oish-cleochyn
oish-cleochyn Serampangan

Apa adanya...

Selanjutnya

Tutup

Bulutangkis Artikel Utama

Menanti Tuah Richard Mainaky Selepas Liliyana Natsir dan Debby Susanto

1 Februari 2019   10:56 Diperbarui: 1 Februari 2019   14:07 490 6 2
Menanti Tuah Richard Mainaky Selepas Liliyana Natsir dan Debby Susanto
Atlet bulu tangkis Lilyana Natsir bertemu dengan Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (29/1/2019). Lilyana yang baru saja memutuskan untuk pensiun pamitan ke Jokowi. (KOMPAS.com/Ihsanuddin)

Bulu tangkis Indonesia baru saja "kehilangan" dua sosok penting. Mereka adalah Liliyana Natsir dan Debby Susanto. Keduanya memutuskan mundur dari gelanggang usai turnamen yang sama: Indonesia Masters 2019. Meski gantung raket profesional nyaris pada waktu bersamaan, suasana yang mengiringi berbeda.

Debby menjalani turnamen terakhir dengan hasil yang kurang memuaskan. Berpasangan dengan Ronald Alexander, keduanya terhempas di babak pertama. Mereka kalah straight set 15-21 dan 13-21 dari pasangan Jerman, Mark Lamsfuss dan Isabel Herttrich.

Butet, sapaan manis Liliyana, seperti berada di kutub berbeda. Bersama tandemnya, Tontowi Ahmad, mereka mampu melangkah jauh hingga partai final. 

Lawan-lawan tangguh dihempaskan hingga membuat pasangan nomor satu dunia, Zheng Siwei/Huang Yaqiong ketar-ketir di laga pamungkas. Owi dan Butet sempat mencuri set pertama sebelum akhirnya takluk dari pasangan yang usianya jauh lebih muda. Skor akhir pertandingan adalah 21-19, 19-21, 16-21.

Sebelum memainkan seluruh partai final, Butet mendapat apresiasi dalam sebuah acara perpisahan singkat. Ia pun turut bersuara dari atas podium. Ada yang menyebut seremoni perpisahan itu terlalu sederhana. Namun bila dibandingkan dengan Debby, apa yang dibuat untuk Butet lebih dari cukup. Sementara Debby pergi dalam diam. Tidak ada selebrasi untuk dia.

Tidak bermaksud membandingkan kedua pemain itu. Butet berkarier selama 24 tahun, sementara Debby mengakrabi olahraga itu dalam 17 tahun terakhir. Selama itu mereka berjuang dengan cara mereka, dengan setiap pasangan, untuk sejauh dapat meraih gelar. Dari mereka tidak sedikit gelar yang bisa kita banggakan.

Meski tidak sebanyak dan sementereng Butet, Debby pernah membanggakan Indonesia di sejumlah turnanem utama. All England 2016 dan Korea Open 2017 bersama Praveen Jordan adalah beberapa dari antaranya.

Debby Susanto menjuarai All England 2016 bersama Praveen Jordan/badmintonindonesia.org
Debby Susanto menjuarai All England 2016 bersama Praveen Jordan/badmintonindonesia.org
Debby juga cukup berjaya di ajang multievent tingkat Asia Tenggara. Bersama Mohammad Rijal meraih emas SEA Games 2013, dan menorehkan prestasi yang sama dua tahun kemudian bersama Ucok, panggilan akrab Praveen Jordan.

Sementara Butet prestasinya lebih mengular panjang dengan pencapaian tertinggi adalah "hattrick" juara dunia dan emas olimpiade 2016. Tidak banyak pebulutangkis di dunia yang bisa naik podium tertinggi di pesta olahraga tingkat dunia itu di usia 30 tahun.

Dari segi konsistensi, Debby, juga para pebulutangkis muda lainnya memang patut meniru Butet. Hingga berusia lewat kepala tiga pun, Butet masih tetap berada di garda terdepan sektor ganda campuran.

Hingga keputusan yang penting itu datang dan saaat mengharukan itu tiba, ia tetap menjadi yang terbaik. Butet tetaplah playmaker yang membuat Owi bisa tampil maksimal. Butet tetaplah jagoan di lini depan yang bisa berduel dengan playmaker-playmaker China lintas generasi.

Kompas.com
Kompas.com
Hingga "perceraian" dengan Owi, keduanya adalah ganda campuran Indonesia dengan rangking dunia terbaik. Tambahan 7.800 poin dari Indonesia Masters Super 500 tahun ini, mereka bisa mengamankan posisi empat besar.

Situasi inilah yang membuat insan bulu tangkis Indonesia berat melepaskan Butet. Ditambah lagi, Debby juga memutuskan mundur untuk menikmati suasana yang lebih intens dengan keluarga. Kehilangan ganda pada waktu bersamaan.

Saat para pemain senior mundur, idealnya kita sudah mendapatkan penerus yang sepadan. Dengan kata lain, pada waktu yang sama kita sudah memiliki pelapis dengan kualitas yang tak jauh berbeda. Namun asa itu seperti jauh panggang dari api.

Tengok saja performa para penerus Owi/Butet saat ini. Lihat saja bagaimana rangking pasangan Indonesia lainnya. Kecuali Owi/Butet, tak ada satu pun yang bercokol di peringkat 10 besar. Pasangan dengan rangking terbaik adalah Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjadja dan Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti yang berturut-turut di posisi 14 dan 15 BWF.

Kita masih memiliki Rinov Rivaldy/Pita Haningtyas Mentari. Juga Alfian Eko Prasetya/Marsheilla Gischa Islami. Namun mereka masih tercecer di peringkat 26 dan 29. Tiga tingkat di belakang kedua pasangan itu ada Akbar Bintang Cahyono/Winny Oktavina Kandow dan Ronald Ronald/Annisa Saufika.

Bisa asal Konsisten

Di satu sisi kita patut menyesali mundurnya Butet dan Debby terjadi tidak pada waktu yang tepat. Mereka meninggalkan arena di saat para penerus belum benar-benar siap menerima tongkat estafet. Namun sedalam-dalamnya kita menyesal dan sebesar-besarnya kita berharap, mereka telah mengambil pilihan.

Bagi Butet, sudah saatnya ia mengambil jeda. Apalagi ia sudah lama mengirim signal pensiun. Kita sempat memintanya tetap bertanding di Olimpiade 2016. Ia pun patuh. Usai merebut emas di Rio de Janeiro, kita masih merayunya untuk terus bertahan hingga Asian Games 2018. Lagi-lagi, ia tak menampik.

Di sisi lain, ini menjadi lecutan bagi para suksesor untuk bekerja lebih keras. Sudah saatnya mereka mengambil tanggung jawab lebih, dan membuang jauh-jauh harapan bahwa Indonesia masih memiliki Owi dan Butet sebagai ujung tombak.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2