Mohon tunggu...
Chaerol Riezal
Chaerol Riezal Mohon Tunggu... Chaerol Riezal

Lulusan Program Studi Pendidikan Sejarah (S1) Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, Program Studi Magister Pendidikan Sejarah (S2) Universitas Sebelas Maret Surakarta, dan saat ini sedang menempuh Program Studi Doktor Pendidikan Sejarah (S3) Universitas Sebelas Maret Surakarta, yang hobinya membaca, menulis, mempelajari berbagai sejarah, budaya, politik, sosial kemasyarakatan dan isu-isu terkini. Miliki blog pribadi; http://chaerolriezal.blogspot.co.id/. Bisa dihubungi lewat email: chaerolriezal@gmail.com atau sosial media.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Hari Penulisan Sejarah Indonesia Baru (Bagian Kedua)

15 Desember 2016   17:15 Diperbarui: 18 Desember 2016   14:27 483 0 0 Mohon Tunggu...

Berkumpulnya Sejarawan Indonesia

Oleh: Chaerol Riezal*

Kemungkinan besar ada banyak orang yang tidak tahu tentang hari “Penulisan Sejarah Indonesia Baru” yang jatuh pada tanggal 14 Desember ini (kemarin-red). Namun, berkat kecanggihan teknologi informatika di zaman modern ini, mudah saja bagi Anda untuk mencari hari penulisan sejarah Indonesia baru itu dengan menggunakan alat perangkat lunak seperti Android kesayangan Anda. Atau juga Anda bisa datang langsung ke perpustakaan.

Hari ini tepat pada tanggal 14 Desember 2016 (kemarin-re), atau 59 tahun yang silam, bangsa Indonesia kembali menorehkan lembaran baru sejarahnya. Kali ini yang ditorehkan adalah menyangkut masalah penulisan Sejarah Indonesia Modern. Hari penulisan sejarah Indonesia baru tersebut, dikukuhkan ketika para sejarawan Indonesia mengadakan Seminar Sejarah Nasional Pertama pada 14 Desember 1957 di Yogyakarta. Arah baru perkembangan historiografi (penulisan sejarah) Indonesia dimulai.

Tanggal 14 Desember 1957 inilah dianggap sebagai langkah pertama dan sekaligus titik tolak kesadaran sejarah Indonesia baru, yang kemudian tanggal 14 Desember ini ditetapkan sebagai Hari Penulisan Sejarah Indonesia Baru yang (harus) diperingati setiap tahunnya, terutama oleh kalangan sejarawan dan peminat sejarah.

Seminar Sejarah Nasional Pertama berlangsung selama lima hari, yakni dari tanggal 14-18 Desember 1957 di Yogyakarta. Terpilihnya Yogyakarta sebagai tuan rumah pelaksanaan Seminar Sejarah Nasional Pertama ini, tidak terlepas dari ajakan para sejarawan Indonesia untuk mengadakan pertemuan dengan pelaku sejarah, akademisi dan tokoh bangsa Indonesia untuk membicarakan masalah Historiografi Indonesia (penulisan sejarah) Baru atau Modern.

Pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang historiografi Indonesia modern barulah muncul untuk pertama kalinya dalam Seminar Sejarah Nasional Pertama tersebut. Ada banyak pertanyaan yang muncul dalam seminar sejarah nasional pertama. Salah satu yang diajukan adalah mengapa sejarah Indonesia lebih banyak menekan peranan orang Eropa dan menyampingkan peranan orang Indonesia dalam sejarah bangsa Indonesia ini. Pertanyaan yang fantastis dan membutuhkan jawaban yang fantastis pula. Beberapa agenda yang dibahas didalamnya mencakup tentang filsafat sejarah nasional, periode sejarah dan pendidikan sejarah. Dari sinilah pertama kali mulai muncul “nasionalisasi” atau menggunakan istilah saat ini – pribumisasi historiografi Indonesia.

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam Seminar Sejarah Nasional Pertama, para sejarawan Indonesia kemudian mengadakan Seminar Sejarah Nasional Kedua tahun 1970. Perdebatan terus berkelanjutan sampai pada tahun 1970 tentang Indonesiacentrisme atau bagaimana menekankan pentingnya peranan orang Indonesia dalam sejarah Indonesia itu sendiri. Pertanyaan itu sangat logis dilontarkan, sebab pada masa itu buku-buku sejarah lebih banyak membahas dan menekankan tentang peranan orang Eropa di Indonesia, yaitu sejarah Indonesia sebagai sejarah ekspansi Eropa. Kemudian muncul pertanyaan kedua tentang objektivitas dan subjektivitas dalam historiografi, suatu perluasan dari pertanyaan pertama.

Seminar sejarah nasional pertama lebih bermakna ketika sejarawan kembali mengadakan seminar sejarah nasional kedua. Selain menekankan pentingnya peranan orang Indonesia dalam sejarah Indonesia, seminar nasional kedua juga telah menunjukkan minat yang besar pada pendekatan ilmu sosial.

Seminar sejarah nasional kedua ikut menyumbangkan peranannya terhadap penulisan sejarah Indonesia baru. Sejak mengadakan seminar kedua ini, telah dibentuk sebuah panitia untuk memulai penulisan buku standar sejarah Indonesia. Hasil yang dicapai adalah terbitnya buku (yang mungkin pernah Anda baca atau hanya sekadar membuka-buka saja) yang berjudul Sejarah Nasional Indonesia, sebuah buku sejarah nasional Indonesia edisi pertama yang berjumlah enam jilid. Hanya saja, sejarah Indonesia masih dihantui oleh Belanda dan masih berkeliaran dalam buku-buku sejarah. Hal yang lainnya adalah, tentu saja, sejarah nasional Indonesia ini masih di dominasi oleh praktik politik busuk di negeri ini. (Mungkin) Anda pasti akan mengerti jika saya mengatakan, “sejarah adalah milik para penguasa. Sedangkan nasionalisme terus digencarkan.”

Jika Seminar Sejarah Nasional Kedua menjawab tantangan dari Seminar Sejarah Nasional Pertama, maka Seminar Sejarah Nasional Ketiga menjawab tantangan ke arah sejarah dengan pendekatan ilmu sosial. Seminar Sejarah Ketiga diselenggarakan di Jakarta pada tahun 1981 ini menunjukkan bahwa sejarawan Indonesia sudah sadar tentang perlunya kesadaran teoretik dan metodologis dalam penulisan sejarah. Kemajuan itu dicatat dalam Seminar Sejarah Lokal Pertama tahun 1982. Tidak seperti Seminar Sejarah Nasional, Seminar Sejarah Lokal lebih menekankan pada topik dan isu yaitu pada sejarah pedesaan dan kota. Sementara Seminar Sejarah Lokal Kedua diselenggarakan pada 1984, menunjukkan sebuah langkah maju. Secara kualitatif dan kuantitatif, seminar sejarah lokal terakhir ini mencatatkan prestasi tersendiri untuk sejarawan dan juga para ilmuan sosial lainnya. Sekitar 130 sejarawan dan ilmuan sosial dengan minat sejarah lainnya hadir dalam seminar itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN