Mohon tunggu...
Chaerol Riezal
Chaerol Riezal Mohon Tunggu... Sejarawan - Chaerol Riezal

Lulusan Program Studi Pendidikan Sejarah (S1) Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, Program Studi Magister Pendidikan Sejarah (S2) Universitas Sebelas Maret Surakarta, dan saat ini sedang menempuh Program Studi Doktor Pendidikan Sejarah (S3) Universitas Sebelas Maret Surakarta, yang hobinya membaca, menulis, mempelajari berbagai sejarah, budaya, politik, sosial kemasyarakatan dan isu-isu terkini. Miliki blog pribadi; http://chaerolriezal.blogspot.co.id/. Bisa dihubungi lewat email: chaerolriezal@gmail.com atau sosial media.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Aceh: Mekkah Kedua dan Misi Terselubung Snouck Hurgronje

2 Oktober 2017   18:43 Diperbarui: 3 Oktober 2017   08:24 9493
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi. Harian Aceh

Dua Rekomendasi Snouck

Lalu, apa rekomendasi Snouck setelah melakukan pertualangan Mekkah kedua di Aceh? Tentunya, setelah melakukan kajian dan telaah terhadap Islam dan masyarakat Aceh, Snouck memberikan beberapa rekomendasi kepada kolonial Belanda yang waktu itu sedang terlibat perang dengan Aceh.

Perlu dicatat bahwa sebelum kedatangan Snouck, perang Belanda di Aceh nyaris memakan waktu 20 tahun lamanya. Dan selama kurun waktu itu pula, Belanda sama sekali tidak berhasil menaklukkan Aceh. Bahkan sampai kedatangan Snouck ke Aceh dan pulang ke negerinya, Belanda gagal menjinakkan Aceh sampai harus angkat kaki pada tahun 1942. Tercatat hanya Kutaraja (Banda Aceh) saja yang berhasil di duduki Belanda. Itu pun hanya sebentar saja. Sebab, hampir seluruh wilayah Aceh, perang terus berkecambuk dan kobaran semangat jihad fisabilillah begitu menggelora di Aceh, meskipun pimpinan pasukan Aceh banyak syahid di medan pertempuran.

Setelah itu, masuklah Jepang ke Indonesia. Walau hanya 3.5 tahun, pendudukan Jepang lebih kejam dari penjajahan Belanda. Sampai-sampai di Aceh sempat terkenal sebuah ungkapan yang berbunyi: talet ase ta peu tamong buy (kejar anjing, malah yang masuk babi). Ucapan itu menggambarkan penjajahan Jepang lebih kejam dari Belanda. Anjing mungkin masih dapat dijadikan hewan peliharaan, tapi tidak dengan babi. Meski demikian, kedua binatang itu sama-sama jahat dan haram untuk di makan. Karenanya, kedua penjajahan negara itu (Belanda dan Jepang) sama-sama jahat, dan satu diantaranya ada yang jauh lebih jahat. Untuk alasan inilah, segala bentuk penjajahan diatas bumi ini, haram dilaksanakan dan sepenuhnya di larang.

Kembali ke Snouck Hurgronje. Apa yang di rekomendasi Snouck kepada Belanda, jelas berkaitan dengan perang. Artinya, rekomendasi Snouck bertujuan untuk menaklukkan Aceh. Meski demikian, Snouck memiliki pandangan yang berbeda dengan petinggi dan pasukan Belanda terhadap Aceh. Tetapi, dalam tulisan ini, penulis hanya membicarakan dua rekomendasi dari banyaknya rekomendasi Snouck. Dua rekomendasi itulah yang mempunyai pengaruh besar terhadap kekejaman Belanda dalam membantai pasukan Aceh, atau ... terjadi genosida di Aceh.

Berdasarkan hasil kesimpulkan penelitiannya, Snouck menemukan suatu temuan yang paling berharga selama bermukim di Aceh. Ya benar, Snouck menemukan "posisi sentral Islam" dalam perlawanan rakyat Aceh melawan pasukan Belanda. Hal ini diakui oleh Snouck dalam karyanya berjudul The Achehnese, bahwa: "semangat untuk melakukan perang agama yang sangat mengakar dalam ajaran Islam lebih terlihat lagi di kalangan masyarakat Aceh dibandingkan dengan mayoritas saudara-saudara mereka sesama muslim dari daerah-daerah lain ...," Silahkan Anda simpulakan sendiri ucapan Snouck Hurgronje tersebut.

Inilah letak kekuatan rakyat Aceh dalam menghadapi pasukan Belanda, sebagaimana yang telah diakui oleh Snouck diatas. Temuan yang paling berharga dari Snouck itu, kemudian turut memberikan dampak besar terhadap strategi perang yang diambil oleh kolonial Belanda. Tetapi di sisi lain, temuan itu justru menjadi malapeta bagi pasukan Aceh. Kenyataan bahwa pasukan Belanda kerapkali melancarkan serangan militer yang sangat membabibuta untuk membumihanguskan pasukan Aceh, menjadi indikator kuat atas dieksekusinya temuan Snouck tersebut.

Rekomendasi pertama Snouck adalah bagaimana selayaknya Islam dihadapi. Oleh karena itu, Snouck memberikan dua kategori, yaitu Islam dalam pengertian ibadah dan Islam politik. Atas dua kategori tersebut, Snouck melakukan pemisahan doktrin ibadah dalam Islam dan Islam politik, sehingga hal ini dianggap oleh Snouck sebagai langkah yang krusial untuk bisa menjinakkan masyarakat pribumi.

Dalam dua kategori tadi, aktifitas ibadah dalam Islam dibiarkan saja sebagaimana adanya, tetapi untuk Islam politik harus dilakukan tindakan keras melalui serangan militer. Snouck berpendapat, perlawanan rakyat Aceh melawan Belanda, yang umumnya dipimpin oleh ulama, harus dihancurkan dan dilenyapkan dari bumi Aceh. Hanya melalui kekuatan militer yang besarlah pasukan Aceh dapat ditundukkan. Begitu pendapat Snouck Hurgronje.

Meski demikian, rekomendasi pertama Snouck diatas ternyata dihiraukan oleh Diejkerhoff selaku Gubernur Jenderal Belanda. Diejkerhoff mengatakan bahwa Snouck hanya membesar-besarkan peran ulama Aceh saja. Ia juga menganggap Snouck hanya memanfaatkan seenak hatinya saja dalam hal hobinya yang suka mengkaji dunia timur dan Islam, tak terkecuali di Aceh.

Pendapat Diejkerhoff cenderung mendapat dukungan dari pasukan militer Belanda. Namun, pendapat Snouck bukannya tidak mendapat dukungan. Pendapat Snouck mendapat beberapa dukungan, dan salah satunya adalah J.B. Van Heutsz. Van Heutsz yang kala itu masih berpangkat mayor, memiliki pandangan yang hampir dekat dengan rekomendasi pertama Snouck. Dalam sebuah tulisannya, Van Heutsz menegaskan bahwa perang Belanda di Aceh telah menggerogoti tanah jajahan Belanda dan harus segera diakhiri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun