oish-cleochyn
oish-cleochyn Serampangan

Apa adanya...

Selanjutnya

Tutup

Bulutangkis Pilihan

Kemilau Gregoria "Jorji" Mariska di Tim Uber yang Belum "Move On"

24 Mei 2018   20:24 Diperbarui: 24 Mei 2018   20:47 712 1 0
Kemilau Gregoria "Jorji" Mariska di Tim Uber yang Belum "Move On"
Gregoria Mariska/gambar dari badmintonindonesia.org

Harapan publik Indonesia untuk melihat Tim Uber Indonesia berbicara banyak di Bangkok, Thailand kali ini masih terus menggantung. Sejak edisi 2012 di Wuhan, China, berlanjut di New Delhi, India dan Kunshan, China, dua tahun lalu, sepak terjang tim Indonesia berakhir di perempat final. Tim putri Indonesia belum bisa "move on" dari delapan besar.

Kali ini Fitriani dan kawan-kawan dijegal tuan rumah. Meski kalah tipis 2-3, Indonesia tetap tak mampu melewati pencapaian di tiga edisi sebelumnya. Itulah hasil terbaik yang bisa dipetik bulu tangkis Indonesia di turnamen beregu ini.

Bermain di kandang lawan, Indonesia telah berusaha bermain maksimal. Awal kurang meyakinkan dari Fitriani, berhasil ditebus oleh Greysia Polii dan Apriyani Rahayu. Fitriani menjadi bulan-bulanan mantan pemain nomor satu dunia, Ratchanok Intanon.

Entah apa yang terjadi dengan Fitriani kali ini. Alih-alih memberikan sedikit perlawanan, pemain berusia 19 tahun itu menyerah mudah, 8-21 dan 7-21. Tidak sulit rupanya bagi pemain Thailand yang kini berperingkat empat dunia itu menyumbang poin pertama. Ia hanya butuh 33 menit menyudahi perlawanan sekaligus menegaskan dominasnya atas pemain asal Garut, Jawa Barat itu. Dalam tiga pertemuan terakhir, Ratchanok selalu menang, termasuk perjumpaan terakhir di Indonesia Masters yang berakhir dua game langsung, 17-21 dan 16-21.

Pasca kekalahan ini, nama Fitriani langsung menjadi buah bibir di kalangan pencinta bulu tangkis tanah air. Ia dinilai tak mengalami perkembangan baik dalam teknik maupun mental. Ia menjadi satu-satunya pemain yang belum juga menyumbang kemenangan bagi Tim Uber kali ini. Sejak ambil debut di turnamen beregu, prosentase sumbangsihnya berada di bawah 50 persen. Ia baru menyumbang enam kemenangan dan sembilan pertandingan lainnya berakhir dengan kekalahan.

Kali ini Fitriani tidak harus menanggung semua komentar miring itu. Beban yang dipikulnya terlalu berat.  Selain menghadapi lawan yang memiliki rangking lebih baik dan pengalaman yang lebih teruji, ia pun mendapat tekanan tambahan dari publik tuan rumah.

Indonesia sempat menjaga asa setelah Greysia Polii dan Apriyani Rahayu "melibas" Jongkolphan Kititharakul/Rawinda Prajongjai. Pasangan berperingkat enam dunia itu menang straight set 21-11 21-16.  Kemenangan atas pasangan berperingkat delapan dunia itu membuat skor imbang. Patut dicatat di pertandingan ini, pasangan berbeda generasi itu menampilkan sisi pertahanan yang luar biasa. Tembok kokoh yang dibangun membuat lawan frustrasi. Mereka akhirnya mampu mengunci perolehan poin lawan di angka 16 dengan meraih enam poin beruntun setelah skor sempat tipis 15-16.

Greysia Polii dan Apriyani Rayahu/gambar dari badmintonindonesia.org
Greysia Polii dan Apriyani Rayahu/gambar dari badmintonindonesia.org
Di partai ketiga, Gregoria Mariska sukses mewujudkan harapan pencinta bulu tangkis Indonesia. Ia sukses membalikkan keadaan setelah menumbangkan Nichaon Jindapol. Tidak main-main, Jorji menang dua game langsung atas pemain berperingkat 11 dunia itu. Meski harus bermain habis-habisan, Jorji yang kini berada di rangking 35 dunia mampu menyudahi perlawanan Nichaon dalam dua game, 21-10, 22-20.

Kemenangan Gregoria gagal diikuti Della Destiara Haris/Rizki Amelia Pradipta. Alih-alih menyumbang poin untuk memastikan kemenangan Indonesia, keduanya malah bertekuk lutut di hadapan Puttita Supajirakul/Sapsiree Taerattanachai. Della Rizki kalah 20-22 dan 12-21 usai bermain 55 menit.

Kekalahan ini cukup disayangkan. Nomor ganda sebenarnya menjadi harapan untuk menyumbang poin. Della/Rizki sejatinya berpeluang menang andaisaja mampu memanfaatkan momentum di babak pertama. Sempat tertinggal 11-17, keduanya mampu menyamakan kedudukan, 18-18. Sayang ritme positif yang telah dibangun berubah negatif di poin-poin kritis. Di babak kedua, keduanya gagal lepas dari tekanan, malah tertinggal cukup jauh.

Setelah pertandingan keduanya mengakui titik lemah utama. Mereka tak mampu keluar dari tekanan dan terbawa permainan lawan. Sementara itu menurut pelatih ganda putri, Eng Hian, konsistensi anak asuhnya masih menjadi persoalan.

"Pada saat mereka bisa bermain dengan cukup bagus, itu grafiknya bisa di angka 9 atau 10. Tapi saat mereka tidak bermain bagus, bisa turun sampai di angka 2," ungkap Eng Hian kepada badmintonindonesia.org.

Persoalan utama tidak pada teknik, tetapi mental. Keduanya tak mampu menghadapi tekanan dan mengubah pola permainan. Bisa jadi tekanan besar yang dialami membuat mereka gagal menampilkan permainan terbaik. Ekpektasi besar yang dibebankan kepada mereka justru berakhir petaka.

Di partai penentuan, Ruselli Hartawan belum bisa melewati tantangan Busanan Ongbamrungphan. Ia gagal mengulangi penampilan gemilang seperti  saat menaklukkan Li Xuerui kemarin. Meski telah berjuang "all out", Busanan, berperingkat 22 tahun itu masih terlalu tangguh. Busanan menegaskan diri sebagai salah satu pemain dengan pengalaman dan mental teruji. Ia belum pernah kalah ketika dimainkan sebagai tunggal ketiga di turnamen beregu sejak level junior.

Kemenangan Busanan 9-21 12-21 sekaligus memastikan langkah Thailand ke perempat final menghadapi China. Sekaligus menambah keunggulan dalam rekor pertemuan menjadi 2-0. Di pertemuan pertama di Kejuaraan Dunia Junior 2014, Ruselli menyerah 16-21 dan 13-21.

Kemilau Jorji

Dengan tanpa mengabaikan para pemain lain, nama Gregoria patut disebut. Pemain 18 tahun ini bermain baik sepanjang turnamen. Menghadapi Nichaon hari ini, Jorji menunjukkan semangat juang tinggi. Ia menutup kemenangan dua game langsung dengan aksi ciamik. Pemain kelahiran Wonogiri itu mampu membalikkan bola meski sudah berada dalam posisi sulit. Nichaon hanya bisa melongo tak percaya.

Kemenangan atas Nichaon melengkapi hasil sempurnanya di Piala Uber kali ini. Ia sukses meraih empat kemenangan, termasuk mengalahkan tiga pemain unggulan dengan rangking yang lebih tinggi. Selain Nichaon, Jorji lebih dulu membuat mantan juara dunia, Li Xuerui tak berdaya.

Konsistensi Jorji mengingatkan kita pada An Se Yeong, pemain muda Korea Selatan. Pemain junior kelahiran 2002 itu kembali menjadi penentu kemenangan tim saat menghadapi Kanada. Kemenangan atas Britney Tam, 21-13, 19-21, 21-11 hari ini mengantar negaranya ke semi final.

Selain Jorji, potensi Ruselli pun harus terus dirawat. Selain itu memaksimalkan sektor ganda sebagai harapan menyumbang poin. Susunan pemain hari ini sudah tepat. Itulah "line up" dengan materi terbaik. Semoga skuad Indonesia yang didominasi pemain muda ini terus diasah agar lebih siap menghadapi event akbar selanjutnya yakni Asian Games 2018.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2