Mohon tunggu...
Chazali H Situmorang
Chazali H Situmorang Mohon Tunggu... Apoteker - Mantan Ketua DJSN 2011-2015.

Mantan Ketua DJSN 2011-2015. Dosen Kebijakan Publik FISIP UNAS; Direktur Social Security Development Institute, Ketua Dewan Pakar Lembaga Anti Fraud Asuransi Indonesia (LAFAI).

Selanjutnya

Tutup

Healthy Pilihan

Swab-PCR, Pengusaha Untung, Penumpang Buntung

25 Oktober 2021   00:44 Diperbarui: 25 Oktober 2021   01:08 292
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kesehatan. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Schantalao

Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 53 Tahun 2021 tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Level 3, Level 2, dan Level 1 Corona Virus Disease 2019 di Wilayah Jawa dan Bali telah diterbitkan.

ruksi itu diterbitkan 18 Oktober 2021, mulai berlaku 19 Oktober 2021, sampai dengan 1 Nopember 2021. Berarti berlaku untuk  2 minggu. Sudah dapat diprediksi omzet bisnis Swab-PCR akan melambung berlipat-lipat selama 2 minggu, dan saat ini out lite Test Swab - PCR, semakin bertambah seperti jamur dimusim hujan.

Siapa pemiliknya, kita tidak tahu persis, tetapi tentu diduga ada kolaborasi antara pengusaha dan penguasa, dengan indikasi kebijakan yang dibuat itu cenderung menguntungkan bagi bisnis Swab-PCR.

Jika mobilitas penumpang pesawat Jawa -- Bali per hari 25.000 ( mungkin kurang tapi mungkin lebih), yang selama ini boleh Swab-Antigen, dengan kapasitas 50% seat pesawat, dan biaya Swab-Antigen Rp. 100 ribu, maka periode kebijakan yang siklusnya 2 minggu, uang penumpang yang terkuras Rp. 35 milyar.

Dengan kebijakan yang baru, dan berlaku 19 Oktober sampai dengan 1 Nopember 2021, selama 2 minggu, kapasitas pesawat penumpang 100%, diprediksi kenaikan penumpang 2 kali lipat. Berapa uang penumpang yang terkuras. 50 ribu kali 14 hari kali Rp. 495.000, totalnya Rp. 346,5 milyar. Sebagian uang itu mengalir ke Korea Selatan, China, India, Singapore, Malaysia. Karena bahan bakunya diimpor dari negara-negara tersebut.

Kalau begitu jebloklah counter Swab-Antigen?, hilang Rp. 35 milyar. Belum tentu. Karena pemilik bisnis Swab-Antigen dengan Swab-PCR boleh jadi orangnya sama.

Selama ini, kebijakan tracing, dan  testing untuk Covid-19, SOP nya adalah jika hasil Test Antigen positif, maka tidak perlu lagi dilakukan Swab-PCR, karena hasilnya dipastikan  juga positif.  Kecuali dalam kondisi tertentu, seperti mereka yang tanpa gejala, hasil swab Antigen positif, perlu juga dilakukan swab PCR, untuk memastikannya.

Kebijakan asimetris

Inmendagri 53/2021 kali ini terkesan suatu kebijakan asimetris. Ada alur berpikir yang logikanya terputus. Satgas Covid-19 menyatakan bahwa kebijakan tersebut untuk pengendalian Covid-19. Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Wiku Adi sasmito mengatakan, alasan wajib tes PCR sebagai syarat penerbangan terbaru karena adanya peningkatan jumlah kapasitas penumpang. Lah yang mengijinkan peningkatan kapasitas penumpang  siapa?

Kementerian Perhubungan beralasan, karena seat penumpang dibolehkan 100% terisi. Maskapai penerbangan tentu senang dengan kelonggaran tersebut, apalagi jarak Jawa-Bali itu tidak ada diatas 1,5 jam. Bisnis penerbangan didorong bergairah. Perketat protokol kesehatan, pakai masker dan cuci tangan pakai hand sanitizer menjadi mutlak.

Walaupun duduk berdekatan dalam pesawat, kalau semua pakai masker dan tidak dibuka selama perjalanan, tidak bersalaman dalam pesawat, tidak ada jalannya virus berpindah. Apalagi penumpangnya sudah dipastikan sehat dengan Swab -- Antigen.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun