oish-cleochyn
oish-cleochyn Serampangan

Apa adanya...

Selanjutnya

Tutup

Bulutangkis Pilihan

Dari Indonesia Open Menuju Asian Games, Sukses Infrastruktur Berlanjut Prestasi

9 Juli 2018   01:36 Diperbarui: 9 Juli 2018   10:18 490 0 0
Dari Indonesia Open Menuju Asian Games, Sukses Infrastruktur Berlanjut Prestasi
Marcus Gideon dan Kevin Sanjaya juara Indonesia Open 2018 (www.badmintonindonesia.org)

Kebahagiaan para pencinta bulu tangkis Indonesia Minggu (8/7/2018) nyaris paripurna. Betapa tidak. Kesuksesan penyelenggaraan Indonesia Open Super 1000 berpelukan dengan pencapaian di lapangan pertandingan. 

Sebagai tuan rumah turnamen level dua, di belakang World Tour Finals, Indonesia berhasil menyabet dua gelar. Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir menjadi yang terbaik di nomor ganda putra dan ganda campuran.

The Minions hanya butuh 31 menit untuk menjungkalkan ganda Jepang, Takuto Inoue/Yuki Kaneko. Kemenangan straight set 21-13, 21-16 itu sekaligus menggagalkan Negara Sakura meraih gelar lebih banyak dari Indonesia.

Sementara Owi/Butet kembali memenangi "rematch" final Olimpiade Rio menghadapi Chan Peng Soon/Goh Liu Ying. Pasangan Malaysia ini tak bisa berbuat apa-apa, tidak seperti saat menumbangkan rangking satu dan dua dunia asal China yakni Wang Yilyu/Huang Dongping di perempat final dan Zheng Siwei/Huang Yaqiong dalam perebutan tiket final. Kekalahan telak 21-17 dan 21-8 membuat pasangan Malaysia ini tertinggal jauh dalam sejarah pertemuan kedua pasangan, 1-10.

Kekalahan Chan/Goh membuat Malaysia bernasib sama seperti China. Mereka pulang dengan tangan hampa. Harapan semata wayang Negeri Tirai Bambu, Chen Yufei tak bisa berbuat banyak saat menghadapi unggulan teratas, Tai Tzu Ying. Tunggal putri nomor satu dunia itu menang rubber set 21-23, 21-15 dan 21-9.

Empat gelar lainnya dibagi rata antara Indonesia dan Jepang. Kento Momota menjuarai nomor tunggal putra dengan mengalahkan unggulan satu, Viktor Axelsen. Momota terus menunjukkan performa gemilang, menandai "comeback" setelah absen selama satu setengah tahun dengan kemenangan 21-14 dan 21-9. Satu gelar lainnya direbut dari nomor ganda putri setelah terjadi final sesama pasangan Jepang. Yuki Fukushima/Sayaka Hirota memenangi perang saudara atas Mayu Matsumoto/Wakana Nagahara, 21-14, 16-21 dan 21-14.

Indonesia memang tak bisa mengulangi pencapaian terbaik sepanjang penyelenggaraan turnamen ini pada 2001. Saat itu, tuan rumah menyapu bersih gelar juara melalui Marleve Mainaky, Ellen Angelina, Candra Wijaya/Sigit Budiarto, Deyana Lomban/Vita Marissa, dan Trikus Haryanto/Emma Ermawati. Namun pencapaian tahun ini lebih baik dari tahun lalu yang hanya bisa meraih satu gelar dan jauh lebih baik dari tiga edisi sebelum itu yang tanpa gelar.

Hasil lengkap Indonesia Open 2018/www.tournamentsoftware.com
Hasil lengkap Indonesia Open 2018/www.tournamentsoftware.com
Kaca pengilon

Selain itu pencapaian ini memberikan isyarat positif jelang perhelatan Asian Games pada Agustus mendatang. Boleh dikata ini adalah salah satu turnamen pemanasan selain Kejuaraan Dunia pada 30 Juli hingga 5 Agustus atau 14 hari sebelum cabang olahraga ini dipertandingkan kembali di Istora.

Pada Asian Games kali ini Indonesia menargetkan sedikitnya tiga emas. Target ini lebih tinggi dari pencapaian 4 tahun lalu di Incheon, Korea Selatan. Saat itu Indonesia meraih dua emas, satu perak dan satu perunggu. 

Emas dari nomor ganda putra perorangan melalui Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan serta Nitya Krishinda Maheswari/Greysia Polii di ganda putri perorangan. Dua pasangan ganda campuran masing-masing Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir dan Praveen Jordan/Debby Susanto masing-masing merebut perak dan perunggu.

Mengacu pada target ini berarti Indonesia masih harus membidik satu nomor lagi untuk menyumbang emas selain ganda putra dan ganda campuran. The Minions dan Owi/Butet tentu saja. Satu nomor lagi menyasar pada ganda putri melalui pasangan berbeda generasi Greysia Polii dan Apriyani Rahayu. Bagaimana sektor tunggal, baik putra maupun putri?

Indonesia Open kali ini menjadi kaca pengilon melihat sejauh mana kekuatan Indonesia di Asian Games nanti. Sebagai turnamen Premier of Premier semua pebulutangkis terbaik Asia ambil bagian. Begitu juga Indonesia.

Pertama, tunggal putra. Kemenangan Momota tidak hanya menjadi pukulan telak bagi kedigdayaan Axelsen. Tetapi juga menjadi ancaman terbesar bagi para pemain tunggal Asia lainnya.

Pekan lalu Momota ke final Malaysia Open, meski akhirnya kandas dari andalan tuan rumah, Lee Chong Wei. Tetapi pemain yang sempat tersandung masalah perjudian ini mampu bangkit. Ia balas dendam atas legenda Malaysia itu di semi final. Sempat tertinggal jauh di awal set, Momota lantas memimpin dan mengunci kemenangan straight set, 23-21 dan 21-12.

Setelah kembali ke lapangan dalam setahun terakhir, pemain 23 tahun itu sudah mengalahkan hampir semua pebulutangkis di lingkaran 10 besar dunia, mulai dari Ng Ka Long, Chen Long, Chou Tien Chen, Srikanth Kidambi, Chong Wei, Shi Yuqi, Son Wan Ho hingga Axelsen. Tidak terkecuali atas para pemain Indonesia.

Ornamen menarik di pintu masuk Istora Senayan/Dokpri
Ornamen menarik di pintu masuk Istora Senayan/Dokpri
Di Indonesia Open kali ini Momota menjungkalkan Anthony Ginting dua game langsung di babak kedua. Tunggal terbaik Indonesia ini menyerah 14-21 dan 15-21. Ini merupakan kekalahan kedua secara beruntung setelah sempat unggul 13-7 di pertengahan set kedua. Pemain lainnya, Jonatan Christie lebih dulu angkat koper di babak pertama, dihentikkan Axelsen. Dari skema ini cukup logis ditarik kesimpulan. Momota menjadi momok para pemain tunggal Indonesia.

Lantas apa yang bisa dilakukan dalam sisa waktu jelang Asian Games? Hal paling jelas adalah belajar dari karakter pemain rangking delapan yang akan segera melejit ke urutan dua dunia. Momota memiliki banyak keunggulan, yang beberapa dari antaranya tidak dimiliki para pemain Indonesia saat ini.

Pemain ini tidak hanya memiliki fisik yang kuat dan gerak yang lincah. Ia merupakan pemain yang sangat ulet dan jarang membuat kesalahan sendiri. Selain itu, ia pandai menjaga stamina, fokus dan konsisten. Ibaratnya tidak sekali bertanding langsung menyerah, sekali melangkah jauh lantas terjerembab tak lama berselang.

Selain Momota, para pemain China adalah ancaman lainnya. Kali ini Istora menjadi "kuburan" bagi Lin Dan dan kawan-kawan. Tampil dengan kekuatan penuh, Lin Dan, Chen Long dan Shi Yuqi, China hanya bisa mengirim Yuqi hingga semi final, sebelum ditaklukkan Axelsen. Meski sejak Indonesia Open 1989, setelah Ciong Guabao naik podium tertinggi, China belum lagi menjadi juara, Asian Games bisa menjadi ajang penebusan atas kegagalan sejarah yang panjang itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3