Sosbud Pilihan

Bijak Bermedsos dengan Penuh Kemanusiaan, Wujudkan Kerukunan dan Lawan Hoaks

11 Juli 2018   21:32 Diperbarui: 11 Juli 2018   23:59 405 0 0
Bijak Bermedsos dengan Penuh Kemanusiaan, Wujudkan Kerukunan dan Lawan Hoaks
Ilustrasi: Shutterstock

Internet dan media sosial adalah kecanggihan teknologi yang begitu akrab dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Harga perangkat pintar dan tarif koneksi internet yang semakin murah serta diimbangi oleh kemudahan dan kekayaan fitur yang dapat digunakan tentunya membuat keduanya tidak diterpisahkan dalam kehidupan di negeri ini.

Data pengguna media sosial

Data statistik mengenai pengguna internet dan media sosial di Indonesia, pertama kali diunggah di Kompasiana dan dibuat sendiri oleh penulis berdasarkan data pada materi.
Data statistik mengenai pengguna internet dan media sosial di Indonesia, pertama kali diunggah di Kompasiana dan dibuat sendiri oleh penulis berdasarkan data pada materi.
Menurut riset oleh We Are Social pada Januari 2018 yang dikutip oleh Kompas dan MNC, di Indonesia, penetrasi ponsel mencapai 67% populasi, penetrasi media sosial mencapai 49% populasi, 45% populasi menggunakan ponselnya untuk mengakses medsos, dan rata-rata menghabiskan waktu selama tiga jam 23 menit untuk bermedsos ria. 

Durasi ini cukup panjang, sekitar 39% dari rata-rata waktu akses internet selama delapan jam 44 menit berdasarkan data yang disebutkan oleh Dirjen Aplikasi dan Informatika pada akhir 2017. Aplikasi medsos yang paling banyak diunduh adalah WhatsApp, Facebook, Instagram, dan LINE. Dengan pengguna sebanyak itu, kita menempati peringkat ketiga pengguna Facebook, peringkat keempat pengguna Instagram, dan peringkat ke-12 pengguna Twitter.

Pencarian informasi oleh warganet Indonesia dan penyebaran hoaks

Infografis yang dibuat oleh tim Kompas dan diunggah kembali oleh Baranews ini menunjukkan bahwa hoax bisa memicu konflik yang memakan korban tak bersalah.
Infografis yang dibuat oleh tim Kompas dan diunggah kembali oleh Baranews ini menunjukkan bahwa hoax bisa memicu konflik yang memakan korban tak bersalah.
Menurut APJII dan Teknopreneur, 74.8% warganet kita menggunakan mesin pencari. Hal-hal yang diminati antara lain : artikel dan video tutorial, kesehatan, edukasi, agama, politik, dan harga barang. Sayangnya tak semua informasi yang mereka dapatkan tepat. 

Data Kominfo bulan Desember 2017 menyatakan bahwa delapan ratus ribu situs di Indonesia menyebarkan berita bohong alias hoaks. Data milik Provetic dan Republika pada akhir 2017 menunjukkan bahwa bidang sosial-politik (91.8%) dan SARA (88.6%) merupakan dua bidang yang paling banyak dihujani hoaks. Hoaks berakibat negatif bagi korbannya. Ketika hoaks dialamatkan kepada pebisnis atau pedagang, omset mereka bisa turun. Ketika hoaks dialamatkan kepada individu atau kelompok, reputasi dan nyawa mereka terancam.

Bila Aku Jadi Menag

Seorang Menteri Agama tentunya perlu memerhatikan dengan baik adanya hoaks di masyarakat. Ketika sebuah hoaks menyasar masalah sosial, politik, atau ekonomi, bisa jadi hoaks tersebut memprovokasi pembacanya dengan membawa-bawa isu agama. 

Pembaca yang bijak tentu akan tahu bahwa perilaku individu atau kelompok tidak dapat dipandang sebagai perilaku seluruh umat yang beragama sama dengannya, tetapi bagaimana dengan yang tidak? 

Hal ini mengancam kerukunan antarumat beragama di negara kita. Berbeda dengan penegak hukum yang memandang hoaks dari sisi penegakan peraturan, seorang menteri agama akan menggunakan pendekatan religius dan humanis untuk menyelesaikan masalah ini.

Renungan hati

Saya akan mengajak masyarakat baik secara pribadi maupun melalui para pemuka agama dan tokoh masyarakat untuk merenungkan dan memahami pernyataan berikut. Sang Pencipta membentuk dunia ini dengan manusia yang begitu beragam dan keberagaman itu diciptakan untuk memperkaya kebaikan dalam hidup manusia itu sendiri sehingga pada hakekatnya harus dipandang baik adanya. 

Termasuk pula dengan agama, semua agama yang ada dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa mengajarkan kebaikan universal, bukannya sibuk memperjuangkan kehidupannya masing-masing. Perilaku seseorang atau sekelompok orang beragama tertentu yang salah adalah kesalahan pribadi mereka, bukan kesalahan yang ada pada seluruh umat beragama tersebut. 

Manusia yang beragam ini tentunya saling membutuhkan sehingga sudah seharusnya mereka hidup dengan rukun tanpa perlu saling membedakan dan memermasalahkan perbedaan di antara mereka. 

Sebagai makhluk yang berakal budi, sudah seharusnya manusia menggunakan pikirannya dengan baik dan jujur untuk menyebarkan berita baik, bukan malah membuat dan/atau menyebarkan hoaks yang sama saja negatifnya dengan fitnah. Ketika kita membuat dan/atau menyebarkan hoaks, kita telah berbuat dosa, paling tidak berupa melancarkan fitnah sekaligus menghancurkan kehidupan sasarannya. 

Tidakkah kita kasihan dengan sesama kita? Jika kita memiliki masalah dengan dia atau mereka, selesaikan baik-baik dan jangan simpan rasa benci. Jika sasaran kita memiliki kesalahan, fokuslah pada kesalahannya dan bukan menghancurkan reputasinya melalui hoaks dengan mendistribusikan ujaran kebencian atau informasi yang tidak benar tentang dirinya. 

Menyebarkan hoaks dan/atau ujaran kebencian berarti kita telah menggunakan hidup yang diberikan oleh Sang Pencipta dengan cara yang salah dan sesungguhnya kita memiliki penyakit dalam pikiran kita.

Daripada berbuat dosa dengan membuat dan/atau menyebarkan ujaran kebencian atau hoaks, lebih baik kita menggunakan energinya untuk turun ke masyarakat dan mengulurkan bantuan nyata, bukan? Foto diunduh dari wismabahasa.wordpress.com.
Daripada berbuat dosa dengan membuat dan/atau menyebarkan ujaran kebencian atau hoaks, lebih baik kita menggunakan energinya untuk turun ke masyarakat dan mengulurkan bantuan nyata, bukan? Foto diunduh dari wismabahasa.wordpress.com.
Dengan demikian, jelas hukumnya bahwa dilarang keras membuat berita hoaks untuk disebarkan. Daripada sibuk membuat hoaks, lebih baik waktu dan tenaganya dimanfaatkan untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik dan menyebarkan karya-karya yang baik, baik melalui dunia maya maupun langsung turun ke masyarakat. 

Permasalahannya, bagaimana dengan menyebarkan berita hoaks ketika pelakunya seringkali tidak menyadari? Memang perilaku tersebut tidak disengaja, tetapi jika bisa dihindari, mengapa tidak?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2