Mohon tunggu...
Chaerol Riezal
Chaerol Riezal Mohon Tunggu... Chaerol Riezal

Lulusan Program Studi Pendidikan Sejarah (S1) Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, Program Studi Magister Pendidikan Sejarah (S2) Universitas Sebelas Maret Surakarta, dan saat ini sedang menempuh Program Studi Doktor Pendidikan Sejarah (S3) Universitas Sebelas Maret Surakarta, yang hobinya membaca, menulis, mempelajari berbagai sejarah, budaya, politik, sosial kemasyarakatan dan isu-isu terkini. Miliki blog pribadi; http://chaerolriezal.blogspot.co.id/. Bisa dihubungi lewat email: chaerolriezal@gmail.com atau sosial media.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Menelusuri Akar Kebangkitan Harian Serambi Indonesia Pasca Mega Musibah Aceh

1 Januari 2018   14:58 Diperbarui: 2 Januari 2018   14:43 2783 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Menelusuri Akar Kebangkitan Harian Serambi Indonesia Pasca Mega Musibah Aceh
Logo Harian Serambi Indonesia. Sumber: aceh.tribunnews.com

"Kepada semua karyawan Serambi Indonesia, wartawan, koresponden, karyawan bisnis dan produksi segera melaporkan keberadaan dirinya ke Kantor Perwakilan Lhokseumawe via saudara Ismail M. Syah atau ke posko Serambi Indonesia di Lambaro telepon 70060 atau di Beurawe Shopping Center Banda Aceh, Jalan T. Iskandar No. 19-21 telepon 22995."

Kalimat di atas merupakan bunyi satu alinea dari pengumuman Pimpinan Harian Serambi Indonesia, H. Sjamsul Kahar kepada seluruh awak redaksi dan manajemen Serambi Indonesia yang selamat dari mega musibah Aceh. Pengumuman itu dimuat dalam format dua kolom di halaman depan Serambi edisi Sabtu 1 Januari 2005, yang merupakan edisi pertama terbit pascatsunami dan dimuat secara berkesinabungan sampai 7 Januari 2005 (Catatan Pribadi M. Nasir Nurdin, 2009: 91). Dari pengumuman itu juga, sudah cukup untuk mengatakan bahwa Serambi Indonesia telah bangkit dari keterpurukan.

Sejarah panjang dan kebesaran Harian Serambi Indonesia tak mungkin dilepaskan dari sebuah mega musibah Aceh bernama gempa dan tsunami, yang terjadi 13 tahun silam. Bahkan sulit membayangkan apa jadinya jika harian ini tanpa mega musibah Aceh.

Sebagaimana yang dikatahui bersama, tepat pada hari Minggu tanggal 26 Desember 2004, bumi Aceh diguncang oleh gempa berkekuatan 8.9 SR dan disusul gelombang tsunami. Mega musibah itu mengakibatkan sebagian besar infrastruktur di Aceh hancur. Kantor Pusat Harian Serambi Indonesia (terutama di lantai dasar) yang terletak di Jalan Laksamana Malahayati Desa Baet, Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar, ikut hancur diterjang gelombang tsunami.

Halaman Depan Kantor Pusat Harian Serambi Indonesia setelah dihantam Gempa dan Tsunami yang terletak di Desa Baet, Aceh Besar. Sumber: https://penaalfath.wordpress.com
Halaman Depan Kantor Pusat Harian Serambi Indonesia setelah dihantam Gempa dan Tsunami yang terletak di Desa Baet, Aceh Besar. Sumber: https://penaalfath.wordpress.com
Kerugian yang dialami oleh Serambi Indonesia diperkirakan sebesar Rp 20 miliiar. Jumlah ini tentu belum termasuk dengan piutang iklan dan sirkulasi koran yang tidak terbayar lagi, karena banyak klien dan agen yang hilang, termasuk juga hancurnya Toko Buku Zikra (Catatan Pribadi Mohd. Din, 2009: 125).

