charles dm
charles dm Freelancer

Untuk sesuatu yang tidak dapat dikatakan, aku harus mengatakannya!!

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan

Menjadi Bunda Tanggap Alergi dengan Gerakan 3K

22 April 2019   17:37 Diperbarui: 3 Mei 2019   14:38 48 1 0
Menjadi Bunda Tanggap Alergi dengan Gerakan 3K
Para narasumber yang hadir/Dokpri

Menjadi seorang ibu tentu tidak mudah. Selain bertanggung jawab mengurus suami dan rumah tangga, ia juga ikut terlibat dalam seluruh proses tumbuh kembang sang buah hati. Bahkan peran seorang ibu sangat menentukan bagi masa depan anak.

Dalam menemani tumbuh kembang anak, seorang ibu pun dituntut bersikap tanggap terhadap setiap perubahan yang terjadi. Tak terkecuali alergi. Secara sederhana, alergi merupakan reaksi kekebalan tubuh yang tidak normal dalam mengenali bahan yang sebenarnya tidak berbahaya untuk tubuh.

Ada satu istilah yang relevan dan kadang salah dipahami yakni alergen. Alergen merupakan bahan yang mencetuskan alergi. Pencetus alergi itu bisa berupa sesuatu yang terhirup atau makanan. Sesuatu yang terhirup yang dapat menyebabkan alergi di antaranya tungau, debu rumah, serbuk sari tanaman, kecoa, serpihan kulit binatang dan jamur. Sementara itu alergen yang berasal dari makanan di antaranya susu sapi, kacang kedelai, kacang tanah, makanan laut (udang, kepiting, udang karang), gandum, telur, dan ikan.

Nah, setiap anak yang mengalami alergi tentu memiliki faktor pemicu berbeda-beda. Yang pasti, angka kejadian dan risiko alergi pada anak, terutama terhadap makanan masih terus terjadi, tidak hanya di Indonesia tetapi juga seluruh dunia.

Slide presentasi/Dokpri
Slide presentasi/Dokpri

Hal ini bisa ditunjukkan melalui data dari World Allergy Organization (WAO) dalam The WAO White Book on Allergy: Update 2013. Data tersebut menunjukkan angka prevalensi alergi mencapai 10-40 persen dari total populasi dunia. Menariknya, 7,5 persen dari presentase tersebut mengacu pada anak-anak yang memiliki alergi susu sapi.

Saya beruntung mendapat informasi ini saat mengikuti peringataan World Allergy Week 2019 yang diselenggarakan oleh Sarihusada pada 10 April 2019 lalu. Pada kesempatan itu hadir sejumlah narasumber kompeten yang sangat memahami terkait alergi dan bagaimana mencegah dan menyikapinya.

Mereka adalah Prof. DR. Budi Setiabudiawan, dr., SpA(k), M.Kes, Konsultan Alergi dan Imunologi Anak; Meutia Athaya, Brand Manager Allergy Care Sarihusada; serta Natasha Rizky yang merupakan aktris sekaligus seorang ibu.

Prof. DR. Budi Setiabudiawan, dr., SpA(k), M.Kes, Konsultan Alergi dan Imunologi Anak/Dokpri
Prof. DR. Budi Setiabudiawan, dr., SpA(k), M.Kes, Konsultan Alergi dan Imunologi Anak/Dokpri
Gejala Alergi

Di atas telah disebutkan sekilas terkait alergi dan pemicu alergi. Namun soal alergi tidak sesederhana itu. Banyak dari antara para ibu khususnya dan orang tua umumnya yang kurang menyadari tentang gejala alergi yang bisa muncul pada saluran pernapasan, kulit, dan saluran cerna. Tersebab kurang pemahaman ini bisa membuat langkah penanganan terkadang menjadi keliru.

Gejala alergi yang muncul pada saluran pernapasan ditandai di antaranya oleh hidung berair, bersin, hingga batuk kronis non infeksi. Dermatitis atopik (kondisi kulit kronis yang menyebabkan serangan gatal-gatal), urtikaria (hives, gatal-gatal, kaligata, atau biduran), dan bengkak di kelopak mata atau bibir merupakan gejala alergi pada kulit. Sementara itu gejala alergi pada saluran cerna ditandai oleh kolik (nyeri), sulit menelan, sering meludah, muntah, konstipasi, gagal tumbuh dan diare.

Patut dicatat, risiko alergi akan semakin tinggi apabila terdapat riwayat alergi pada keluarga. Sebanyak 40 persen hingga 60 persen kemungkinan anak mengalami alergi bila kedua orang tua memiliki riwayat alergi. Peluang kemungkinan terjadi alergi semakin besar, di angka 60 persen sampai 80 persen, apabila kedua orang tua memiliki manifestasi sama.

Bagaimana bila saudara kandung memiliki riwayat alergi? Probabilitas mengalami alergi justru semakin kecil, berkisar 25 persen hingga 30 persen. Sementara itu bila orang tua tidak memiliki riwayat alergi maka kemungkinan sang anak mengalami alergi akan jauh lebih kecil (5 persen sampai 15 persen).

Mengenal Alergi Susu Sapi

Apakah anak anda mengalami alergi susu sapi? Berapa banyak anak yang mengalami hal serupa di dunia? Melanjutkan data WAO di atas, dari 10 sampai 40 persen angka prevalensi alergi dari total populasi dunia, sebanyak 7,5 persen di antaranya merupakan anak-anak dengan alergi susu sapi.

Angka di atas menunjukkan bahwa tidak sedikit anak di dunia yang mengalami hal serupa. Apakah para ibu menyadari kondisi sebenarnya dari sang buah hati? Apakah para orang tua sudah memastikan sang anak bukan satu dari sekian juta anak yang mengalami alergi susu sapi?

Mari kita mengenal alergi susu sapi lebih jauh. Menurut Prof. DR. Budi Setiabudiawan, alergi susu sapi diakibatkan oleh respon sistem imun yang tidak normal terhadap protein susu sapi. Jenis protein yang paling sering menyebabkan alergi adalah whey dan kasein. Seorang anak bisa saja mengalami alergi terhadap salah satu atau kedua protein tersebut.

Mengutip hellosehat.com, saat seorang anak mengonsumsi susu yang menyebabkan alergi, maka sistem kekebalan tubuhnya akan menandai atau menanggapi protein yang masuk ke dalam tubuh sebagai zat berbahaya. Saat itu tubuh akan langsung menghasilkan antibodi yang berfungsi menangani alergi yang terjadi pada tubuh. Antibodi tersebut adalah immunoglobulin E (IgE).

IgE lantas mengenali protein tersebut sebagai zat berbahaya dengan mengirimkan sinyal pada tubuh untuk mengeluarkan histamin dan aneka zat kimia lain yang dapat menimbulkan gatal-gatal, kemerahan pada kulit dan gejala-gejala lain seperti mencret, diare, mata berair, flu, batuk, dan sebagainya.

Natasha Rizky (tengah)/dokpri
Natasha Rizky (tengah)/dokpri
Budi Setiawan mengatakan gejala dan tanda bisa muncul dalam berbagai tingkat keparahan. Setiap anak pun bisa berbeda-beda. Meski begitu gejala yang langsung muncul tak lama setelah anak meminum susu adalah muntah. Selain itu, akan muncul rasa gatal yang disertai bengkak dan kemerahan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3