Mohon tunggu...
Chabibul Muchafidzin
Chabibul Muchafidzin Mohon Tunggu... Merdeka Sejak Dalam Pikiran

Sedang dalam proses mem-bibul kan diri sendiri. menjadi manusia yang otentik atas kedaulatan batiniyah dan lahiriyah. dengan prinsip merdeka sejak dalam pikiran.

Selanjutnya

Tutup

Hukum

Secercah Harapan di Ujung Senja Hukum Indonesia

4 Mei 2021   15:55 Diperbarui: 4 Mei 2021   16:08 20 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Secercah Harapan di Ujung Senja Hukum Indonesia
via liputan6.com

"Jangan resah dengan ujung senja, Karena kalian anak muda adalah bagian dari fajar."

 -Emha Ainun Nadjib.

Kalimat di atas adalah mantera yang menurut saya perlu difahami dan diaplikasikan oleh para generasi muda bangsa Indonesia,termasuk saya. Karena kami adalah harapan Indonesia di masa yang akan datang. Menjadi penerus perjuangan pendahulu dan sebagai pembangun peradaban di masa depan maka dari itu dengan prinsip melestarikan budaya lama yang baik dan mengambil budaya baru yang lebih baik, kami akan terus belajar dan berproses dalam memperbaiki seluruh aspek kehidupan bermasyarakat dan bernegara.Demi terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur sesuai dengan cita cita luhur bangsa Indonesia.

Sebelumnya perkenalkan nama saya Bibul, pemuda desa yang mempunyai ribuan mimp untuk dirinya dan tanah airnya. Akan tetapi pada tulisan ini saya tidak ingin menjabarkan pembahasan di atas secara luas melainkan penjabaran tentang "Saya, Hukum dan Indonesia". 

Kita hidup di Negara Hukum, dimana semua di atur oleh aturan yang dibuat oleh pelbagai Lembaga Negara, entah itu lembaga pusat mapun lembaga daerah, menyesuaikan dengan otonomi pemerintahan dan kebijakan tupoksi masing masing. Akan tetapi, setelah 74 tahun negara ini merdeka dari bangsa penjajah kita masih belum bisa lepas dari ketidak adilan yang terjadi di masyarakat terutama pada pelaksaan hukum dan peradilan. 

Hukum masih seperti pisau, tumpul ke atas namun sangat tajam ke bawah. Hal ini bisa ditinjau dari banyaknya kasus Pelaku kriminalitas atas dasar "keterpaksaan" seperti mencuri singkong karena sangat kelaparan, Hukumnya lebih berat di bandingkan dengan pejabat pemerintah yang melakukan tindakan korupsi anggaran pembelanjaan negara. Jika dua kasus itu di komparasikan,kita bisa mendapat titik temu jika hukum di negara kita ini masih pandang bulu tergantung dengan Jabatan, kekuasaan dan kekayaan yang di miliki oleh pelaku. 

Selain itu Indonesia saya rasa masih belum maksimal dalam mencegah dan mengusut kasus pelanggaran Hak asasi manusia, masih banyak kasus Pelanggaran HAM yang belum di temukan titik terangnya, seperti kasus Marsinah, peristiwa Trisakti dan puluhan bahkan ratusan kasus yang masih belum terselesaikan baik pada proses penyelidikan atau peradilan. 

Selain contoh yang saya paparkan di atas, tentunya masih banyak lagi penyimpangan pelaksaan hukum yang terjadi di Indonesia, namun kita tidak akan stagnan untuk membahas dan menyalahkan kebobrokan itu, karena tugas kita sekarang adalah belajar dan memperbaikinya. 

Hukum harus sesuai moralitas dan nilai luhur bangsa Indonesia, karena di atas hukum masih ada kemanusiaan. Dan alasan saya menempuh pendidikan Hukum adalah rasa miris akan ketidak adilan yang terjadi selama ini, tentunya dengan semangat untuk memperbaharui hukum agar sesuai dengan nilai nilai kemanusiaan tanpa pandang bulu terhadap jabatan,kekuasaan dan seluruh kroni  kroninya. 

Besar harapan saya kepada seluruh praktisi da akademisi agar bergerak dengan hati nurani untuk melayani dan mengayomi kepada yang membutuhkan, terutama kepada masyarakat lapisan menengah ke bawah yang selama ini kurang terlindungi dan selalu menjadi korban ketidak adlilan.  Kita akan terus belajar dan berproses untuk menjadi pribadi yang tulus,ber integritas tinggi dan kokoh dalam memperrjuangkan nilai kemanusian. Sesuai dengan dawuh almarhum  Gus Dur "Kalau ingin melakukan perubahan jangan tunduk pada kenyataan, asal yakin pada jalan yang benar". Panjang Umur kebaikan,salam. 

tayang di indonesiana.id

VIDEO PILIHAN