Mohon tunggu...
Teguh Christianto
Teguh Christianto Mohon Tunggu... Menulis Untuk Mengabadikan Pemikiran

Bukan Siapa Siapa Hanya Sedang Berpikir dan Mencari

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Ketika Tuhan Bergulat

27 Desember 2019   07:08 Diperbarui: 27 Desember 2019   07:12 22 1 1 Mohon Tunggu...

Dengan megahnya, pegunungan Bukit Barisan terbentang dari utara ke selatan pulau Sumatera. Di salah satu sudutnya, aku dilahirkan. Kotaku ramai, meski tidak dilintasi jalan lintas kabupaten, apalagi lintas provinsi.

Mungkin, karena kami sejak dulu dikenal sebagai penghasil kopi robusta terbaik. Hanya berjarak beberapa jam perjalanan dari sini, kami punya daerah pertambangan timah putih. Beberapa jam perjalanan lagi, namun kali ini dengan arah berlawanan, kami punya lokasi wisata perairan yang indah.

Karena itulah, kota kami menjadi pusat ekonomi, pendidikan, budaya yang cukup padat. Padahal, sekali lagi, lokasi kota kecil ini terkunci. Tidak dilewati jalan lintas. Di sini, Sidikalang, aku dilahirkan.

Ketika kecil, aku sering diperdengarkan lagu tentang Sidikalang, yang sepotong liriknya berkata "nunga tarbarita Sidikalang i, sahat tu desa na ualu i, pengusaha pe godang do sian i, pejabat, dohot na mora i".

Lirik itu membuatku semakin bangga dengan kota kami. Dan layaknya, anak-anak pada umumnya, rasa bangga yang teramat sangat itu membuatku lupa bahwa kota kecil kami hanyalah satu di antara banyak daerah lain di pegunungan Bukit Barisan, yang juga mempunyai jutaan pesona dan potensi yang luar biasa.

Sebagai bukti, danau indah yang selalu kami bangga-banggakan sebagai Tao Silalahi, nyatanya adalah Danau Toba, yang juga dimiliki 6 kabupaten lainnya. Kopi robusta yang kami banggakan, juga dimiliki oleh Mandailing Natal.

Pertambangan timah putih kami pun belum seberapa dibanding pertambangan milik PT INALUM di Kuala Tanjung, yang terkenal itu. Rasa bangga akan kampung halaman, Sidikalang, membuatku memandang lebih luas, bahwa ada daerah yang lebih besar, lebih ramai, lebih beragam, lebih kaya, yang bahkan kota kecil kami termasuk dalamnya. Namanya, Sumatera Utara.

Di utara berbatasan dengan Aceh, di selatan dengan Riau dan Sumatera Barat, di timur dengan Malaysia dan selat Malaka, di barat dengan Samudera Hindia. Tempat ini sangat luar biasa!

Bayangkan betapa kayanya Sumatera Utara, diapit oleh pintu-pintu peradaban lainnya! Bayangkan berapa kali, silang budaya yang terjadi memperkaya peradaban kami, orang Sumatera Utara!

Di pesisir barat Sumatera Utara, kami punya Barus, "kota bertuah" yang punya perjalanan sejarah yang panjang. Kalau Indonesia dikenal dunia sebagai negara dengan populasi Muslim terbanyak, maka dari Baruslah titik nol peradaban Islam dimulai.

Catatan Hsin Tang Shu dari Dinasti Tang serta Makam Syeikh Rukunuddin di Makam Mahligai (bertarikh 672 M) menjadi buktinya. Tidak hanya Islam, pedagang dari India menyebarkan ajaran Hindu serta pedagang China juga menyebarkan ajaran Kong Hu Chu dari Barus.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN