oish-cleochyn
oish-cleochyn Serampangan

Apa adanya...

Selanjutnya

Tutup

Bulutangkis Pilihan

Beda Nasib Indonesia dan Jepang di Dua Turnamen Super100

29 Juli 2018   17:30 Diperbarui: 29 Juli 2018   17:41 275 0 0
Beda Nasib Indonesia dan Jepang di Dua Turnamen Super100
Ihsan Maulana gagal di final Yonex Akita Masters Japan Super100/Foto dari Badminton Association of Thailand

Selama sepekan terakhir di dua tempat berbeda berlangsung dua turnamen bulutangkis level Super100 yakni Japan Master dan Russia Open. Dan kedua turnamen grade dua level enam itu berakhir pada hari yang sama, Minggu (29/07/2018). Hasil berbeda diperoleh Indonesia dan negara-negara dengan tradisi kuat di dunia bulutangkis dunia seperti Jepang.

Di Vladivostock, tempat Russia Open digelar Jepang meloloskan tiga wakil masing-masing di nomor tunggal putra dan putri serta ganda putri. Hasilnya, negeri Sakura hanya mampu mendulang satu gelar melalui Chisato Hoshi/Kie Nakanishi yang mengandaskan unggulan satu dari Malaysia, Chow Mei Kuan/Lee Meng Yean, 21-11 21-18 dalam tempo 42 menit.

Sementara di dua nomor lain, gelar juara jatuh ke tangan Malaysia dan India. Yen Mei Ho menduduki podium tertinggi tunggal putri setelah membekuk Shiori Ebihara melalui pertarungan rubber set, 22-20 11-21 dan 21-18. Sedangkan tunggal putra Jepang, Koki Watanabe harus mengakui keunggulan unggulan delapan Sourabh Verma setelah berjuang tiga game, 18-21 21-12 dan 21-17.

Tuan rumah hanya kebagian satu gelar dari nomor ganda campuran. Itupun melalui pasangan gado-gado Vladimir Ivanov dan Min Kyung Kim asal Korea. Keduanya mengalahkan unggulan dua dari India, Roan Kapoor/Kuhoo Garg, 21-19 dan 21-17.

Satu lagi peluang gelar pupus setelah unggulan dua, Konstantin Abramov/Alexandr Zichenko tak bisa menuntaskan pertandingan. Gelar ganda putra pun menjadi milik pasangan Malaysia, Mohamad Arif Ab Latif Arif/Nur Mohd Azriyn Ayub Azriyn.

Hasil final Russia Open S100 2018/Gambar dari tournamentsoftware.com
Hasil final Russia Open S100 2018/Gambar dari tournamentsoftware.com
Tidak seperti Indonesia, Jepang mampu membagi perhatian dengan sama baik dengan kejuaraan yang berlangsung di tanah airnya. Bila Indonesia tak bisa berbuat apa-apa di Rusia, para wakil Jepang malah bisa berbicara banyak, nyaris sama meyakinkan dengan kejuaraan bertajuk Yonex Akita Masters Japan Super100 itu. 

Sederet pertanyaan pun mengemuka. Sejenak menepikan prestasi, apakah Indonesia kekurangan stok pemain muda untuk diterjunkan di dua turnamen pada waktu bersamaan? Bila Jepang mampu mengirim banyak pemain, mengapa Indonesia tidak? Mengapa Indonesia membuang kesempatan untuk memberi jam terbang kepada para pemain pelatnas pratama?

Entah apa yang menjadi pertimbangan PBSI untuk lebih fokus ke Japan Master ketimbang Russia Open. Bisa jadi soal jarak. Bisa jadi juga pertimbangan lawan tanding. Jangan sampai para pemain Indonesia kurang mendapat lawan yang bisa memberi banyak pelajaran.

Kita fokus ke Japan Open. Meski bermain di Jepang, salah satu negara dengan rantai regenerasi yang sangat panjang, para pemain Indonesia mampu berbicara banyak. Terbukti, tiga wakil Indonesia mampu merangsek hingga ke partai final. Mereka adalah Ihsan Maulana Mustofa di nomor tunggal putra serta dua pasangan ganda, masing-masing  Alfian Eko Prasetya/Angelica Wiratama lolos di ganda campuran dan Akbar Bintang Cahyono/Reza Pahlevi Isfahani di nomor ganda putra.

Tiga wakil ini terseleksi dari empat wakil Merah Putih setelah Rinov Rivaldy/Pitha Mentari gagal melewati hadangan ganda campuran tuan rumah, Kohei Gondo/Ayane Kurihara. Kekalahan juara dunia junior ini cukup disesali.

Keduanya memiliki potensi untuk meraih gelar juara. Selain menjadi pasangan yang padu, masing-masing memiliki pukulan silang yang sukar dibaca lawan. Secara pribadi, Pitha memilik permainan depan yang baik. Sementara Rinov memiliki "power" yang baik untuk melancarkan smes keras.

Sayangnya pasangan rangking 95 dunia ini masih memiliki kekurangan yang tidak sedikit. Beberapa dari antaranya adalah soal servis dan pertahanan. Pertahanan keduanya masih mudah ditembus. Belum lagi kemampuan menguasai lapangan yang masih harus diasah. Bila asyik menyerang, terkadang mereka lupa untuk mengamankan area pertahanan.

Namun demikian hasil ini memberikan sinyal positif. Keduanya adalah pasangan masa depan. Selain latihan intensif, hal yang tak kalah penting adalah menambah jam terbang. Setelah bergulat di level Internationan Challenge dan Super100 sepanjang tahun ini tidak salahnya bila mereka mendapat kesempatan lebih baik di level tersebut maupun coba diadu dengan para pemain top di level yang lebih tinggi.

Dari tiga wakil yang bertanding di partai pamungkas, Indonesia harus puas dengan satu gelar. Alfian Eko Prasetya/Angelica Wiratama gagal mencapai klimaks saat menghadapi Kohei Gondo/Ayane Kurihara. Pasangan tuan rumah berhasil memenangkan pertarungan tiga game dengan skor 9-21, 23-21, 17-21.

Alfian dan Angelica sebenarnya diharapkan mampu menginjak podium tertinggi. Pasalnya keduanya mampu menyingkirkan unggulan pertama asal Taiwan di babak semi final. Kemenangan atas Chang Ko Chi/Cheng Chi Ya 21-16, 17-21, 21-14 ternyata tidak berlanjut ketika menghadapi sesama pasangan non unggulan.

Kekalahan ini semoga memotivasi mereka. Sebagai pasangan baru hasil ini jelas menjadi awal yang baik. Alfian yang sebelumnya pernah menjadi juara Vietnam Open GPG 2017 bersama Melati Daeva dan Finnish IC 2018 bersama Gischa diharapkan mampu memotivasi partner barunya untuk sama-sama meningkatkan level permainan. Selain teknik dan mental, komunikasi di antara mereka harus diperbaiki.

Antiklimaks juga terjadi pada Ihsan Maulana. Dijagokan ditempat kedua tak membuat pemain berusia 22 tahun ini meningkatkan ekpektasi menjadi juara. Pemain asal Tasikmalaya ini menyerah straight set dari Sittikhom Thammasin.

Kekalahan 10-21 dan 13-21 dari pemain Thailand itu meninggalkan banyak catatan. Di satu sisi, peringkat Ihsan lebih baik dari lawannya. Ihsan berada di rangking 40 sementara pemain Thailand itu berada 16 strip di belakangnya.

Di sisi lain, mental bermain Ihsan masih menjadi tanda tanya. Kedua pasangan sudah tiga kali bertemu. Sitthikom pernah mengalahkan Ihsan di perempatfinal Kejuaraan Asia Junio 2013 untuk mengunci kemenangan di dua pertemuan. Namun Ihsan mampu meraih kemenangan di pertemuan terakhir di Malaysia Masters 2015.

Setelah tiga pertemuan itu perkembangan Ihsan jauh lebih baik. Ia sukses menjejaki final di empat turnamen mulai dari Dutch GPG 2014, Thailand Open GPG 2015, Macao GPG 2017 dan terakhir di Japan S100. Namun tak satupun yang berbuah gelar juara. Di Dutch GPG ia menyerah dari Ajay Jayaram asal India. Selanjutnya, berturut-turut takluk di hadapan Lee Hyun-il asal Korea, Kento Momota dari Jepang dan terkini Sitthikom.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2