Mohon tunggu...
charles dm
charles dm Mohon Tunggu... Freelancer - charlesemanueldm@gmail.com

Verba volant, scripta manent!

Selanjutnya

Tutup

Bola

Selamat Tinggal Rodgers, Selamat Datang Era Baru

5 Oktober 2015   09:41 Diperbarui: 5 Oktober 2015   10:06 238
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Meski Suarez pergi, setidaknya Liverpool mendapat dana besar tak kurang dari 75 juta poundsterling dari Barcelona. Keputusan Barca mendatangkan Suarez sempat mengundang pesimisme namun perjudian raksasa La Liga itu ternyata berbuah ganda melihat seperti apa performa Suarez saat ini: makin tenang dan makin bertaji.

Sementara Liverpool sama sekali tak mendapat apa-apa dari 75 juta poundsterling itu. Dana besar tersebut seakan menguap di tangan Rodgers. Lihat saja, dana Suarez, plus  49 juta poundsterling dari penjualan Raheems Sterling ke Manchester City sama sekali tak berbekas. Alih-alih mendapat pemasukan, Rodgers malah dikecam telah membiarkan para bintang pergi.

Publik Anfield sempat ditenangkan dengan niat Rodgers mendatangkan bintang lainnya. Alexis Sanchez masuk dalam radar namun apa lacur Arsenal lebih gesit dan lihai untuk memboyongnya ke Emirates Stadium. Taka da pilihan lain, terpaksa Rodgers mendatangkan Rickie Lambert dari Southampton dengan mahar sebesar 4 juta poundsterling.

Dana segar yang diperoleh akhirnya dihamburkan begitu saja untuk mendatangkan Dejan Lovren, Lazar Markovic, Alberto Moreno, Adam Lallana dan Emre Can. Namun hasilnya?

Bahkan di bursa transfer musim panas ini, tak kurang dari 80 juta poundsterling dihabiskan untuk mendatangkan Christian Benteke, Danny Ings, Roberto Firmino, Nathaniel Clune dan Joe Gomez. Namun lagi-lagi hasilnya?

Nyaris

April 2014. Rodgers nyaris membuat sejarah sebagai manajer Liverpool pertama yang mampu meraih gelar Liga Primer Inggris dalam 24 tahun terakhir. Tampil impresif sejak awal, The Reds sempurna dalam 16 laga. Namun apa daya euforia yang hampir mencapai titik puncak itu layu tak lama setelah Manchester City sukses menelikung di partai pamungkas.

Liverpool pun puas berada di posisi kedua, posisi terbaik yang pernah diraih Rodgers selama tiga musim setelah pada musim pertama hanya mampu finish di urutan ketujuh. Sementara musim lalu performa The Reds seperti kembali ke titik nol, pulang ke musim pertama saat Rodgers datang.

Mencapai babak semifinal Piala FA menjadi pelipur lara setelah serangkaian hasil buruk di pentas Liga Primer Inggris. Liverpool hanya mampu meraih satu kemenangan dalam enam pertandingan terakhir. Termasuk kekalahan 1-3 dari Crystal Palace sebagai kado pahit perpisahan dengan sang legenda, Steven Gerrard di Anfield. Laga pamungkas berakhir miris, dicukur Stoke City 1-6 sekaligus mendudukan Liverpool di posisi enam klasemen akhir, jauh dari ekspektasi ‘tembus’ zona Liga Champions sebagaimana diharapkan publik Anfield.

Rodgers pun menjadi manajer pertama sejak 1950 yang gagal mempersembahkan satu trofi pun. Sejak saat itu semboyan You’ll never walk alone seperti jauh dari Rodgers.

Meski demikian apresiasi patut diberikan kepada Rodgers yang telah memberikan kontribusi dengan caranya sendiri. Meski gagal mempersembahkan trofi setidaknya ada warisan yang ditinggalkan, setidaknya pelajaran bagi manajemen dan para suksesor untuk jeli me-manage klub.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bola Selengkapnya
Lihat Bola Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun