Mohon tunggu...
Cicik nurliyo Intan oktavia
Cicik nurliyo Intan oktavia Mohon Tunggu... Mahasiswa

singlelillah

Selanjutnya

Tutup

Hukum

Tikus-tikus Berdasi

9 Oktober 2019   18:54 Diperbarui: 9 Oktober 2019   19:00 0 0 0 Mohon Tunggu...

Kali ini berbicara dengan jabatan dan kepuasan,kedua hal itu selalu berhubungan dan selalu berujung dengan sebab akibat.kita ambil contoh seperti seseorang yang menginginkan sesuatu, jika sudah mendapat sesuatu keinginan yang dianggap cukup maka manusia tersebut pasti menginginkan sesuatu lagi yang lebih karena pada dasarnya manusia tidak pernah ada yang namanya kepuasan.

Manusia selalu ingin tambah dan bertambah untuk segala hal dan berbagai bidang, apalagi dikehidupan masyarakat yang semakin modern dengan kehidupan ekonomi yang serba mahal, apapun akan dilakukan oleh seseorang untuk mencukupi kebutuhan dan memenuhi keinginannya. Meskipun keinginannya sudah terpenuhi tetap saja seseorang tersebut tidak akan pernah berhenti untuk mencapai keinginannya sampai ujung kepuasannya tercapai, padahal pada aslinya manusia tidak memiliki rasa kepuasan yang cukup.

Dilihat dari kacamata masyarakat,banyak tikus-tikus berdasi yang segampangnya memanfaatkan jabatannya tanpa melihat sisi kalangan bawah padahal tugas dari tikus-tikus berdasi adalah mengayomi masyarakat tanpa menyulitkan atau melemahkan masyarakat. 

Pada saat ini banyak para tikus-tikus berkeliaran dengan seenaknya sendiri, mereka mengambil haknya orang tanpa memikirkan akibatnya. Dalam hal ini kalangan bawah merasa dirugikan dengan adanya  perilaku yang dilakukan oleh tikus-tikus berdasi tersebut. Karena dengan adanya sikap kekuasaan itulah membuat mereka berfikir semuanya akan berjalan dengan lancar sesuai dengan keinginannya tanpa perlu takut konsekuensi perbuatan tersebut. 

Dengan kata lain karena kuatnya hati menjadikan mereka memiliki sifat serakah. Sudah sejak lama dengan kita memerangi tindakan dari tikus-tikus berdasi ini, karena belum ada yang dapat membongkar persembunyian mereka. 

Namun dengan kejujuran dan rasa tidak pernah takut mampu membrantas mereka semua sedikit demi sedikit. Jika saja semua pemimpin negri mempunyai hati seperti itu, maka tikus-tikus pasti akan musnah semua dalam hitungan kurang dari satu periode satu jabatan.

Tikus-tikus berdasi itu sulit diberantas karena kekuasaan dan oknum yang membantunya pun memiliki kekuasaannya juga. Maka tidak heran setelah sekian tahun, baru akhir-akhir ini tercium semua kebusukan para tikus-tikus berdasi namun tak menutup kemungkinan ada yang bermuka dua untuk menutupi keburukannya atau rekan-rekan seperjuangannya.

Hukum sudah ditegakkan tetapi keadilan masih dipertanyakan, dimana pada saat ini hukum bagi para tikus-tikus berdasi itu masih sangat perlu di tanyakan karena hukuman saat para tikus-tikus tersebut tertangkap hukuman bagi mereka tidak adil karena banyak oknum-oknum dalam yang membantu atau menyelematkan tikus-tikus tersebut, memang benar mereka tertangkap dan dimasukkan ke dalam perangkap kandangnya tetapi dalam perangkap tersebut mereka mendapat fasilitas seperti hotel berbintang.

Dalam hal ini, diperlukan pembelajaran mendasar untuk para tikus-tikus berdasi maupun calon pemimpin bangsa untuk menanamkan jiwa nasionalisme yang tinggi, rasa mengayomi, toleransi, dan rendah hatilah yang mampu mewujudkan seorang pemimpin yang bijaksana dan memiliki rasa kekeluargaan yang tinggi terhadap rakyat-rakyatnya.