Mohon tunggu...
Choirunnisa Effendi
Choirunnisa Effendi Mohon Tunggu... Student

Universitas Pendidikan Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Warna-warni Masa Pandemi

30 Juni 2020   21:36 Diperbarui: 30 Juni 2020   21:27 10 0 0 Mohon Tunggu...

-WARNA WARNI MASA PANDEMI-

Virus Covid-19 yang menyebar di Indonesia, membuat pemerintah membuat kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar. Hal ini dilakukan guna memutus penyebaran covid-19 lebih luas lagi. Setiap hari nya, jumlah pasien yang positif Covid-19 terus bertambah.

 Pada tanggal 30 Juni 2020 tercatat sebanyak 56.385 orang yang terkonfirmasi positif Covid-19, pasien yang sembuh tercatat sebanyak 24.806 orang, dan sebanyak 2.876 orang yang meninggal karena Covid-19.

Penyebab terus bertambahnya jumlah pasien yang positif Covid-19, tak lain dan tak bukan akibat dari kesalahan masyarakat itu sendiri karena tidak mematuhi peraturan pemerintah yang sudah menetapkan protokol kesehatan seperti cuci tangan dengan sabun, menjaga jarak, memakai masker saat keluar rumah dan lainnya. 

Pemerintah sudah melakukan pencegahan pemutus rantai penyebaran virus Covid-19 ini semaksimal mungkin, akan tetapi sebagaimana kita ketahui bahwa Masyarakat sepertinya sudah tidak peduli lagi bahkan ada sebagian masyarakat yang sudah tidak percaya bahwa wabah virus Covid-19 itu menyebar di negeri kita.

Selain itu, penyebaran virus covid-19 yang terus meluas memberikan dampak bagi masyarakat Indonesia. Bukan hanya pada bidang kesehatan, tetatpi juga dalam bidang perekonomian, pendidikan, dan lainnya. Masyarakat yang dituntut untuk tetap di rumah dan bekerja secara daring (dalam jaringan), menjadikan beberapa usaha tutup sementara bahkan harus gulung tikar. 

Banyak sekali karyawan yang menjadi korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) karena perusahaannya terkena dampak Covid-19. Selain itu, para pelajar diharuskan melakukan kegiatan pendidikan di rumah. Ini menjadikan banyak sekali pro-kontra tentang kegiatan edukasi yang dilakukan secara daring.

Masyarakat Indonesia banyak yang mengeluh tentang hal tersebut. Karena tidak mempunyai penghasilan dan pekerjaan kembali. Bantuan dari pemerintah banyak sekali yang tidak sampai ke tangan masyarakat, walaupun ada sebagian masyarakat yang mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah setempat. 

Sehingga, banyak dari masyarakay yang memaksakan untuk keluar rumah dan menghiraukan himbauan pemerintah akan bahayanya Covid-19 terhadap masyarakat untuk tetap diam di rumah.

Belum lagi keluhan dari wali siswa tentang kegiatan pendidikan yang dilakukan secara daring. Mulai dari boros kuota internet, tidak paham teknologi, materi yang diajarkan tidak dapat diterima secara maksimal, dan hal-hal lainnya. 

Para pendidik juga harus lebih kreatif dalam menyampaikan pembelajaran. Waktu yang dibutuhkan juga lebih panjang. Karena kesulitan memberikan metode pembelajaran yang efektif, menjadikan pendidik lebih banyak menyuruh peserta didik untuk mengerjakan soal-soal latihan di buku LKS atau memberi tugas pengganti tatap muka.

Seiring sejalan, melihat keadaan negara dari berbagai aspek semakin menurun menjadikan pemerintah berpikir tentang produktifitas walaupun di masa pendemi Covid-19. Ini yang menajdi peletak dasar munculnya istilah New Normal. 

Meskipun pasien yang terkonfirmasi postif Covid-19 terus bertambah, tapi kesadaran, kepedulian, dan kepekaan masyarakat terhadap Covid-19 terus tumbuh. Ini yang menjadikan pemerintah percaya untuk mengambil keputusan New Normal masa pandemi Covid-19.

Masa pandemi Covid-19 memberikan warna warni di kehidupan kita. Dimana dengan #tetapdirumah kita bisa membantu memutus rantai penularan Covid-19 di Indonesia. Bosan dan jenuh karena diam di rumah merupakan abu, tapi upaya #tetapdirumah dan membantu memutus tali penularan Covid-19 di wilayah kita menjadikan biru bukan hanya di langit tetapi juga di masa yang baru.

Lekas Sembuh Dunia

By: Choirunnisa & Harish Farhan Syah

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x