Charles Brahmanta
Charles Brahmanta wiraswasta

Dengan karya tulis saya akan diingat,melalui sebuah tulisan akan mampu mengungkap tabir kebenaran.

Selanjutnya

Tutup

Kotak Suara

Mengamati Pilkada DKI yang Penuh Kejutan dan Intimidasi untuk Saling Menjatuhkan

18 Maret 2017   16:11 Diperbarui: 18 Maret 2017   16:27 37 1 0

Milih pemimpin tidak asal diperlukan penilian tersendiri dan sesuai dengan kinerja yang sudah dilakukan khusus buat petahana.

Cuma bagaimana dengan Cagub baru yang hanya mengandalkan program.

Jangan sampai seperti lazimnya para calon  pemimpin yang hanya bisa mengumbar janji.

Yang terpenting semua dilakukan dengan benar.

Seperti yang terjadi diPilkada DKI penuh intimidasi untuk saling menjatuhkan setiap pasangan.

Dalam menghadapi putaran kedua para Cagub semestinya sudah menyiapakan strategi untuk mempengaruhi para pemilih dengan cara yang tidak melawan hukum.

Harusnya yang benar adu program dengan begitu para pemilih bisa menilai sendiri terhadap program yang ditawarkan.

Memang Pilkada DKI menarik perhatian masyarakat luas karena penuh persaingan dan kejutan.

Ada  hal menarik yang dilakukan para Partai pengusung dalam menarik suara dukungan.

Pastinya dilakukan lobby - lobby Politik tapi bagi yang membelot dari keputusan Partai.

 Ya harus menerima nasib seperti yang menimpa Haji Lulung.

Kejutan yang ditunggu oleh masyarakat adalah mau merapat kemana Partai Demokrat?

Meskipun sinyal positf sudah ditunjukkan beberapa kader Demokrat sudah mendukung Ahok.

Selain itu pertemuan Jokowi dan Sby itu bisa jadi pertanda juga dalam bentuk dukungan.

Untuk putaran kedua menyisahkan dua pasangan diantara Ahok Djarot dan Anies Bawesdan Sandiaga Uno.

Berbagai cara dilakukan untuk menjegal Petahana dengan menghembuskan isu sara.

Perlu diketahui isu tersebut sempat termakan dan dimanfaatkan oleh orang - orang yang tidak bertanggung jawab.

Bahkan beberapa warga menceritakan  harus memilih pasangan tertentu supaya usahanya tidak diganggu.

Berikut ini polemik yang mewarni Pilkada DKI diantara tragedi kemanusian yang menimpa Nenek Hindun dan Siti Rohbaniah. 

Khusus nenek Hindun Ustadz beralasan sedang turun hujan jadi jenazah tidak dibawa ke Mesjid.

 Sedangkan Siti Rohbaniah sang menantu, Yoyo Sudaryo diharuskan menandatangani surat pernyataan di atas materai bahwa di Pilkada DKI Jakarta putaran kedua nanti akan mencoblos paslon Anies Sandi, baru kemudian jenazah mertuanya, Siti Rohbaniah diperbolehkan diurus dan disholati di Mesjid daerah Pondok Pinang, Jakarta. 

Apa pun alasannya melakukan hal tersebut sudah sangat tidak dibenarkan soal pilihan itu bebas tidak boleh ada pemaksaan.

Ini akibat kalau ada motif lain sehingga berbagai kepentingan masuk untuk mencapai sesuatu dalam memperkaya diri sendiri.

Ditambah lagi beberapa waktu lalu relawan salah satu pasangan melaporkan Ketua KPUD DKI Sumarno ke DKPP ( Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu ) akibat ada indikasi ketidaknetralan dalam Pilkada DKI.

Ini menunjukkan cerminan wajah politik kita yang tidak siap dan dewasa untuk saling menghargai setiap pasangan Cagub.

Ironisnya hal - hal yang melanggar itu sudah seharusnya ditindak jangan hanya didiamkan saja.

Siap pun yang menang dalam Pilkada nanti harus melaksanan program yang dijanjikan.

Pastinya program tersebut bener - benar bisa membantu dan memperhatikan rakyat miskin kota.

Yang dibutuhakn masyarakat Jakarta bukti bukan janji.