oish-cleochyn
oish-cleochyn Serampangan

Apa adanya...

Selanjutnya

Tutup

Olahraga Pilihan

All England 2018 dan Momok Baru Bernama Servis

13 Maret 2018   17:22 Diperbarui: 13 Maret 2018   18:51 1029 4 2
All England 2018 dan Momok Baru Bernama Servis
Kevin Sanjaya terkenal dengan servis mematikan/tribunnews.com

Momok baru tengah mengintai para pebulutangkis. Bermula dari German Open yang baru berakhir pekan lalu dan akan berlanjut pada All England Super 1000 yang akan dihelat selama lima hari sejak Rabu, 14-18 Maret di Arena Birmingham, Inggris. Berbeda dengan sebelumnya, para pebulutangkis dihadapkan pada aturan baru terkait servis. Sebelumnya dunia bulu tangkis juga dihadapkan dengan sejumlah perubahan di antaranya struktur turnamen internasional, kewajiban 12 turnamen dalam setahun bagi para pemain atau pasangan elite, dan beberapa lainnya.

Terkait servis, aturan sebelumnya, shuttle cock (kok) tidak boleh lebih tinggi dari pinggang si server. Seorang pemain yang hendak melakukan servis tidak boleh memegang kok lebih tinggi dari pinggang. Tentu, tinggi pinggang setiap pemain berbeda-beda sehingga tinggi kok pun mengikuti tinggi badan sang pemain. Namun setidaknya ini menjadi patokan bagi hakim servis (services judges) untuk menilai benar atau salah servis seorang pemain. Keputusan terkait servis ini pun kerap menuai protes dari para pemain yang merasa telah melakukan servis pada posisi yang tepat.

Bila aturan yang telah berlaku selama bertahun-tahun itu berpatok pada pinggang seorang pemain, aturan baru lebih tegas lagi. Seorang pemain diharuskan melakukan servis pada posisi kok maksimal setinggi 1,15 meter di atas permukaan lapangan. Posisi kok harus ditaksir setinggi itu sebelum dipukul ke bidang permainan lawan.

Pihak BWF, melalui sang presiden, Poul-Erik Hoyer telah memberikan alasan di balik aturan baru tersebut. Menurutnya, aturan tersebut lebih sesuai dengan kebutuhan dan paling pas setelah melakukan berbagai penilaian, termasuk masalah-masalah yang selama ini terjadi di lapangan pertandingan.

"Selama bertahun-tahun, kami telah mencari cara untuk memperbaiki bagaimana undang-undang peraturan yang resmi untuk diterapkan," tandas Hoyer sebagaimana dikutip dari laman resmi BWF.

BWF boleh saja berdalih aturan baru ini dianggap terbaik. Namun aturan ini tidak lepas, apalagi bebas dari persoalan. Sebagaimana diketahui, aturan baru ini berlaku untuk semua pemain, tak peduli berapa tinggi badannya. Pemain dengan tinggi badan 190 cm ke atas tentu kesulitan, bila tidak ingin dikatakan dirugikan dengan kebijakan ini. Dibanding para pemain berpostur pendek, para pemain jangkung lebih repot untuk mengikuti aturan ini. 

 Misalnya pemain seperti Viktor Axelsen yang bertinggi badan 1,94 m atau Li Junhui dari China yang menjulang setinggi 1,95 harus menurunkan posisi kok setinggi maksimal 1,15 meter. Sementara Marcus Fernaldi Gideon yang bertinggi badan 1,68 m bisa leluasa meninggikan kok hingga batas maksimal yang diizinkan.

Beberapa pemain sudah merasakan betapa sulitnya beradaptasi dengan aturan baru ini. Beberapa contoh di German Open bisa dikemukakan. Gloria Emanuele Widjadja, pemain ganda campuran yang berpasangan dengan Hafiz Faizal beberapa kali harus kehilangan poin karena serviss dianggap "fault." Wanita bertinggi 184 cm ini cukup kesulitan untuk memenuhi standar aturan dalam melakukan servis.

Kesalahan lebih banyak dilakukan Rizki Amelia Pradipta. Tak kurang dari 11 servis pemain bertinggi 1,71 ini dinyatakan salah. "Servis saya 11 kali dinyatakan fault. Game pertama lima kali, game kedua enam kali. Ini cukup mengganggu. Karena mikirin servis, saya jadi kurang siap dengan return servis lawan," ungkap pasangan Della Destiara usai mengalahkan ganda putri Rusia, Olga Morozova/Anastasia Chervyakova di babak pertama.

Jangankan pemain muda, pemain senior sekelas Hendra Setiawan pun kelimpungan untuk mendapatkan cara terbaik agar terhindar dari kesalahan. Saat mengalahkan ganda Denmark, Kim Astrup/Anders Skaarup Rasmussen, beberapa kali servis pemain senior itu dinyatakan salah.

"Servis saya yang di-fault banyak banget, sampai segala jurus servis sudah saya keluarkan, tetapi tetap saja salah. Kemarin (di round 1) tidak di-fault, semua tergantung sudut pandang hakim servis, beda orang beda penilaian," ungkap Hendra Setiawan

Pernyataan Hendra Setiawan menunjukkan ada kekurangan lain dari aturan baru ini. Untuk memastikan seorang pemain melakukan servis sesuati ketentuan, hakim akan dibantu alat manual dari pinggir lapangan. Namun akurasi penilaian ini pun masih diragukan. Pasalnya, mengutip Kabid Binpres PBSI sekaligus mantan atlet, Susy Susanti, "Sudut pandang serta jarak alat dengan hakim servis juga akan mempengaruhi apakah atlet melakukan kesalahan atau tidak."

Subjektivitas itu terjadi di German Open beberapa waktu lalu. Seperti penilaian pelatih ganda putra, Herry Iman Pierngadi terhadap Fajar Alfian. Menurut Herry IP, sejak babak pertama hingga semi final, pemain ganda putra itu tak mengalamai masalah dengan servis. Namun hal yang ditakutkan itu akhirnya terjadi di partai puncak.

"Namun kemudian di final terkena service faultsebanyak lima kali. Saya lihat posisi servisnya sama, tingginya sama, semuanya sama, hanya beda hakim servis yang bertugas," ungkap sosok yang dijuluki pelatih Naga Api tersebut.

Alat yang dipakai saat latihan untuk membiasakan dengan aturan baru/@INABadminton
Alat yang dipakai saat latihan untuk membiasakan dengan aturan baru/@INABadminton
Aturan baru ini akan menjadi momok bagi para pemain. Mereka akan dibayangi rasa takut melakukan kesalahan. Mereka bisa kehilangan fokus karena khawatir servis gagal. Masihkah kita dapatkan trik-trik dan variasi servis yang mengundang decak kagum?

Bila BWF tetap bersikukuh dengan aturan ini maka butuh waktu lama bagi para pemain untuk beradaptasi. Sejauh ini pihak PBSI sudah melakukan sejumlah terobosan di antaranya mendatangkan wasit bersertifikat internasional dalam sesi latihan. Simulasi itu diharapkan bisa menghindarkan para pemain dari kesalahan.

Namun pembiasaan terhadap aturan baru butuh waktu tidak singkat. Butuh latihan berulang-ulang karena para pemain sudah terbiasa dan nyaman dengan aturan sebelumnya, Aturan baru ini diterapkan pada ajang sekelas All England dengan waktu sosialisasi yang mepet, diharapkan tidak sampai mencederai seni permainan dan membuat tontonan menjadi membosankan karena banyak disarati kesalahan mendasar.

All England yang sudah meniadakan babak kualifikasi membuat jantung para pemain berdetak lebih kencang dengan aturan baru ini. Ah, mengapa BWF tidak fokus pada teknologi yang semakin menunjang permainan lebih adil, menggandeng lebih banyak sponsor besar dan membuka akses penyiaran yang lebih luas?