selama ini, mereka yang tidak sholat, tidak sembahyang atau tidak melakukan peribadatan ternyata lebih memiliki rasa kemanusiaan. Bahkan sekalipun mungkin saja mereka merasa tidak beragama.

Ya, dari sudut jalan yang kumuh dan muram itu, saya melihat agama didalamnya. Mereka memberikan pelajaran yang luar biasa besar, kehidupan mereka yang kita anggap nihil moral itu malah memberikan kebaikan bagi kehidupan manusia lainya. Walaupun hal itu mungkin sangat kecil, mereka memiliki rencana berbagi sewaktu bulan Ramadhan, bulan yang bagi umat muslim ini sangatlah istimewa. Mereka tidak berpuasa, namun mereka memiliki simpati kepada orang-orang yang melakukanya.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun