chitania sari
chitania sari

suka nulis dan jalan-jalan

Selanjutnya

Tutup

Budaya

Ramadan dan Positivisme untuk Kebaikan Bersama

21 Mei 2018   17:51 Diperbarui: 21 Mei 2018   18:05 102 0 0
Ramadan dan Positivisme untuk Kebaikan Bersama
Ilustrasi: tempo.co

Baru-baru ini kita dikejutkan oleh seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) yang menjadi dosen salah satu perguruan tinggi di Sumatera Utara ditangkap aparat polisi karena terbukti menyebarkan ujaran kebencian di akun medsos miliknya. Dia mengaku terseret emosi karena tak puas akan kinerja pemerintah saat ini terutama soal ekonomi.

Akrabnya penduduk Indonesia akan media sosial tidak langsung membuat kita cerdas menggunakan media sosial itu. Terlebih pemahaman atas medsos yang minim dan mudahnya memakai medsos membuat orang menjadi gampang untuk melakukan sesuatu atas medsos itu dengan mengisi konten dengan sembarangan tanpa memperhatikan etika dan ituasi yang berkembang.

Pemerintah melalui Kominfo mengungkapkan bahwa dari dari berbagai konten yang diambil pada tgl 13-16 Mei, didapat ada 1.285 konten negative termasuk konten-konten yang menyebarkan radikalisme, dari berbagai platform media sosial seperti facebook, twitter, instagrm dan youtube. Jumlah itu belum termasuk konten yang menyebarkan ujaran kebencin seperti yang dilakukan oleh dosen Sumatera Utara tersebut.  

Terlihat di sini bahwa ruang informasi kita yang dipendarkan melalui media sosial penuh dengan hal-hal berbau negative sehingga banyak orang juga terpengaruh pada hal negative itu. Seperti halnya aura wajah. 

Jika aura diri kita penuh dengan rasa benci, iri hati, tak puas pada keadaan, dendam maka itu akan terpancar pada wajah kita. Meski wajah kita cantik atau ganteng, jika hati kita penuh dengan perasaan negative atau syak wasangka maka aura yang dilihat orang lain pada wajah kita adalah aura negative. Aura ini tentu saja akan berpengaruh pada hal-hal yang akan kita lakukan bersama orang lain itu.

Sama dengan medsos yang penuh dengan konten negative amat dipengaruhi oleh diri kita yang membawa medsos itu akan diisi apa.  Jika pengetahuan akan dampak konten tu minim maka kita mungkin jadi tidak peduli dengan konten yang kita sebarkan itu.

Padahal makna dan kekuatan konten sangatlah berarti bagi orang lain. Kita tentu ingat ketika bom Surabaya terjadi dan banyak korban, beberapa pihak menganjurkan masyarakat Surabaya yang memiliki darah golongan tertentu untuk memberikan darahnya bagi korban tersebut untuk keperluan operai. Maka yang terjadi adalah peminat yang membludak untuk menyalurkan darah mereka.

Kita mungkin juga ingat koin untuk Prita beberapa tahun lalu. Prita yang dipersalahkan oleh salahsatu rumah sakit besar di Tangerang karena keluhannya soal sakitnya membuat banyak orang tergerak dan mengumpulkan koin bagi Prita sehingga Prita mendapatkan dana untuk pembayaran rumah sakit dan kampanye dari orang-orang yang membela dirinya. Akhirnya pihak rumah sakit yang menuntutnya, mundur dengan sendirinya.

Karena itu, marilah bersama-sama untuk selalu berfikir, berujar positif, membangun solidaritas positif untuk kebaikan bersama, terutama melalui media sosial. Caranya dengan menyebarkan pesan dan ujaran-ujaran positif untuk semua orang juga untuk bangsa dan negara. 

Dengan menjaga agar semuanya positif maka hasilnya akan positif , tak hanya kita tetapi juga semua orang. Pada Ramadan kali ini mari kita bersama-sama melakukan itu demi kebaikan bersama.