Christie Damayanti
Christie Damayanti karyawan swasta

Just a stroke survivor & cancer survivor, architect, 'urban and city planner', author, traveller, motivator, philatelist, also as Jesus's belonging. http://christiesuharto.com http://www.youtube.com/christievalentino http://charity.christiesuharto.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Aku dan Kursi Roda Ajaibku

5 Februari 2018   11:25 Diperbarui: 5 Februari 2018   11:30 335 3 4
Aku dan Kursi Roda Ajaibku
Dokumen pribadi. Aku dengan kursi roda ajaibku, di Shinjuku, Jepang

By Christie Damayanti

  

Ketika Michelle terbang ke Jepang, aku benar2 sendiri di Jakarta. Tanpa Michelle, aku tidak bisa "bergerak", karena dialah pengganti kedua kakiku. Dia mendorong kursi rodaku untuk melakukan sesuatu di luar rutinitas hidupku. Belanja, jalan2 atau sekedar quality time. Jadi, aku harus mencari pengganti Michelle. Dan Tuhan mengirim kan "malaikat penolongku", yaitu kursi roda elektrik.


Tidak memakan waktu lama, setelah Michelle pergi 26 April 2017 lalu, sebulan kemudian aku sudah mendapatkan kursi roda ajaibku, dengan harga ukup mahal dan perjuangan yang cukup sulit untuk mendapatkannya. Aku belajar dengan cepat, bukan hanya untuk sekedar mengemudikannya saja, tetapi juga bagaimana aku menanamkan kepercayaan diri serta keberanian untuk hidup bersama, melebur dengan kursi baruku ini.


Berkeliling banyak mall di Jakarta, sendirian, dan mencari selah2 kelemahan kuri roda ajaibku. Beberapa kali batere habis di mall, bingung cari colokan, tersenyum bahkan tertawa melihat pandangan pengunjung mall yang heran melihatku, ketika aku memakai 'speed 5' ngebut dengan kursi ku. Pro dan kontra tentang ini. Narsis di medsos, untuk memperkenalkan "aku yang baru" bersama dengan kursiku.


Sampai akhirnya evenku tentang disabilitas di Central Park bulan Agustus 2017, membawaku ke duniaku yang baru. Seorang Christie, pasca stroke lunpuh 1/2 tubuh kanan akibat stroke, pemakai kursi roda ajaib. Dengan kepercayaan sangat tinggi dan bersama Tuhan Yesus ku, aku siapu tuk bersaksi ke seluruh dunia, bahwa Tuhan memprosesku dengan sangat luar biasa dalam waktu yang sangat singkat!
***
Sebelum even disabilitas bulan Agustus 2017 lalu, setelah aku mengembleng diriku sendiri mempelajari semua hal untuk mandiri bersama kursi roda ajaibku, bersama Dennis aku menengok Michelle di Tokyo. Selama 2 minggu aku semakin terbiasa diatas kuri roda ajaibku dan semakin percaya diri. Tanpa peduli tentang pro dan kontra, aku melaju bersama Tuhan.

"Anjing menggonggong, kafilah berlalu".

Aku semakin tersenyum lebar, ketika semakin banyak orang bertanya2 tentang 'sahabat' baru ku ini. Dan terus melaju bersama Tuhan, aku semakin berhasil membuat banyak orang semangat. Perlahan, kursi roda ajaibmu ini menjadi "brand" hidupku. Aku dan kursi roda ajaibku .....

Tuhan memberikan mukjizat baru dalam hidupku. Kursi roda ajaibku, inilah mukjizat Tuhan yang nyata. DIA memberikan mukjizat ini, bukan saja secara cuma2, tetapi Tuhan pun menggembleng ku untuk berjuang mendapatkannya, belajar tentangnya sampai aku dengan tegap duduk diatasnya, menatap ke depan dengan mata bersinar2 bangga. Aku bersama Tuhan Yesusku, dibantu kursi roda ajaibku, merasakan nikmat mukjizat Tuhanku .....


Dan pertama kalinya setelah aku mendapatkan pengajaran Tuhan yang luar biasa sejak Michelle terbang ke Jepang, aku memberanikan diriku untuk maju bersama Tuhan, membawa kerianganku untuk memeluk anakku ke Jepang, SENDIRIAN! Tentu bersama kursi roda ajaibku!


Persiapan demi persiapan, bukan hanya tentang tiket, akomodasi atau dana saja yang harus aku pikirkan, justru yang terpenting adalah bagaimana aku harus bisa mandiri disana, tanpa menyusahkan Michelle yang sedang kuliah dan bekerja. Serta bagaimana memprediksi2 permasalahanku dalam kemandirian di Jepang bersama kursi roda ajaibku, dan apa yang bisa aku lakukan sebagai solusinya. Sering kali aku tidak tahu, sebenarnya masalah2 apa saja yang nantinya ada. Tetapi, sedikit banyak setelah aku belajar beberapa bulan bersama dengan kursi roda ajaibku.

 
Lebih penting lagi adalah, bagaimana aku akan mengatasi ketakutan2ku sebagai bagian dari disabilitas dunja, travelling sendirian, ke Jepang, sebuah negeri yang sangat bangga dengan keberadaan dan potensinya, yang tidak mau atau tidak bisa berbahasa Inggris, tanpa tahu cara mengatasinya .....

***
Semua ini hanya atas Kuasa Tuhan saja. Kepercayaan dan keyakinanku atau penyertaan Tuhan Yesus sajalah, yang membawa aku benar2 berani sendirian. BUKAN KARENA KEKUATAN ku SENDIRI, tetapi atas penyertaan Tuhan Yesus saja .....

Dan dari kursi roda ajaibku ini, setelah pengajaran dan penyertaan Tuhan bagiku sampai dengan sekarang, aku sungguh yakin bahwa mukjizat Tuhan melalui sebuah benda ini, menjadi alat pewartaan Karya Tuhan lewat keterbatasan2 seorang Christie ......

Praise The LORD JESUS .....

Sebelumnya :

Dari Kinshicho ke Funahabashi Hoten



Mencoba Berbagai Moda Transportasi Keliling Tokyo

 

Sendirian, Keliling Tokyo Hanya dengan Kursi Roda 'Ajaibku'

Funabashi, "Kota Belanja" untuk Turis yang Tidak Siap dengan Harga Mahal Jepang

Funabashi, Konsep Kota Ideal 

Beranjak ke Kota Funabashi

Bukan Sekedar Berkuda di Funabashi Hoten

"Aku Ingin Tinggal di Rumah Nobita, yang Ada Doraemon", dan [Hampir] Menjadi Kenyataan

"Negeri Impian" Funabashi Hoten 

Sekali Lagi, Mengapa Funabashi Hoten?

'Funabashi-Hoten', Kota Kecil Awal Sebuah Kemandirian

Denyut Kehidupan di Nishi Funabashi sebagai "Kota Transit"

Awal Perjuangan untuk Menaklukan Jepang di Nishi Funabashi

'Nishi Funabashi', Sebuah Kota Kecil Tempat Hatiku Berlabuh

Mengapa Chiba?

Sebuah Negara dari 'Antah Berantah' dengan Bahasa dan Tulisan Cacingnya, Duniaku yang Baru .....