Mohon tunggu...
Cindy Carneta
Cindy Carneta Mohon Tunggu... Mahasiswi Psikologi

Saya merupakan seorang mahasiswi jurusan Psikologi yang sedang menempuh pendidikan S1 pada sebuah universitas yang terletak diwilayah Jakarta Barat, yakni BINUS University. Email: cindy.carneta@binus.ac.id

Selanjutnya

Tutup

Love Pilihan

Bagaimana Psikologi Memandang Ghosting hingga Jenis Coping Strategy Kaesang Pangarep

9 Maret 2021   11:59 Diperbarui: 9 Maret 2021   13:08 2149 25 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Bagaimana Psikologi Memandang Ghosting hingga Jenis Coping Strategy Kaesang Pangarep
Gambar Nadya Arifta, Felicia dan Kaesang saat di Singapura (dok: TikTok)

"The important thing to remember is that when someone ghosts you, it says nothing about you or your worthiness for love and everything about the person doing the ghosting. It shows he/she doesn't have the courage to deal with the discomfort of their emotions or yours, and they either don't understand the impact of their behavior, or worse don't care."

JATUH cinta dan menjalin sebuah hubungan romantis dengan seseorang yang kita cintai mungkin akan memberikan perasaan bahagia tersendiri bagi diri kita. Maslow dalam hierarchy of needs menjelaskan bahwa cinta dan membangun hubungan romantis merupakan salah satu aspek yang terkandung di dalam love and belonging. Cinta akan memotivasi perilaku manusia dan berfungsi untuk menghindari diri dari perasaan kesepian, depresi atau kecemasan (Cherry, 2020).

Cinta itu buta. Begitulah ungkapan yang sering kali kita dengar. Mereka yang menjatuhkan cintanya kepada seseorang sering kali melupakan sebuah fakta bahwa jatuh itu sakit dan menjatuhkan hati pada seseorang yang salah akan membuat cinta jauh semakin menyakitkan hati.

"Ngebet besanan dengan keluarga Presiden ya, Bu?" tulis seorang netizen melalui akun media sosialnya.

1825 hari bukan lah waktu yang singkat. 5 tahun adalah kurun waktu yang cukup lama dalam menjalin sebuah hubungan romantis. Percayalah bahwa seseorang seharusnya tidak dapat langsung menyimpulkan suatu hal tanpa membutikannya terlebih dahulu. Harus berada di posisi yang sama atau setidaknya serupa agar dapat merasakan apa yang orang lain rasakan. Jadi, jangan sampai menghakimi seseorang jika tidak pernah berada di posisinya. Sebab, kita tidak akan pernah mengerti dan tahu betul apa yang orang tersebut rasakan sebenarnya.

Selama beberapa bulan menjalani hari demi hari tanpa sebuah kepastian dan kejelasan akan terasa begitu berat dan melelahkan, percayalah. Saya dapat berkata demikian, sebab saya pernah berada di posisi yang serupa dengannya dan hal tersebut terasa begitu mengecewakan hati dan menguras emosi negatif.

Menjalin hubungan romantis (pacaran) dan kemudian putus memang merupakan suatu hal yang biasa. Saya tahu itu. Namun menurut saya, mengakhiri sebuah hubungan dengan cara menghindar dan menghilang dengan alasan yang kurang atau bahkan tidak jelas bukanlah hal yang pantas untuk dilakukan.

"Jika kamu memulainya dengaan baik, maka kamu juga harus mengakhirinya dengan baik dan pantas. Perlakukan orang lain layaknya kamu ingin diperlakukan kelak."

Pada hakikatnya seorang manusia memiliki afeksi yang membuatnya memiliki kecenderungan dalam memandang sebuah hal atau kasus tertentu, baik itu sifatnya positif ataupun negatif (Gonzlez, Barrull, Pons & Marteles, 1998) dan begitupun saya sebagai seorang manusia dalam memandang kasus ini.

Ilustrasi seorang pria yang meninggalkan wanita (dok: blog.gladgirl.com)
Ilustrasi seorang pria yang meninggalkan wanita (dok: blog.gladgirl.com)
Sebelum melanjutkan tulisan ini, saya begitu penasaran akan suatu hal. Kira-kira apa yang terlintas di dalam pikiran dan benak para pembaca saat mendengar, melihat atau membaca kata "ghosting"?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN