Mohon tunggu...
C.H.R.I.S.  (Paknethole)
C.H.R.I.S. (Paknethole) Mohon Tunggu...

Kiranglangkungipun Nyuwun Agunging Samudra Pangaksami.

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Imbal Hasil 200%? Katakan Tidak Pada Investasi Bodong!

13 Agustus 2012   02:28 Diperbarui: 25 Juni 2015   01:52 359 1 0 Mohon Tunggu...

Ck..ck...ck, saya geleng-geleng kepala tiap menemui/mendapat informasi tentang kejadian tertipunya para rekan investor dengan tawaran investasi berimbal hasil “tidak logis”. Bukan hanya sekali dua kali kejadian berpola investasi bodong ini diungkap media, masih belum lupa ingatan kita tentang terbongkarnya banyak modus penipuan berkedok investasi sebelumnya. Tapi ternyata masih ada lagi dan ada lagi. Yang baru-baru ini terungkap malah lebih membuat kita tak habis mengerti. Betapa tidak? Tawaran “investasi” Amanah 1 yang memanfaatkan jejaring sosial untuk “menjebak” mangsanya, menawarkan imbal hasil 100% sampai dengan 200% dalam sebulan. Sebenarnya, kalau mau berpikir jernih, mana ada investasi wajar yang berimbal hasil sebesar itu? Tapi, sayangnya kok masih saja ada yang percaya, ribuan orang malah korbannya.

Dari kejadian-kejadian sejenis, secara sederhana bisa sedikit diluncurkan premis bahwa sebenarnya di negeri ini banyak juga yang memiliki dana berlebih (diluar asumsi dana itu hasil pikiran kalap dengan menjual harta atau berhutang karena begitu hebatnya godaan tawaran itu), memiliki keinginan untuk berinvestasi tapi tanpa pengetahuan cukup, dan banyak pemalas yang tergoda menginginkan hasil instan. Tapi, diluar semua itu, saya yakin ada pula nasabah/investor yang cerdas mengambil kesempatan bermain dalam bisnis ini.

Bukannya sok pintar dan tidak bersimpati kepada korban, saya hanya ingin menjabarkan wacana logis saja. Agar kita-kita yang belum menjadi korban tidak terjebak atau setidaknya jangan sampai mengulang kesalahan.

Yang pertama, untuk layaknya investasi yang mengumpulkan dana pesertanya, tentu harus berbekal ijin/legal dari pihak yang berwenang. Setahu saya, saat ini Bapepam-LK yang memegang kendali, mungkin nanti beralih ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang telah memulai tugasnya. Jika si penawar tidak memiliki modal itu, waspadalah.

Yang kedua, kita harus berpikir sehat mengenai imbal hasilnya. Mengandalkan hasil “pembiakan” dana dengan tawaran imbal hasil harus banyak membandingkan dengan pola investasi keuangan lainnya yang lazim. Kita bisa membandingkan dengan jika menginvestasikan dana pada produk-produk yang selama ini ada, deposito, reksadana, valas ataupun saham. Ketika mendapatkan tawaran investasi dengan hasil di atas produk-produk yang ada itu, apalagi 100%-200% sebulan, maka sinyal di kepala kita harus berbunyi, waspada!

Yang ketiga, hati-hati terhadap hipnotis. Bisa jadi, sebenarnya pengetahuan kita tentang hal itu sudah cukup, tapi mengapa tetap saja tergoda? Tidak menutup kemungkinan, ada modus menghipnotis terhadap calon nasabahnya, dengan berbagai cara interaksi. Jangan takabur, dengan mengatakan bahwa kita tak akan tergoda, akan lebih baik kalau kita sama sekali tak usah mencoba terlalu larut “menyentuh”nya.

Yang keempat, tawaran investasi dengan imbal hasil tak logis semacam ini selalu menggunakan pola berjenjang, hasil yang diberikan adalah akumulasi dari dana yang disetorkan nasabah belakangan (skema ponzi). Mirip dengan multi level marketing, maaf, saya hanya bilang mirip karena sistemnya mengadopsi itu. Tentu perbedaannya pada multi level marketing sah karena ada barang yang dijual, sedangkan dalam investasi dengan pengumpulan uang ini jelas tidak, murni “money game”. Hanya sistemnya yang sering diadopsi, ini yang membuat multilevel merketing mainstream jadi “korban” karena banyak yang berpandangan “miring”, kasihan.

Seperti yang di atas tadi saya bilang, ada pula nasabah/investor yang “cerdas” mengambil kesempatan. Mengingat skema yang digunakan adalah “makan memakan”, maka ada pula yang “jeli”, bahkan mungkin mampu membaca peluang dan biasa “bermain” dengan hal ini. Mereka biasanya “cerdas” dengan memanfaatkan timing kapan dia “masuk” dan saatnya “keluar”, dana yang ditanamkan pun tidak terlalu besar. Tentunya, saya tidak menyarankan Anda menjadi nasabah jenis ini juga, karena tentu kejelian mengambil timing itu tetap berisiko. Disamping itu, walaupun anda berhasil mengeruk keuntungan dari “kecerdasan” ini, Anda tetap saja sama jahatnya dengan sang pengelola, menjadi “predator” yang tega memakan korban nasabah lain setelah Anda.

Tentu saja latar belakang masyarakat dan pengetahuannya berbeda-beda, tak menutup kemungkinan pola-pola investasi ini terus mengintip. Di sinilah pihak yang memiliki kewenangan mengawasi harus lebih intensif melakukan pencegahan agar tidak ada lagi yang menjadi korban.

Saya tetap berpegang teguh pada prinsip “high risk high return”, jadi kalau ada yang menawarkan investasi dengan “low risk high return” apalagi returnnya “ngedab-edabi”, sinyal warning kita harus berbunyi. Katakan tidak pada investasi bodong!

Salam berinvestasi.

.

.

C.S.

Pinjem dong..

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x