oish-cleochyn
oish-cleochyn Serampangan

Apa adanya...

Selanjutnya

Tutup

Bulutangkis Pilihan

Peluang Tim Thomas dan Uber Indonesia di Perempat Final, Siapa Bakal "Dikorbankan"?

24 Mei 2018   11:05 Diperbarui: 24 Mei 2018   11:35 746 1 2
Peluang Tim Thomas dan Uber Indonesia di Perempat Final, Siapa Bakal "Dikorbankan"?
Gambar dari badmintonindonesia.org

Hari ini Impact Arena, Bangkok, Thailand, akan menjadi panggung perebutan tiket semi final Piala Thomas dan Uber 2018. Menyusul undian tadi malam, usai menuntaskan penyisihan grup, pertemuan yang dikehendaki dan tak dikehendaki terjadi.

Tim Uber Kanada dan Tim Thomas Prancis akan berusaha menjaga momentum sebagai tim kejutan kali ini. Mereka akan menghadapi tim-tim langganan kompetisi. Tim Uber Kanada, runner-up Grup A, akan menantang Korea Selatan. Sementara tim Thomas Prancis yang finis sebagai runner-up Grup A, menantang juara Grup C, Jepang.

Denmark dan China, sementara Jepang dan Taiwan, serta Indonesia dan Thailand akan berebut tiket semi final Piala Uber. Di kategori putra, China akan ditantang Taiwan dan Korea, yang baru saja dikalahkan Indonesia di laga terakhir penyisihan grup, menghadapi Denmark. Sementara itu Indonesia akan kembali beradu dengan tetangga terdekat, Malaysia.

Bagaimana peluang Indonesia?

Tim Uber Indonesia akan menghadapi laga sulit. Selain menghadapi beberapa pemain bintang, faktor tuan rumah menempatkan Thailand sebagai unggulan di pertandingan ini. Negeri Gajah Putih mempunyai mempunyai mantan pemain nomor satu dunia, Ratchanok Intanon. Tidak hanya itu di nomor tunggal mereka masih memiliki Nitchaon Jindapol yang kini berada di rangking 11 dunia. Selain itu ada Busanan Ongbamrungphan yang kini menempati rangking 22, serta Pornpawee Chocungwong yang berada dua strip di belakang Busanan.

Semua pemain tunggal Thailand ini mengungguli Indonesia dalam daftar rangking BFW. Pemain putri Indonesia dengan rangking tertinggi saat ini adalah Gregoria Mariska. Jorji, sapaan manis Gregoria, berada di rangking 35. Tiga strip di belakangnya ada Fitriani, lalu menyusul Dinar Dyah Ayustine (49) dan Ruselli Hartawan (77).

Di nomor ganda Thailand mengandalkan pasangan berperingkat delapan dunia, Jongkolphan Kititharakul/Rawinda Prajongjai. Selain itu ada Chayanit Chaladchalam/Phataimas Meunwong yang menduduki rangking 14 dunia.

Di sektor ganda Indonesia sedikit diunggulkan. Greysia Polii dan Apriyani Rahayu bisa memanfaatkan keunggulan rangking dunia untuk mencuri poin. Selain itu Indonesia masih memiliki Della Destiara Haris dan Rizki Amelia Pradipta yang baru saja naik ke rangking 11 dunia.

Greysia Polii dan Apriyani Rahayu/badmintonindonesia.org
Greysia Polii dan Apriyani Rahayu/badmintonindonesia.org
Pekerjaan terberat Indonesia tentu di nomor tunggal. Fitriani bisa saja kembali dimainkan di partai pertama, menghadapi jagoan tuan rumah, Ratchanok Intanon. Mengorbankan Fitriani bisa menjadi salah satu pilihan terbaik. Dua tunggal lainnya bisa berjuang mencuri poin saat menghadapi Nitchaon Jindapol ,Busanan Ongbamrungphan atau Pornpawee Chocungwong.

Di pertandingan terakhir penyisihan grup, penampilan Fitriani kurang meyakinkan. Tidak hanya di pertandingan kemarin, sejak pertandingan pertama menghadapi Sonia Ceah dari Malaysia, Fitriani belum mengalami perbaikan. Fitriani pun menjadi satu-satunya pemain Indonesia yang belum bisa menyumbang poin di turnamen ini.

Menghadapi Chen Yufei, Fitriani menyerah dua game langsung, 10-21 dan 15-21. Kekalahan ini bukan semata-mata karena lawan bermain lebih baik, tetapi performa Fitriani yang jauh dari harapan.

Performa pemain 19 tahun ini terlihat kurang "greget". Belum lagi beberapa kali pengembalian bola tersangkut di net. Bila mau jujur performa pemain asal Garut ini kurang mengalami perkembangan. Ia masih terus mencari senjata mematikan yang bisa dijadikan andalan, selain bergantung pada permainan lob dan kecepatan. Menghadapi Ratchanok, selain kesiapan mental untuk menghadapi banyak tekanan, Fitriani juga harus berani menerapkan variasi pukulan.

Sementara itu kepada Gregoria dan Ruselli Hartawan, harapan terbesar adalah terus mempertahankan performa. Momentum kemenangan masing-masing atas Gao Fangjie dan Li Xuerui kemarin harus dijaga. Kedua pemain muda ini sebenarnya memiliki potensi. Mereka membuktikan mampu membuat kejutan dan mengambil peran sebagai penyumbang poin.

Sebagai tambahan, kemenangan Gregoria memberi pukulan telak kepada Li dan bulu tangkis China. Untuk pertama kalinya, Li dibekuk pemain Indonesia setelah menjaga rekor positif selama delapan tahun, sejak mengalahkan Lindaweni Fanetri pada 2 September 2010. Tidak hanya itu, ini menjadi kekalahan pertama mantan pemain nomor satu dunia itu dalam 32 pertandingan di nomor beregu.

Selain mengharapkan sumbangsih para pemain muda tersebut, ada catatan penting bagi sektor ganda. Nomor ini menjadi tumpuan Indonesia mendulang poin. Dua kekalahan atas China, meski di atas kertas lawan lebih diunggulkan, menjadi alarm untuk berbenah. Greysia dan Apriani diharapkan tampil tenang dan bermain taktis. Sementara Della dan Rizki harus memacu diri untuk "tancap gas" sejak awal.

Menghadapi Huang Yaqiong/Tang Jinhua kemarin, Della dan Rizki baru bisa bangkit menjelang akhir pertandingan. Terlambat bagi mereka mengejar kertertinggalan yang akhirnya berakhir dengan kekalahan straight set 16-21 dan 16-21. Situasi seperti ini tentu tidak diharapkan. Kedua pemain itu harus memacu diri untuk mengejar poin sejak awal. Semoga momentum dua kemenangan atas China, yang sebelumnya selalu menjadi Indonesia bulan-bulanan, melecut semangat juang para srikandi Merah Putih.

Situasi tak jauh berbeda terjadi di Tim Thomas. Anthony Ginting harus memperbaiki diri, terutama konsistensi. Di dua pertandingan sebelumnya, pemain berusia 21 tahun ini selalu gagal menjaga keunggulan. Menghadapi Son Wan Ho kemarin, Ginting selalu memimpin sejak awal. Namun performa Ginting selalu berakhir antiklimask dengan kekalahan 20-22 dan 20-22 dari pemain Korea Selatan itu.

Secara teknik dan serangan penampilan Ginting sudah bagus. Ia mampu merepotkan para pemain unggulan. Namun entah mengapa ia selalu gagal menjaga keunggulan. Menghadapi Malaysia hari ini, Ginting harus menjadikan hal ini sebagai catatan penting.

Di atas kertas, Indonesia berpeluang mengunci kemenangan atas Negeri Jiran. Selain Lee Chong Wei, Malaysia tidak memiliki pemain lain yang sangat berbahaya. Malaysia tentu akan kembali mengandalkan Lee Zii Jia dan Iskandar Zulkarnaen sebagai tunggal kedua dan ketiga. Di sektor ganda Malaysia akan menaruh harapan pada pemain berpengalaman Goh V Shem dan Tan Wee Kiong.

Anthony Ginting/gambar dari badmintonindonesia.org
Anthony Ginting/gambar dari badmintonindonesia.org
Untuk meladeni kedua pemain ini, Indonesia bisa saja menurunkan Jonatan Christie dan Ihsan Maulana Mustofa. Alasannya, peringkat Jonatan lebih baik dari Lee, begitu juga ketika Iskandar dan Ihsan saling diperhadapkan. Namun sepak terjang Lee patut diwaspadai. Di pertandingan kemarin, pemain berperingkat 45 dunia mampu mengalahkan tunggal kedua Denmark, Hans-Kristian Solberg Vittinghus dalam dua game langsung, 21-18 dan 21-18.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2