Mohon tunggu...
Reinhard Hutabarat
Reinhard Hutabarat Mohon Tunggu... Penikmat kata dan rasa...

Seorang penulis amatir yang menyukai semua genre tulisan

Selanjutnya

Tutup

Bola

Ketika Liverpool Terkulai Lagi

24 Oktober 2017   20:01 Diperbarui: 24 Oktober 2017   20:03 0 2 2 Mohon Tunggu...

Setelah sebelumnya terbang tinggi ke awan, akhirnya anak-anak The Reds kemudian terhempas kembali ke lapangan rumput Wembley Stadium, markas sementara The Lilywhites, Tottenham Hotspur. Setelah sebelumnya menggilas Maribor 7-0, The Reds gantian digilas Hotspur 4-1. Kejadian ini mirip-mirip dengan kejadian ketika The Reds menggilas Arsenal 4-0, lalu kemudian mereka digilas Manchester Biru 5-0!

Lalu dimana benang merah insiden gilas menggilas ala anak asuh Klopp ini? Ini bukanlah inkonsistensi permainan yang misalnya minggu lalu bermain bagus, lalu hari ini bermain jelek. Benang merahnya terletak pada lini belakang, dan diantara lini belakang dengan lini tengah. Lini tengah tidak mampu menutup pergerakan lawan agar tidak bebas "menghampiri" lini belakang yang selalu terlihat gugup dan gagap itu....

Dejan Lovren yang terlihat seperti "kurang minum" itu akhirnya digantikan oleh Chamberlain pada menit 31 babak pertama. Ini jelas menunjukkan betapa gemesnya Klopp melihat penampilan Lovren dengan jurus "dewa maboknya" tersebut! Pada pertandingan sebelumnya ketika berhadapan dengan Maribor pun, beberapa kali terlihat miskoordinasi antara Lovren dengan Matip. Jurus "dewa mabok" Lovren tidak keluar, hanya karena pemain Maribor lupa "membawa kendi araknya..."

Terlepas dari kesalahan Lovren yang berakibat dua gol cepat Hotspur, cara Klopp menarik Lovren pada menit 31 itu telah benar-benar "menghancurkan hatinya." Lovren bahkan tidak mau duduk di bench. Sepanjang bulan ini Lovren pasti akan menderita dibully fans karena segala kesalahan ditimpakan kepadanya. Tentu saja ini tidak fair. Kesalahan itu seharusnya ditimpakan kepada Klopp sebagai seorang manager!

Sebenarnya kegamangan permainan anak-anak Klopp ini bukan hanya terlihat pada saat laga ini saja. Koordinasi pertahanan adalah kelemahan utama Liverpool sejak dahulu kala, bahkan sejak masa Houllier menjadi komandan di Melwood. Ada saja masalah pada keempat bek belakang itu. Dua tahun lalu duet Lovren dengan Sakho sudah sangat kuat, menyamai legenda Sami Hyypia dan Henchoz. Namun bek kiri, Moreno yang berulah dan meninggalkan lubang menganga di sektor kiri karena sering "terlambat pulang" ketika beliau overlapping ke depan!

Kemudian Milner dipasang di kiri menggantikan Moreno yang disuruh "tidur-tidur saja di rumah!". Lalu Sakho yang berulah. Tidak dimainkan lagi dan kemudia dijual ke Crystal Palace. Lalu Lovren kehilangan pasangan terbaiknya sehingga sering "gagal paham" untuk menjalankan tugasnya sebagai palang pintu terakhir. Yang menjadi masalah sekarang ini memang ada pada duet bek tengah! Pada posisi bek kiri, Moreno sepertinya "sudah bertobat," sedangkan pada posisi bek kanan, Klopp kelebihan amunisi! Tampaknya Lovren akan "di-Morenokan" juga. Akan kah Lovren kelak bertobat seperti Moreno, atau akan pergi seperti Sakho? Wallahu a'lam...

Setelah musim lalu bermain gemilang, Emre Can sepertinya kehilangan motivasi bermainnya. Demikian juga dengan Henderson yang sering kehilangan konsentrasi, sedangkan Wijnaldum lebih fokus untuk menopang serangan. Liverpool memang butuh seorang gelandang bertahan sekelas Ngolo Kante atau Matic. Dulu Liverpool punya duet Mascherano dan Xabi Alonso yang bermain sangat bagus pada posisi tengah.

Secara permainan, kelemahan utama The Reds itu ada pada keseimbangan tim ketika bertahan. Tiga pemain depan selalu bermain gemilang membuka peluang. Apalagi mereka ditopang tiga gelandang tengah plus dua wing back yang rajin naik. Untuk hal ini Liverpool memang jagonya. Namun ketika serangan mereka patah dan lawan melakukan serangan balik cepat, maka petaka pun terjadi. Kane dan Son jelas menunjukkan hal ini kepada Klopp! Memang gol Salah ke gawang Lloris juga merupakan kesalahan pemain belakang Spurs yang menganggap remeh Salah!

Secara taktikal sudah saatnya Klopp mengevaluasi pakem Gegen pressing 4-3-3 nya. Berhadapan dengan Barcelona atau "Niac Mitra Suroboyo" pun, pakem Klopp ini akan tetap sama! Mosok sih Klopp tidak percaya pada peribahasa "Lain lubuk lain ikannya, Lain padang lain belalangnya!" Saya takut, jangan-jangan Herr Klopp ini bukan seorang juru taktik!

Menit 31 Lovren ditarik untuk digantikan Chamberlain, dan pertahanan Liverpool tetap sama rawannya. Terbukti dua gol tambahan Dele Ali dan Kane mutlak kesalahan pemain Liverpool yang tetap memberikan ruang kepada lawan! Pergantian pemain adalah untuk merubah skema permainan (Lebih menyerang, bertahan atau mempertahankan irama permainan itu sendiri) Klopp sepertinya lebih suka pilihan terakhir, dimana pemain yang masuk tetap bermain sama bingungnya dengan pemain yang digantikannya...

Sebagian besar gol yang masuk ke gawang Liverpool mutlak oleh kesalahan pemain sendiri. Kalau urusan menghadang tendangan penalti, Mignolet ini termasuk jagoan. Tetapi dia termasuk jagoan membuat blunder juga ! Hal ini tentu saja akan menyulitkan para pemain belakang. Itulah sebabnya sering sekali terjadi miskomunikasi diantara mereka, yang mengakibatkan terjadinya gol! Seorang bek tengah, lebih suka kiper dengan nilai konsisten 7 daripada kiper yang kadang bernilai 10 tetapi sering juga bernilai 5! Kiper inkonsisten sering membuat pemain belakang jadi gagap dan gugup... Memang susah untuk menilai Mignolet ini karena "ditangan kanannya ada madu, sedangkan ditangan kirinya ada racun..."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x