Mohon tunggu...
Chris lesmana
Chris lesmana Mohon Tunggu... Blogger

Christopherlesmana97@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Politik

Novel Baswedan dan Masa Kegelapan Penegakan Hukum Indonesia

13 Juni 2020   10:45 Diperbarui: 13 Juni 2020   13:51 101 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Novel Baswedan dan Masa Kegelapan Penegakan Hukum Indonesia
Novel Baswedan Sumber : Serambinews.com

                                                                                   

Sebelah mataku yang mampu melihat
Bercak adalah sebuah warna warna mempesona
Membaur suara, dibawanya kegetiran
Begitu asing terdengar.

Tapi sebelah mataku yang lain menyadari
Gelap adalah teman setia
Dari waktu waktu yang hilang 

Itu adalah sepenggal lirik dari lagu "Sebelah Mata" yang diciptakan dan dinyanyikan oleh Band Indie ternama Indonesia , Efek Rumah Kaca yang dirilis pada tahun 2007. Sebenarnya lagu ini diciptakan oleh Cholil Mahmud, sang vokalis untuk sahabatnya yang terkena penyakit Diabetes sehingga memiliki gangguan penglihatan pada sebelah matanya. Namun ketika Novel Baswedan, sang penyidik KPK disiram air keras pada tahun 2017 ketika hebdak menunaikan Sholat Shubuh di dekat rumahnya, lagu ini seketika menjadi suatu gambaran nyata terhadap apa yang terjadi kepada dirinya karena Novel Baswedan mengalami cacat pada sebelah mata kirinya.

 Novel Baswedan adalah salah satu korban dari sekian banyaknya mereka yang berani bersuara dan melakukan tindakan keadilan di negeri ini. Butuh 2 tahun bagi Kepolisian untuk menangkap 2 pelaku penyiraman air keras tersebut yang ternyata merupakan anggota kepolisian juga yang ironisnya berstatus sebagai Brimob, salah satu kesatuan yang menjadi benteng pertahanan NKRI. 

Ketika ditangkap, dua pelaku tersebut berteriak di depan ratusan wartawan dengan mengatakan bahwa Novel itu penghianat yang wajib dihabisi. Entah apa yang membuat mereka berani berkata seperti itu. Namun yang jelas, penangkapan tersangka tersebut menimbulkan kecurigaan besar di kalangan publik sebab banyak yang beranggapan bahwa penangkapan  terhadap tersangka tersebut hanyalah rekayasa belaka untuk menjaga nama baik Kepolisian dan Pemerintahan Indonesia.

 Kemarin , pada hari Jumat 12 Juni 2020, hasil sidang terhadap dua tersangka pelaku penyiraman tersebut membuat masyarakat menjadi "menangis histeris". Coba bayangkan, hasil sidang memutuskan bahwa dua tersabgka hanya dijatuhi hukuman satu tahun penjara. Bahkan hukuman tersebut jauh le ih ringan dibandingkan dengan pencuri ayam , buah-buahan bahkan pakaian dalam sekalipun. 

Ketika ditanya alasan mengapa hanya satu tahun, jaksa yang memimpin sidang tersebut mengatakan bahwa dua pelaku tersebut " tifak sengaja" dan sudah meminta maaf kepada keluarga korban, sebuah alasan yang sangat konyol dan tidak masuk akal bahkan mungkin ini lebih lucu dari panggung Opera Van Java sekalipun. Setelah hasil sidang ini , banyak masyarakat yang mengeluarkan sindiran dan lelucon terhadap hasil sidang tersebut di media sosial tersebut. Ada yang mengatakan bahwa jaksa tersebut ditodong pistol oleh polisi yang bersembunyi dibawah kolong meja jaksa tersebut. 

 Setelah kasus ini, saya jadi teringat dengan sebuah kutipan Pramoedya Ananta Toer yang mengatakan : " Ada yang membunuh, ada yang dibunuh, ada peraturan, ada Undang-Undang, ada pembesar, polisi, dan militer. Hanya satu yang tidak ada : Keadilan." Begitulah kutipan yang nyata terjadi di negeri ini. 

Karena pengadilan dan hukum hanyalah sebuah pajangan dan formalitas bagi mereka yang lemah dan menjadi sebuah senjata untuk mereka yang kuat. Oleh karena itu, sepertinya Renaissance atau masa kegelapan hukum dan keadilan di Indonesia tidak akan pernah berakhir jika tidak ada satu sosok yang mampu mengakhiri masa kegelapan tersebut. Namun, setidaknya sebelah mata Novel Baswedan cukup menjadi bukti betapa kacaunya dan hancurnya penegakan hukum di negeri ini.

VIDEO PILIHAN