Mohon tunggu...
Christina Budi Probowati
Christina Budi Probowati Mohon Tunggu... Seorang ibu rumah tangga yang memiliki hobi menulis di waktu senggang.

Hidup adalah kesempurnaan rasa syukur pada hari ini.... Karena esok akan menjadi hari ini....

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Pentingnya Pendidikan Keputrian untuk Anak Perempuan

29 April 2021   14:24 Diperbarui: 30 April 2021   09:55 1041 48 12 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pentingnya Pendidikan Keputrian untuk Anak Perempuan
Ilustrasi anak-anak sedang belajar menari. (Foto: KOMPAS.COM/FABIANUS JANUARIUS KUWADO)

Kekhawatiran terhadap peningkatan laju pernikahan dini telah berlangsung sekian lama. Dua puluh enam tahun yang lalu, ketika penulis bergabung dalam Pramuka Satuan Karya Kencana Kabupaten Malang, upaya menekan laju pernikahan usia dini pun juga telah dilakukan melalui berbagai program penyuluhan kepada masyarakat. 

Terutama mengenai dampak negatif dari pernikahan dini, yang sangat berkaitan erat dengan ketahanan dan kesejahteraan sebuah keluarga.

Pada tahun 2010 ketika bermukim di lereng Gunung Sakya, Kabupaten Semarang, penulis pun ternyata masih mendapati peningkatan kasus pernikahan dini di tempat ia tinggal.

Dari keprihatinan yang mendalam, maka pada tahun 2012 dengan mengusung akar budaya Jawa ikhlas tanpa pamrih, sebuah sanggar tari yang mengedepankan pendidikan karakter anak pun akhirnya hadir mengisi ruang kosong di lereng Gunung Sakya dan menyatu dengan indahnya lanskap pegunungan.

Bila dua puluh enam tahun silam sasaran untuk menekan laju pernikahan dini adalah kepada orang tua agar memiliki kesadaran untuk tidak menikahkan anaknya di usia muda, namun pada tahun 2012 sasaran dari sanggar tari ini adalah langsung kepada anaknya, dikarenakan pernikahan dini di masa sekarang terjadi pada anak-anak pelajar SMP dan SMA.

Fotografer: Evilia Ichsanti
Fotografer: Evilia Ichsanti

Sanggar Tari yang Mengedepankan Pendidikan Karakter Anak

Sanggar tari yang mengedepankan pendidikan karakter pada anak-anak didiknya ini memang tergolong unik dan berbeda dengan sanggar-sanggar tari lain di sekitarnya.

Sanggar ini bahkan tidak pernah membuka pendaftaran murid baru, dan datangnya murid baru bagi sanggar ini pun dianggapnya sebagai sebuah takdir, karena mereka yang datang, sebagian besar memang mendapatkan informasi keberadaan sanggar ini dari tutur tinular

Tidak ada penunjuk arah dari gang menuju lokasi sanggar ini.  Jadi, sebenarnya memang alamlah yang mengatur siapa saja yang datang pada sanggar ini.

Seluruh kegiatan menari di sanggar ini memang sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Maka, bagi murid baru yang datang dan belajar menari di sanggar ini dengan tujuan hanya untuk pentas menari, pamong sanggar akan langsung mengarahkan untuk bergabung di sanggar lain yang lebih sesuai.

Tujuan/prioritas sanggar ini memang bukan untuk membuat anak didiknya pintar menari, melainkan untuk bersama-sama dapat bersyukur kepada Sang Pencipta melalui kegiatan berlatih menari.

Beberapa tata krama di sanggar ini pun dikondisikan dengan sedemikian rupa. Apabila sudah mengenakan jarik, kendit dan sampur, anak-anak diarahkan untuk berjalan dengan perlahan-lahan sesuai dengan pakaian yang dikenakan. Bertutur kata lembut dan menjaga sopan santun.

Selama berada di sanggar, anak didik sanggar pun tidak diperkenankan saling menilai satu sama lain, apakah itu tentang gerakan tarian temannya atau hal lainnya, dengan memberikan pemahaman dan kesadaran bahwa apabila kita berada di posisi orang yang kita nilai, kita juga belum tentu bisa menjadi lebih baik.

Tak hanya itu, pihak sanggar pun juga mengondisikan anak-anak didiknya untuk tidak memilih-milih teman saat beristirahat latihan, dengan mengajak seluruh anak-anak didiknya duduk dalam lingkaran besar, bercanda bersama, beristirahat sambil minum air putih.

Dan sebelum latihan berakhir, ritual mengucapkan maaf dan terima kasih dengan bersalaman wajib dilakukan, untuk saling memaafkan apabila selama latihan ada perkataan dan perilaku yang tidak berkenan di hati, dan sekaligus menyampaikan terima kasih karena telah berbagi kebahagiaan selama latihan. Intinya, di sanggar ini kebersamaan, toleransi dan keikhlasan dibangun dengan suasana yang menyenangkan.

Murid di sanggar ini memang silih berganti dari tahun ke tahun, dan itu bisa dimaklumi bahwa memang tidak mudah bagi seorang anak atau remaja putri bisa bertahan belajar menarikan tarian Jawa klasik, yang membutuhkan waktu yang tidak singkat, untuk menguasai gerak dasar tarian dengan benar, dan mampu memberikan roh pada tarian tersebut.

Fotografer: Keristinayu
Fotografer: Keristinayu

Di sanggar ini, pementasan tari secara berkala  yang bertujuan untuk memacu semangat berlatih menari anak didik sanggar seperti yang dilakukan sanggar-sanggar tari lain pada umumnya tidaklah menjadi prioritas, karena sanggar ini memang lebih fokus pada pendidikan karakter anak melalui konsep menari untuk Tuhan.

Sanggar yang mengedepankan pendidikan karakter pada anak ini memang selalu memberikan materi Pendidikan Moral Pancasila sebelum latihan rutin dimulai setiap minggunya. Termasuk materi budi pekerti dengan dasar ikhlas tanpa pamrih.

Filosofi Beksan

Dalam menarikan Tari Jawa Klasik, istilah beksan memang tidak bisa dilepaskan begitu saja karena ia merupakan roh dalam sebuah tarian Jawa klasik.

Beksan berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti tarian dan juga memiliki makna spiritual yang tinggi berdasarkan asal usul katanya (kerata basa) yakni ambeg (napas) dan esa (tunggal), yang berarti bahwa seluruh gerak wiraga dalam tarian dan perilaku keseharian seorang penari hendaknya ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Sebelum pandemi menyapa, sanggar tari ini telah konsisten menempatkan kembali esensi Tari Jawa Klasik sebagai tuntunan bukan sebagai tontonan selama lebih dari delapan tahun.

Maka, dari balik dinginnya kabut malam, setiap kali mengadakan pementasan, para hadirin yang turut menyaksikan tarian Jawa klasik di sanggar ini senantiasa diajak ikut serta melakukan gerakan sembahan mengikuti sang penari melakukan gerakan sembahan.

Sejatinya seni memanglah sebuah persembahan, maka baik yang menarikannya dan yang menyaksikan tarian tersebut, sesungguhnya adalah satu kesatuan dalam sebuah aktivitas spiritual melalui seni tari, sebagai bentuk persembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karena kata seni sendiri, sesungguhnya berasal dari bahasa Sanskerta yakni sani yang artinya adalah persembahan.

Peduli dengan Pendidikan Perempuan

Lahir dari bentuk keprihatinan melihat peningkatan jumlah pernikahan dini yang terjadi delapan tahun silam di tempat sanggar ini berada, maka latihan rutin sanggar tari ini pun langsung difokuskan hanya untuk anak-anak perempuan dan remaja putri.

Salah satu upaya untuk menekan laju pernikahan dini yang dilakukan sanggar ini adalah dengan memberikan pemahaman kepada anak didik sanggarnya, khususnya bagi yang remaja, bahwa setelah mereka mendapatkan menstruasi, secara fisik sebenarnya tubuh perempuan sudah bisa bereproduksi (mengandung), meskipun secara mental sebenarnya belumlah siap.

Melalui pendidikan keputrian, sanggar tari ini berharap agar anak-anak didiknya dapat menjaga kesuciannya sampai mereka menikah kelak, bahkan disarankan untuk tidak pacaran (memiliki teman dekat laki-laki) kalau belum siap menikah. 

Selaras dengan syarat utama untuk menarikan Tari Jawa Klasik sebagai tuntunan atau dengan konsep beksan, yakni penarinya haruslah masih perawan (suci).

Maka, sebenarnya yang diutamakan dalam pendidikan perempuan zaman sekarang adalah karakter yang kuat, agar mereka tidak terombang-ambing ke dalam arus perkembangan zaman yang semakin pesat saja.

Fotografer: Keristinayu
Fotografer: Keristinayu

Meskipun tidak dipungut biaya atau gratis, sanggar ini selalu memberikan pelayanan secara profesional baik untuk anak didiknya sendiri maupun murid tamu dari mancanegara, yang ingin mempelajari seni dan budaya Jawa. 

Ini sekaligus untuk mengembalikan eksistensi akar budaya bangsa kita khususnya Jawa yakni ikhlas tanpa pamrih yang sudah bisa dikatakan hilang.

Pendidikan Keputrian Ketika Anak Perempuan Beranjak Remaja 

Remaja adalah suatu fase pertama pertumbuhan individu sesudah meninggalkan masa anak-anak menjelang masa dewasa tetapi belum mencapai kematangan jiwa dan merupakan suatu bentuk kehidupan baru bagi perempuan.

Pada fase ini, tentu akan timbul banyak pertanyaan di benak mereka, atas perubahan fisik maupun kejiwaan yang terjadi pada diri mereka. Apalagi pada saat pertama kali mereka mendapatkan menstruasi.

Awalnya mungkin cukup mengagetkan, namun akhirnya bisa dipahami ketika salah seorang anak didik sanggar ini mengatakan bahwa orang tuanya belum mengetahui  bila ia sudah mendapatkan menstruasi selama satu tahun.

Bisa kita bayangkan dalam waktu yang lama, ia harus menyediakan pembalut untuk dirinya sendiri, bisa jadi dengan menyisihkan uang saku sekolahnya. Belum lagi apakah ia tahu bagaimana cara membersihkannya.

Apakah hal itu terjadi dikarenakan tidak adanya keterbukaan di antara orang tua dan anak? Ternyata jawabannya tidak sesederhana itu, terlalu terbuka terkadang malah membuat nyali menjadi ciut untuk menyampaikan hal-hal yang bersifat sensitif dan baru bagi remaja putri. Dan itulah yang terjadi pada anak remaja tersebut.

Sebagian anak-anak di sanggar ini memang ada yang bisa dengan mudah membicarakan hal tersebut dengan orang tuanya, namun ada juga yang tidak mudah menyampaikan kepada orang tua mereka, dengan berbagai alasan seperti malu dan secara mental mereka masih membutuhkan perjuangan yang panjang. Dan di sinilah keberadaan pamong sanggar untuk memberikan masukan yang positif dan dukungan moral.

Di sanggar tari ini berbagi kisah dengan berbincang ringan saat pertama mendapatkan menstruasi dengan dipandu oleh seorang pamong sanggar dilakukan secara berkala bila dipandang perlu untuk mengupas tuntas tentang apa itu menstruasi.

Apa yang pertama harus dilakukan saat pertama mendapatkan menstruasi? Mengapa harus disampaikan kepada orang tua? Bagaimana menstruasi itu bisa terjadi? Bagaimana cara membersihkannya dan bagaimana menjaga tubuh tetap sehat saat mendapatkan menstruasi?

Remaja putri sebaiknya memang mendapatkan informasi yang tepat mengenai hal tersebut. Bila tidak bisa membicarakan kepada orang tuanya, lalu ke mana mereka akan mencari tahu tanpa ada orang dewasa yang mendampinginya? 

Apalagi di zaman yang mudah mendapatkan banyak informasi seperti saat ini, informasi yang tidak tepat tentu bisa berdampak negatif bagi anak remaja kita.

