Mohon tunggu...
Hukum

Pray for Palestine

15 Mei 2019   20:52 Diperbarui: 15 Mei 2019   20:59 0 0 0 Mohon Tunggu...

1. PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa, yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga makala berjudul "Pray for Palestine" dapat terselesaikan tepat waktu.

Penyusunan makalah "Pray for Palestine" ini merupakan salah satu agenda penilaian mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaaran kelas X SMA Kolese Loyola. Makalah ini memiliki misi untuk memandang permasalahan -- permasalahan yang terjadi di dunia dari segi kemanusiaan. Hal ini menumbuhkan kesadaran akan pentingnya toleransi dan penghayatan terhadap filosofi Bhinneka Tunggal Ika.

Konflik Israel-Palestina ini bukanlah sebuah konflik dua sisi yang sederhana, seolah-olah seluruh bangsa Israel (atau bahkan seluruh orang Yahudi yang berkebangsaan Israel) memiliki satu pandangan yang sama, sementara seluruh bangsa Palestina memiliki pandangan yang sebaliknya. Di kedua komunitas terdapat orang-orang dan kelompok-kelompok yang menganjurkan penyingkiran teritorial total dari komunitas yang lainnya, sebagian menganjurkan solusi dua negara, dan sebagian lagi menganjurkan solusi dua bangsa dengan satu negara sekuler yang mencakup wilayah Israel masa kini, Jalur Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem Timur.

Oleh karena itu, tujuan penulisan makalah berjudul "Pray for Palestine" sebagai berikut:
1.Berpikir secara rasional, kritis, kreatif, dan etis, serta memiliki rasa toleransi antar umat beragama yang dijiwai oleh nilai -- nilai pancasila khususnya sila ke-2 dan semangat Bhinneka Tunggal ika.
2.Berpartisipasi secara aktif dalam memperjuangkan hak asasi manusia, sesuai harkat dan martabatnya sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang Maha Esa.
3.Meningkatkan kesadaran akan pentingnya sikap saling menghargai antar ras, suku, agama, dan antargolongan, terutama di sekolah dan masyarakat.
Adapun rumusan masalah dari penulis untuk menanggapi artikel "Pray for Palestine" ini:
1.Mengapa toleransi beragama semakin pudar sekarang ini?
2.Apa kolerasi antara toleransi beragama dengan hak asasi manusia?
3.Apa dampak dari rendahnya toleransi beragama untuk jangka pendek dan jangka panjang?
4.Bagaimana solusi untuk mengubah cara pandang orang supaya bisa menghargai agama lain dan menciptakan kerukunan antarumat beragama?
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Untuk kritik, masukan, dan saran yang sangat membangun diharapkan bagi perbaikan dan penyempurnaan buku. Akhirnya, penulis mengucapkan terimakasih kepada pihak pihak yag telah berpartisipasi dalam penulisan makalah ini. Semoga makalah ini dapat menjadi referensi pembelajaran khususnya di Indonesia.
2. ISI
2.1 Artikel berita
Jakarta, CNN Indonesia -- Palestina menuding Israel berupaya menyeret konflik politik keduanya yang telah terjadi selama puluhan tahun menjadi konflik agama.

Hal itu, menurut Menteri Luar Negeri Palestina Riad Al Malki, didasari dari langkah Israel yang terus berupaya mengubah status quo Masjid Al Aqsa di Yerusalem dengan membatasi warganya yang ingin beribadah di tempat suci umat Islam itu. "Israel mencoba mengubah status quo Al-Aqsa dengan mengizinkan warganya mengunjungi kompleks suci bagi umat Muslim tersebut. Mereka juga memutuskan memberlakukan waktu khusus beribadah bagi warga Muslim dan Yahudi," kata Riad saat mengisi kuliah umum di Sekolah Kajian Strategis dan Global Universitas Indonesia, Jakarta, Senin (15/10).

"Apa artinya? Ini berarti konflik Palestina yang telah berlangsung bertahun-tahun bergeser dari semula konflik politik menjadi konflik agama. Israel ingin mengubah konflik ini menjadi konflik agama." Pembatasan akses beribadah ke Al Aqsa diberlakukan Israel sekitar pertengahan 2017 lalu. Pengetatan keamanan itu dilakukan Tel Aviv menyusul bentrokan yang menyebabkan dua tentara Israel tewas tertembak pada 14 Juli 2017.

Otoritas Israel sempat memasang detektor logam dan membatasi akses masuk bagi warga Muslim ke salah satu masjid tersuci itu akibat insiden tersebut. Riad mengatakan pembatasan beribadah masih berlaku hingga saat ini, di mana Israel membagi waktu-waktu tertentu untuk umat Muslim dan umat Yahudi beribadah di kompleks Al Aqsa secara terpisah.

Menurut Riad, Israel melarang kaum Muslim memasuki Al-Aqsa seteiap hari sejak pukul 07.00-11.00 pagi waktu lokal dan pukul 13.00-13.30. Sebagai gantinya, Israel memperbolehkan umat Yahudi dan warganya memasuki Al-Aqsa pada jam-jam tersebut. "Ini artinya, konflik bukan lagi semata-mata terkait Palestina dan Israel saja, tapi ini juga konflik di antara Yahudi dan Muslim, termasuk Anda semua, Muslim di Indonesia," kata Riad. "Jika konflik ini sudah berubah jadi konflik agama, semua orang terlibat dalam konflik ini. Israel menginginkannya, mereka ingin kalian semua ikut menjadi bagian dalam konflik ini. Ini tantangan bagi seluruh umat Muslim di dunia termasuk Indonesia."

2.2 Tanggapan

Toleransi secara bahasa berasal dari bahasa latin "tolerare", toleransi berarti sabar dan menahan diri. Toleransi juga dapat berarti suatu sikap saling menghormati dan menghargai antarkelompok atau antarindividu dalam masyarakat atau dalam lingkup lainnya. Sikap toleransi dapat menghindari terjadinya diskriminasi, walaupun banyak terdapat kelompok atau golongan yang berbeda dalam suatu kelompok masyarakat.
Toleransi beragama kini menjadi pusat perhatian di dunia. Nyawa sudah tidak berarti lagi bila sekolompok orang fanatis menganggap agamanya lah yang paling benar. Mereka lupa bahwa semua agama pada dasarnya mengajarkan kebaikan dan mereka berasal dari satu Tuhan. Tidak ada satu pun manusia yang dapat hidup sendiri di dunia ini, satu dengan yang lainnya saling membutuhkan, memerlukan, melengkapi, dan memenuhi seputar kebutuhan hidupnya. Adanya konflik hanyalah merupakan perbedaan fokus dan pemahaman manusia.
Bila dikaitkan dengan artikel tersebut, agama dijadikan tameng dalam konflik politik. Perbedaan budaya dan ajaran membuat mereka "anti" satu sama lain dan tidak pernah tercetus kata "damai". Dan yang paling diprihatinkan adalah, agama dijadikan sebagai tameng dalam berpolitik. Agama adalah suatu hal yang sensitif yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan. Kita semua tahu bahwa apabila agama dicampurkan ke dalam politik maka hanya satu yang diincar yakni tahta dan kuasa.
Konflik perebutan wilayah dua bangsa tidak akan selesai apabila mereka saling mengajukan ajaran agama mereka. Seperti pada artikel tersebut, Bangsa Israel melarang warga Palestina untuk beribadah di masjid. Menurut saya, hal ini sangat tidak adil bagi warga Palestina karena mereka juga memiliki kewajiban untuk berdoa sesuai syariatnya, sangat tidak adil bila Israel ingin meng-Yahudi-kan semua orang dengan mengganti status masjid dan melarang orang beribadah.
Setiap manusia berhak untuk hidup dan merdeka. PBB juga telah menawarkan solusi untuk berdamai dengan pembagian wilayah secara adil. Namun, Palestina menolak untuk berbagi wilayah dan akhirnya terjadi perang yang menewaskan ribuan orang dan menghancurkan banyak bangunan penting.
Tanah Palestina kini menjadi medan perang bagi warganya sendiri. Suara ledakan bom tak henti hentinya menghantui siang malam warga Palestina. Warga yang berdemo akan ditembak hidup hidup. Kini mereka tidak bisa hidup tenang. Banyak anak anak yang sudah kehilangan orang tuanya. Mereka kehilangan haknya sebagai anak anak. Peristiwa perang tersebut akan membekas hingga mereka dewasa nanti.
Selain itu, hal ini berdampak pada psikis anak. Pengalaman pahit yang pernah mereka alami saat masih kecil akan membekas dan menjadi trauma bagi diri mereka. Anak anak merupakan aset bangsa yang harus dilindungi, mereka adalah benih benih yang akan berjuang di masa depan untuk memperjuangkan bangsa. Tetapi di sana, sepertinya anak anak Palestina dianggap musuh. Mereka tidak hanya kehilangan orang tuanya, tetapi juga masa depan mereka. Cita cita yang mereka impikan sejak kecil, kini hanya bisa dinikmati dalam tidur malam dan ketika mereka bangun, hanya ada debu tanah dan suara dentuman bom.
Hak hidup sebagai hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun dalam perspektif hukum tata negara dan hukum internasional. Hak untuk hidup adalah suatu prinsip moral yang didasarkan pada keyakinan bahwa seorang manusia memiliki hak untuk hidup dan tidak seharusnya dibunuh oleh manusia lainnya. Dalam konflik ini, diperlukan adanya sikap saling menghargai antara kedua belah pihak. Mereka adalah bangsa, dan yang menjadi motif konflik ini adalah perebutan tanah atau wilayah. Meskipun mereka terlahir dan dibesarkan dengan agama dan kepercayaan yang berbeda, namun sebenarnya mereka dapat hidup bersama, di atas tanah yang sama, dan beratap langit yang sama.
Bila dikaitkan dengan konflik yang terjadi di Indonesia, negara kita juga mengalami konflik agama, salah satunya seperti pengeboman di tiga gereja di Surabaya. Umat yang sedang beribadah dikejutkan dengan aksi teror yang berujung kematian. Hal ini sangat disayangkan karena dalam satu negara yang sama, berkebangsaan yang sama saja tega membunuh. Hal ini tentu saja tidak sesuai dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila sila ke-2, di mana mengajarkan meskipun berbeda beda namun tetap satu dan juga tidak merenggut hak asasi manusia. Pada UUD 1945 pasal 28I ayat (1) menyatakan bahwa hak untuk beragama merupakan hak asasi manusia. Sehingga dengan menghalangi umat lain untuk beribadah bahkan sampai melenyapkan nyawa seseorang merupakan sebuah kejahatan kemanusiaan yang biadab.
Satu hal yang pasti dari semua agama yang ada adalah pesan perdamaian. Tidak ada satupun agama yang memerintahkan untuk memusnahkan agama lain. Hidup beragama memang diperintahkan untuk saling menghargai dan memahami perbedaan dengan kepercayaan masing-masing. Inilah yang disebut toleransi antar umat beragama.
Akhirnya, karena masing-masing kita beragama, maka marilah kita taat dengan perintah agama masing-masing. Patuhi apa yang dilarang, kerjakan apa yang diperintahkan, dan hidup damailah bersama sebagai Bangsa Indonesia yang beragama.
3. KESIMPULAN
Toleransi agama kini menjadi keprihatinan warga dunia. Pada dasarnya, semua agama mengajarkan tentang kebaikan dan tidak ada satu agama pun yang mengajarkan umatnya untuk saling membunuh satu sama lain. Namun, agama kini mendominasi dunia politik yang membuat banyak orang salah kaprah dalam menilai sesuatu. Dunia politik dalam realistisnya sangat bertentangan dengan agama, di mana dalam politik yang diincar adalah kekuasaan sedangkan agama menebarkan kasih dan perdamaian. Tidak ada satupun agama yang memerintahkan untuk memusnahkan agama lain. Maka dari itu, sikap toleransi beragama harus dijunjung tinggi supaya tercipta kerukunan antar umat beragama.
4. REFLEKSI
Bila dikaitkan dengan semangat 4C (Concience, Compassion, Competence, dan Commitment) tentu saja konflik Israel dan Palestina ini bertentangan dengan 4C. Membunuh sesama satu sama lain melanggar hukum kasih Allah. Sebagai siswa yang berpendidikan, kita mengetahui bawasannya setiap orang berhak untuk hidup dan merdeka dan tidak ada satu orang pun yang boleh menghalangi hak asasi manusia untuk hidup. Saat peperangan terjadi, rasanya nyawa tidak ada harganya sama sekali.
Sebagai orang yang mengimani Kristus selayaknya menghargai hidup orang lain bahkan saling membantu yang kesusahan. Yesus sendiri mengajarkan kedamaian dan sikap rendah hati. Pada hakekatnya, hati nurani selalu mengarahkan kepada suatu kebaikan, bukan membunuh dan melukai hati orang lain.
Compassion erat kaitannya dengan toleransi dan kali ini difokuskan pada masalah Israel -- Palestina. Mereka merupakan bangsa yang saling berebut tanah bagi bangsanya. Seperti yang dituturkan di atas bahwa mereka dapat hidup bersaudara apabila saling menerima dan mau berbagi. Dari sisi lain, compassion juga bisa dilihat dari bantuan yang turun untuk orang Palestina dari berbagai belahan dunia.
Sebagai siswa SMA Kolese Loyola yang berintegritas, kita selayaknya berjuang dan proaktif dalam memperjuangkan hak asasi manusia sesuai dengan nilai nilai yang ditanamkan dalam diri kita, berdasar pada semboyan Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila khusunya sila ke-2 yang berbunyi "Kemanusiaan yang adil dan beradab".
Refleksi mengenai concience, compassion, dan competence tadi tidak akan terwujud secara nyata apabila tidak disertai commitment. Komitmen merupakan hal yang menyatukan 3C tersebut menjadi nyata, untuk bersama sama mewujudkan perdamaian dunia dan keadilan bagi seluruh rakyat. Hal tersebut dapat diwujudkan secara nyata dalam hal hal kecil seperti menghargai teman yang sedang berpuasa di sekolah dengan tidak makan dan minum di depannya atau meminta ijin terlebih dahulu, tidak memilih milih dalam berteman, menghargai saat merayaan ekaristi meskipun kita beragama lain, dan seterusnya. Dengan begitu kita dapat menyalurkan benih benih kasih bagi orang lain.

DAFTAR PUSTAKA

https://www.cnnindonesia.com/internasional/20181015192250-120-338684/palestina-tuduh-israel-alihkan-isu-wilayah-jadi-konflik-agama
https://id.wikipedia.org/wiki/Konflik_Israel%E2%80%93Palestina
https://id.wikipedia.org/wiki/Toleransi


MAKALAH PKN
PRAY FOR PALESTINE

 

ANDRIANY CINDY SITIO
XB/04

SMA KOLESE LOYOLA
Jalan Karanganyar nomor 56 Semarang