Kerugian ini ditambah lagi dengan kehilangan sejumlah wartawan dan karyawan Serambi Indonesia sebanyak 53 orang, termasuk di antaranya Erwiyan Syafri selaku Redaktur Pelaksana, Muhammad Rokan reporter senior, dan wartawan Muharram M. Nur yang juga ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Aceh. Musibah tersebut juga turut menghancurkan bangunan percetakan dan mesin percetakan Serambi Indonesia bergeser 200 meter dari fondasinya. Semua barang yang terdapat di lantai bawah kantor pusat Serambi Indonesia hancur dan merusak semua ruang di sana, termasuk juga semua dokumen yang ada hilang diterjang oleh tsunami. Akibatnya Serambi Indonesia sempat tidak terbit selama lima hari.

Memang pada saat terjadinya tsunami, lantai dua kantor pusat Serambi Indonesia di Desa Baet sempat menjadi tempat pelarian bagi sebagian warga sekitar yang selamat dari musibah, tapi tidak dengan karyawan dan kantor pusatnya. Karyawan Serambi Indonesia yang bekerja pada hari minggu itu dinyatakan tidak selamat. Sementara kantor pusatnya luluh lantak dihantam mega prahara gelombang tsunami yang berkekuatan 500-800 Km/jam.

Kondisi kantor pusat yang porak poranda itu, khususnya mesin percetakan yang hancur dan melayang dari fondasinya membuat status kantor pusat Serambi Indonesia dialihkan dari Banda Aceh ke Lhokseumawe. Karena itu, mengingat kantor pusat dan mesin percetakan di Desa Baet tidak dapat dioperasikan lagi, maka para pimpinan redaksi Serambi Indonesia seperti Sjamsul Kahar, Mawardi Ibrahim dan Akmal Ibrahim (kini menjadi Bupati Abdya periode kedua) sepakat untuk membentuk dua posko sebagai kantor sementara Serambi.

Ahmad Sutrisno yang saat itu menjabat sebagai Manajer Percetakan PT Aceh Media Grafika, merelakan rumah toko (ruko) miliknya yang juga ditempatinya bersama keluarga, diberikan kepada Serambi Indonesia sebagai posko untuk koordinasi dan ruang redaksi darurat di Lambaro, Aceh Besar. Sementara itu, H. Agam Patra yang bersimpati kepada Serambi Indonesia, juga ikut memberikan dua unit ruko bergandengan miliknya di Beurawe Shopping Centre untuk ditempati oleh Serambi Indonesia. Dua posko itu dibentuk untuk mengkoordinir wartawan dan karyawan Serambi Indonesia yang masih tersisa dan selamat dari bencana, dan ditempati sampai setahun lebih sebagai kantor sementara.

Praktis, sejak Sjamsul Kahar dkk membuka dua posko tersebut, status kantor pusat Serambi Indonesia telah berubah menjadi Biro Banda Aceh. Posisi dan peran kantor pusat Serambi Indonesia di Banda Aceh, disadari atau tidak, telah beralih ke Lhokseumawe karena mesin percetakan sudah tidak dapat dioperasikan lagi. Semua wartawan dan karyawan yang tersisa dan selamat dari musibah tsunami Aceh, menghimpun dan memproduksi berita di Biro Banda Aceh untuk dikirim ke kantor pusat Serambi Indonesia di Lhokseumawe.

Mendapat bantuan KKG
Pada pekan pertama pascabencana, selain memaksimalkan liputan jurnalistik, Serambi Indonesia juga gencar membuka iklan tentang pencarian orang-orang yang hilang dan korban tsunami Aceh. Selain itu, liputan hari pertama pascatsunami benar-benar dirasakan berat oleh wartawan SI. Tak bisa dibayangkan seperti apa wartawan Serambi Indonesia bekerja dan meliput peristiwa di tengah-tengah mayat yang bergelimpang. 

Menyadari akan hal ini, terhitung sejak pekan kedua pascatsunami, Serambi Indonesia mendapat bantuan dari sindikasi koran daerah di bawah Kelompok Kompas Gramedia (KKG). Bantuan dari KKG itu berupa personil untuk keperluan wartawan dan layout. Hampir seluruh bantuan tenaga yang datang itu ditempatkan di Banda Aceh. Sementara untuk Redaktur ditugaskan di Kantor Pusat Lhokseumawe (Catatan Pribadi M. Nasir Nurdin, 2009: 96).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x