Pendidikan Karakter Penari Tari Jawa Klasik 

Tak hanya menghafal gerakan dalam tarian saja, filosofi tarian juga didalami di sanggar ini. Dan dengan konsep pembelajaran yang saling melengkapi, yang berarti guru adalah murid dan murid adalah juga guru, pendidikan karakter perempuan Jawa pun dibangun di sini.

Beksan memang tak hanya bicara gerak tubuh, namun juga melibatkan olah rasa, karena di dalam menarikan tarian Jawa klasik memang perlu penjiwaan untuk mengembalikan konsep menari pada esensinya, yakni menari sebagai persembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Sawiji, Greged, Sengguh dan Ora Mingkuh dalam Falsafah Joged Mataram pun dipelajari oleh anak-anak sanggar ini dan merupakan bagian dari pendidikan budi pekerti serta proses membangun karakter sebagai perempuan Jawa, dengan belajar mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Demikianlah karakter dari penari Tari Jawa Klasik, meskipun ia tidak sedang menari, ia bisa dikenali dari kelembutannya saat bertutur kata, perilakunya yang santun dan juga gerak-geriknya yang gemulai. Dan itu adalah buah dari pendalaman (pendidikan) yang tidak instan.

Ikhlas Tanpa Pamrih

Sesuai dengan moto atau prinsip dasar sanggar ini yakni ikhlas tanpa pamrih, maka baik anak didik sanggar maupun pamong sanggarnya pun berkomitmen bersama-sama untuk belajar mempraktikkan ikhlas tanpa pamrih dalam kehidupan sehari-hari, tak hanya di perkataan atau sebatas slogan saja.

Seperti hukum alam ada siang dan juga malam, sanggar ini pun ada berawal dari keikhlasan, berjalan dan berproses dengan keikhlasan, bersama dengan-Nya dan demi untuk-Nya pula, Dia Yang Maha Ikhlas sekaligus Yang Tak Berawal dan Tak Berakhir.

Dan secara alamiah pula, pandemi yang datang tahun lalu pun akhirnya menghentikan kegiatan atau latihan rutin sanggar ini, setelah delapan tahun mengemban misi melestarikan akar budaya ikhlas tanpa pamrih melalui kegiatan menari.

Dari pengalaman pendidikan keputrian di atas, orang tua mungkin bisa lebih aktif, bila mendapati putrinya yang beranjak remaja, ragu untuk membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan keputrian. 

Penulis pun sangat mengapresiasi bagi sekolah-sekolah formal yang telah memberikan ruang bagi pendidikan keputrian.

Sebenarnya adat budaya kita di berbagai daerah di Nusantara juga sudah memiliki tradisi yang mengagumkan ketika anak gadisnya mendapatkan menstruasi pertama. 

Di Jawa sendiri ada banyak tradisi untuk anak perempuan yang pertama kali mendapatkan menstruasi, seperti orang tua akan mengadakan syukuran atau selamatan dengan membagikan bubur merah putih ke warga sekitar yang menandakan bahwa anak perempuannya sudah menginjak fase remaja putri. 

Selain itu di Jawa pun juga ada upacara adat seperti sungkeman dan siraman, setelah tujuh hari mendapatkan haid pertama yang disebut Tarapan.

Intinya, anak perempuan memang perlu mendapatkan perhatian yang serius ketika memasuki fase sebagai remaja putri, dan sejatinya, pendidikan utama anak perempuan memang ada pada keluarga.

Dengan adanya pandemi, Alam pun akhirnya mengembalikan pendidikan keputrian ini ke masing-masing orang tua. Pendidikan keputrian tentu sangat membantu remaja putri untuk mengenali pribadinya yang baru, yakni perubahan dari anak-anak menuju ke fase remaja.

Dengan mendapatkan pendidikan yang mendasar, seperti spiritual (filosofi beksan), budi pekerti dan karakter yang kuat dari keluarga, otomatis pendidikan lainnya akan sangat mudah diraih kaum perempuan masa kini, dengan berbagai kemudahan yang ada pada zaman sekarang.

Salam budaya, ikhlas tanpa pamrih. 

Lereng Sakya, April 2021

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x