Christie Damayanti
Christie Damayanti karyawan swasta

Just a stroke survivor & cancer survivor, architect, 'urban and city planner', author, traveller, motivator, philatelist, also as Jesus's belonging. http://christiesuharto.com http://www.youtube.com/christievalentino http://charity.christiesuharto.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Tidak Ada Kata "Tidak Bisa", Bersama Teman-teman Penyandang Disabilitas, Kami Bisa!

18 November 2018   12:00 Diperbarui: 3 Desember 2018   08:26 1140 0 0
Tidak Ada Kata "Tidak Bisa", Bersama Teman-teman Penyandang Disabilitas, Kami Bisa!
Sumber ilustrasi: disabledgo.com

Bahwa pemerintah telah menetapan peraturan 1% dalam UU No. 4 tahun 1997 tentang Penyandang Cacat yang mewajibkan perusahaan merekrut penyandang disabilitas dari total jumlah karyawan. Bahwa mereka pun membutuhkan kehidupan dan untuk masa depan mereka.

Kedua, adalah bahwa perusahaan memerlukan pegawai berbakat.

Pada kenyataannya, Tuhan memang luar biasa! Bahwa penyandang disabilitas justru banyak mempunyai kelebihan-kelebihan dari pegawai yang non-disabilitas. Mereka mempunyai talenta-talenta khusus yang diberikan Tuhan. Mereka sangat berbakat, terutama di bidang tertentu seperti IT (Teknologi Informasi), Design Grafis, handycraft dan sebagainya.

Penyandang disabilitas mempunyai talenta-talenta khusus dan brilian, seperti bisa IT | Sumber ilustrasi: spd.org.sg
Penyandang disabilitas mempunyai talenta-talenta khusus dan brilian, seperti bisa IT | Sumber ilustrasi: spd.org.sg
Ketiga, bagian dari Corporate Social Responsibility (CSR).

Tanggung jawab sebuah perusahaan bukan hanya sekedar menghasilkan keuntungan yang bisa menjadi penghasilan besar bagi pegawainya saja, tetapi perusahaan mempunyai tanggung jawab sosial atau CSR. Di mana perusahaan memiliki tanggung jawab terhadap konsumen, pegawai, pemegang saham, komunitas, lingkungan, dengan segala aspek seperti aspek ekonomi, sosial dan lingkungan.

Di mana CSR pun sangat berhubungang erat dengan "pembangunan berkelanjutan". Dan itu pun berhubungan dengan membangun bangsa, termasuk untuk teman-teman penyandang disabilitas.

Keempat, bahwa penyandang disabilitas adalah "problem solver".

Ketika penyandang disabilitas sejak lahir itu, adalah orang-orang yang selalu beradaptasi dengan lingkungannya. Mereka terus dan harus mengasah otaknya untuk segera memecahkan masalahnya, di mana mungkin pegawai non-disabilitas tidak merasakan adanya masalah. 

Ketika banyak penyandang disabilitas mampu sebagai
Ketika banyak penyandang disabilitas mampu sebagai
Contoh, seperti saya sebagai salah satu penyandang disabilitas di sebuah perusahaan besar yang inklusi. 

Ketika saya di atas kursi roda elektrik membutuhkan bantuan untuk bisa "mobile" dengan lincah selincah pegawai non-disabilitas, saya harus berusaha untuk selalu bisa masuk ke kubikel-kubikel, seperti yang lain. Padahal, untuk masuk ke tempat itu, merupakan tantangan tersendiri bagi saya. Dan saya terus melatih ketrampilan saya untuk memanuver kursi roda elektrik saya, setiap saat.

Kelima, adalah nilai tambah bagi perusahaan.

Perusahaan akan melakukan hal-hal yang unik dan berbeda dengan pesaingnya. Dan ini adalah nilai tambah yang lebih dan bisa menaikkan "value branding" perusahaan. Dan dengan mempekerjakan penyandang disabilitas, perusahaan akan menjadi bagian dari komunitas inklusi, dan ini akan meningkatkan pasar dan keuntungan perusahaan.

***
Ketika perusahaan ingin memulai merekrut penyandang disabilitas, tentu saja perusahaan tersebut juga harus mulai mendidik pegawai non-disabilitas untuk bisa bersinergi dengan pegawai penyandang disabilitas.

Mereka harus mulai untuk mempunyai kesadaran demi menciptakan inklusi tanpa diskriminasi dalam perusahaan. Selain itu, perusahaan pun harus memberikan aksesibilitas yang sesuai dengan kebutuhan pegawai penyandang disabilitas. 

Misalnya, tentang fasilitas-fasilitas khusus tentang toilet disabilitas, dengan dimensi untuk kursi roda bisa masuk kedalamnya. Termasuk kebutuhan toilet dan fasilitas-fasilitasnya. Juga fasilitas lift untuk perusahaan yang bertingkat. Juga aksesibilitas tentang pintu masuk, trotoar, bahkan tentang transportasinya. Dan sebagainya.

Tentang pelibatan pegawai non-disabilitas pun, bukan hanya disaat pelaksanaannya saja, tetapi sudah harus dilakukan sejak perencanaan program. Dan pelibatan yang dimaksud bukan hanya antar pegawai non-disabilitas dan pegawai penyandang disabilitas saja, tetapi juga pelibatan dengan Organisasi Penyandang Disabilitas (OPD) atau komunitas disabilitas yang dianggap bisa mewakilinya.

Adalah masalah aksesibilitas. Bahwa ketika hambatan fisik, hambatan komunikasi, hambatan kebijakan serta hambatan perilaku antara pegawai non-disabilittas dengan pegawai penyandang disabilitas, benar-benar bisa menjadi hambatan untuk perusahaan, aksesibilitas justru harus mampu memberikan kesempatan seluas-luasnya, membuka pintu selebar-lebarnya untuk partisipasi aktif semua pegawai.

Dan itu membutuhkan dukungan penuh, dengan mengakomodir semua pegawainya, terutama pegawai penyandang disabilitas. Dukungan itu bukan berarti perlakuan khusus, tetapi ada pertimbangan-pertimbangn tertentu bagi pegawai penyandang disabilitas, untuk bisa bekerja sesuai dengan keterbatasannya.

***
Program kerja Direktorat Jenderal Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja menjelang Hari Disabilitas Internasional yang jatuh pada tanggal 3 Desember mendatang, jelas dimaksudkan untuk menjadi sebuah kegiatan "rising awareness" atau meningkatkan kesadaran pemangku kepentingan disabilitas, yaitu pemerintah pusat dan daerah, perusahaan dan masyarakat, untuk lebih memperhatikan secara serius para penyandang disabilitas.

Mereka membutuhkan dukungan untuk bisa memiliki rasa percaya diri. Konsep dan progam kerja ini, diharapkan mampu untuk bisa membawa penyandang disabilitas bersaing di dunia kerja kreatif, sehingga para penyandang disabilitas bisa semakin mandiri. Mandiri disini, tentu saja tidak menyusahkan Negara.

Sebuah kepedulian seperti itu yang akan menyelamatkan saya, kami dan penyandang disabilitas untuk bisa mengasah kemandirian kami. Sebuah kepedulian itu lah yang bisa membawa kami tetap tegar dan terus berusaha demi masa depan kami.

***
Sangat luar biasa, ketika perusahaan tempat saya bekerja sejak sebelum terserang stroke, tetap memberikan kesempatan pada saya untuk tetap bekerja, walaupun dalam keterbatasan. PT Agung Podomoro Land (APL), tempat saya bekerja sejak tahun 2006.

Ketika papa saya menelpon salah satu direktur atasan saya bahwa saya mungkin tidak bisa bekerja lagi dan mengajukan resign, justru direktur saya, bahkan si empunya perusahaan, tidak mengabulkannya bahkan memberikan kesempatan kepada saya seluas-luasnya untuk tetap bekerja, kapan pun saya bisa mulai. Dan pada akhirnya, saya tetap bekerja disana, sampai sekarang.

PT APL membawa kehidupan saya lebih baik lagi, ketika saya justru diminta untuk melibatkan teman-teman disabilitas untuk mulai menjadi sebuah "icon" bagi CSR kami. Saya diberikan tugas-tugas baru, untuk mengembangkan Yayasan Agung Podomoro Land (YAPL), supaya selalu bisa membantu teman-teman penyandang disabilitas dengan lewat banyak kegiatan.

Saya juga mendapat tugas khusus untuk menuliskan kegiatan-kegiatan saya dalam pelayanan-pelayanan saya bagi teman-teman penyandang disabilitas di YAPL atau di pelayanan-pelayanan pribadi saya, lewat Podomoro Magazine, dimana saya adalah salah satu kontributornya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3