oish-cleochyn
oish-cleochyn Serampangan

Apa adanya...

Selanjutnya

Tutup

Bulutangkis Artikel Utama

China Butuh 6 Tahun Juara Piala Thomas, Indonesia Kapan?

27 Mei 2018   23:05 Diperbarui: 29 Mei 2018   09:27 1955 5 5
China Butuh 6 Tahun Juara Piala Thomas, Indonesia Kapan?
Tim putra China dengan trofi Piala Thomas/gambar dari @antoagustian

China akhirnya berhasil membawa pulang trofi Piala Thomas. Di partai final yang digelar di Impact Arena, Bangkok, Thailand, Minggu (27/05/2018), Negeri Tirai Bambu itu sukses membungkam Jepang dengan skor 3-1. Kemenangan China ini sekaligus mengandaskan harapan Jepang untuk mengawinkan gelar, setelah sehari sebelumnya berhasil merengkuh Piala Uber. Dengan demikian baru dua negara yang mampu meraih dua trofi itu dalam satu pagelaran, yakni China dan Indonesia. Prestasi terbaik Indonesia ditorehkan pada 1994 di Jakarta dan mengulanginya dua tahun kemudian di Hong Kong.

China pun semakin mendekati Indonesia dalam koleksi gelar Piala Thomas. Tambahan satu gelar ini membuat China kini telah mengemas 10 gelar, berjarak tiga gelar dari Indonesia. China terakhir kali menjadi juara pada 2012 di Wuhan, melengkapi torehan lima gelar secara beruntun sejak 2004 di Jakarta. Dengan demikian Negara Panda itu hanya butuh enam tahun untuk kembali merengkuh lambing supremasi beregu tersebut. Lantas, bagaimana Indonesia?

Sebelum berbicara tentang Indonesia, mari kita lihat pertandingan final hari ini. Kedua tim sama-sama menurunkan amunisi terbaik. Namun Jepang melakukan sejumlah rotasi, terutama di sektor ganda. Takuto Inoue dan Yuki Kaneko diturunkan sebagai ganda pertama, menyusul Kento Momota di partai pertama. Sementara itu pasangan senior, Takeshi Kamura dan Keigo Sonoda dipisah.

Kamura diistirahatkan untuk memberi tempat kepada pemain muda, Yuta Watanabe. Sebenarnya Jepang bisa saja memainkan Keigo dan Sonoda yang sangat berpengalaman dan menjadi pasangan Jepang dengan rangking tertinggi. Tetapi mereka malah memberi tempat pertama kepada Inoue dan Kaneko mengingat lawan yang dihadapi adalah Liu Cheng dan Zhang Nan. 

Meski Inoue dan Kaneko berperingkat lebih rendah, yakni 11 berbanding 3, namun pasangan ini memiliki catatan bagus menghadapi pasangan berbeda generasi dari China itu. Pasangan Jepang itu mencatatkan kemenangan dalam satu-satunya pertemuan sebelumnya di Hong Kong Open 2017. Saat itu Inoue dan Kaneko menang usai bertanding rubber set, 18-21 21-17 19-21.

Apakah itu satu-satunya alasan Inoue dan Kaneko menjadi ganda pertama? Tentu tidak. Jepang bisa saja tetap mengandalkan Kamura dan Sonoda toh pasangan ini mampu memetik kemenangan di pertemuan terakhir menghadapi Cheng dan Nan. Namun, performa pasangan berperingkat enam dunia itu kurang meyakinkan kali ini. Keduanya sudah menelan dua kali kekalahan.

Tak heran bila Jepang berani membongkar pasang dengan mentandemkan Sonoda dan Watanabe sebagai ganda kedua. Watanabe memang masih berusia 20 tahun, tetapi sudah mampu menjuarai level super series premier atau sekarang disebut Super 1000 yakni di ajang All England. Selain itu, kombinasi senior dan junior itu belum pernah bertemua dua tembok raksasa China itu. Secara psikologis tidak terlalu terpengaruh, meski secara peringkat Li dan Liu berada di atas semua pasangan Jepang.

Bagaimana hasilnya? Inoue dan Kaneko gagal menyumbang poin kedua. Keduanya menyerah straight set 21-10 21-18 dari pasangan juara dunia itu. Sementraa eksperimen kedua yang dilakukan nyaris berhasil. Sonoda dan Watanabe hampir saja memaksa pertandingan berlanjut hingga partai kelima. 

Keduanya berhasil mencuri game pertama, namun gagal mempertahankan keunggulan di game kedua, dan memaksimalkan keunggulan di poin kritis di set penentuan. Watanabe terlihat gugup saat memegang "match point" dalam kedudukan 20-18. Situasi ini justru dimanfaatkan Li/Liu untuak mengejar ketertinggalan dan mengunci kemenangan, 17-21 21-19 22-20 dalam tempo 1 jam dan 10 menit.

Liu Cheng and Zhang Nan/gambar dari bwfthomasubercups.com
Liu Cheng and Zhang Nan/gambar dari bwfthomasubercups.com
Meski gagal memperpanjang nafas Jepang, keduanya sudah menampilkan performa ciamik. Mereka mampu menyulitkan dua pemain jangkung. Secara postur Watanabe kalah tinggi. Ia hanya bertinggi badan 1,65 m. Bandingkan dengan Li yang menjulang setinggi 1,95. 

Selain paling muda, Watanabe juga paling kecil dalam tim. Meski begitu kelincahan dan pergelangan tangannya kuat sehingga mampu beradu dengan para lawan yang berpostur lebih tinggi dan memiliki pukulan yang kuat.

Selain Watanabe, pemain lain yang cukup mencuri perhatian di partai final ini adalah Kento Momota. Sejak kembali ke tim nasional usai tersandung masalah perjudian, Momota langsung tancap gas. Pemain berusia 23 tahun tidak butuh waktu lama untuk kembali bersaing di jajaran elite dunia, seperti pernah dilakukan sebelum tersandung masalah.

Di piala Thomas kali ini, pemain yang pernah menghuni rangking dua dunia itu tak pernah kalah. Tak heran ia menjadi salah satu pemain kunci meraih poin. Lolosnya Jepang ke partai puncak tidak lepas dari andil Momota. Sebagai tunggal pertama di partai pertama, Momota selalu berhasil membuka jalan dengan kemenangan. Tentu ini membangkitkan rasa percaya diri para pemain lain.

Di partai final, Momota mampu menjungkalkan Chen Long. Meski Chen lebih dominan dalam lima pertemuan sebelumnya, dengan empat kemenangan pertama, Momota tak gentar. Tidak hanya mengimbangi permainan net Chen, sesekali Momota membuat pemain berperingkat lima dunia itu separuh tak percaya. Bila jawara Olimpiade Rio 2016 ini terkenal dengan permainan netting yang ciamik, Momota bahkan mampu mengkreasi permainan netting sangat tipis tanpa bisa dijangkau Chen.

Tidak hanya netting yang tipis, Momota juga memiliki senjata mematikan lainnya. Beberapa senjata itu adalah smash yang tajam dan akurasi pukulan yang tinggi. Skill tersebut dipadu dengan kesabaran, keuletan dan kepintaran. Ia tahu kapan harus menyerang dan kapan harus memancing lawan. Tidak hanya itu Momota hampir jarang melakukan kesalahan sendiri.

Kento Momota usai mengalahkan Chen Long di final Piala Thomas 2018/foto dari http://www.badmintonplanet.com
Kento Momota usai mengalahkan Chen Long di final Piala Thomas 2018/foto dari http://www.badmintonplanet.com
Bila harus memilih siapa pemain Jepang yang menjadi kunci, nama Momota patut disebut pertama. Jepang bisa mengejutkan hingga partai final karena Momota tak terkalahkan. Para pemain yang lebih diunggulkan seperti Ng Ka Long (Hong Kong), Chou Tirn Chen (Taiwan) hingga pemain nomor satu dunia asal Denmark, Viktor Axelsen dibuat tak berkutik.

Sayangnya kecemerlangan Momota gagal diikuti Kenta Nishimoto. Tungga kedua ini gagal mencuri poin dari Shi Yuqi. Meski di pertemuan terakhir, Nishimoto-kini berperingkat 14 dunia, sanggup mengalahkan Yuqi, kali ini ia tak kuasa meladeni juara All England itu. Kenta menyerah dua game langsung, 21-12 21-17 dalam tempo 45 menit.

Hasil final Piala Thomas 2018/www.tournamentsoftware.com
Hasil final Piala Thomas 2018/www.tournamentsoftware.com
Berapa lama Indonesia menanti?

Kembali ke pertanyaan sebelumnya. Bila China butuh enam tahun untuk kembali menjadi juara, berapa lama waktu yang dibutuhkan Indonesia untuk kembali ke podium tertinggi? Indonesia terakhir kali menjadi juara pada 2002 di Guangzhou, usai menumbangkan Malaysia dengan skor 3-2. Bila demikian Indonesia sebenarnya sudah menanti selama 16 tahun. Lantas, berapa lama lagi Indonesia harus menanti?

Tentu pertanyaan ini tidak mudah. Tidak bisa dihitung secara matematis pula. Tidak ada kalkulasi yang adil dan akurat untuk membandingkan satu sama lain. Dengan mengabaikan periode awal, China bahkan pernah berada dalam masa penantian yang cukup lama sejak menjadi juara pada 1990 di Tokyo dan baru bisa mengulanginya di Jakarta 12 tahun kemudian.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2