Mohon tunggu...
Tarmizi Bustamam
Tarmizi Bustamam Mohon Tunggu...

Anggota alumni IKESMA Payakumbuh dan IKANED (Ikatan Alumni Nederland). Bekerja sebagai Insurance Loss Adjuster.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Kata Serapan Inggris dalam Bahasa Minang

6 Februari 2017   12:58 Diperbarui: 10 Maret 2017   14:32 0 7 3 Mohon Tunggu...
Kata Serapan Inggris dalam Bahasa Minang
Sumber: wacana.co

Tidak terbantahkan lagi, istilah-istilah bahasa Inggris banyak sekali diserap dalam bahasa Indonesia, begitu juga bahasa-bahasa daerah di Nusantara tidak luput dari pengaruhnya sama sekali Di sini saya ingin membahas beberapa kata dalam bahasa Minang yang berindikasi/diserap dari bahasa Inggris, namun tidak terdapat atau hampir tidak dikenal oleh penutur-penutur bahasa Indonesia ataupun bahasa Melayu (Malaysia).

Istilah ungkapan “take and give” dari bahasa Inggris yang mirip bahasa lokal.                                                                                                                                                                       

Ungkapan “take and give” bahasa bahasa Inggris dalam dialek lokal “Banuhampu” di Selatan Bukittinggi, yakni “te-ék dan agiah”. Secara kebetulan mirip dan namun bukan merupakan kata serapan dari bahasa Inggris. Kata “te-ék” = ambil berasal dari kata “tariak” (= tarik) terreduksi menjadi taiak > te-ék. Sedangkan “agiah”, yang sama dengan istilah baku bahasa Minang yang berarti beri/memberi, kata ini berasal kata “bagi” (bhs. Sansekerta: “bahagi”). Jadi, kedua kata tersebut kebetulan saja agak mirip dengan “take and give” bahasa Inggris, namun sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan bahasa Inggris.

Mengapa Bisa ada Pengaruh Inggris Dalam Bahasa Minang?
Walau pun masyarakat Minangkabau tidak pernah berhubungan secara langsung dengan Inggris, kecuali hubungan-hubungan sporadis dalam perdagangan di masa lampau. Namun dengan bercokolnya Inggris dari tahun 1685 sampai dengan 1824 di Bengkulu di Selatan Ranah Minang paling tidak ada juga pengaruhnya terhadap budaya dan bahasa Minang, seperti Tabuik Pariaman yang berasal dari Tabot Bengkulu.

Budaya tabot ini dibawa oleh serdadu-serdadu kolonial Inggris yang beragama Islam Syi’ah dari anak benua Hindia (India, Pakistan dan Bangladesh) ke Bengkulu pada masa itu dan mengenai pengaruhnya terhadap bahasa, kata-kata di bawah ini terindikasi berasal dari bahasa Inggris.

Parak  yang sebelumnya dalam bahasa Minang hanya merupakan awalan yang bermakna “hampir” dalam kata “parak-siang” = hampir siang/dini hari. Kemudian juga berarti kebun, pengertian ini diserap dari kata “park” (taman, kebun raya), bahasa Inggris, “parak jaguang” = kebun jagung, “parak ubi” = kebun singkong.

Kala  dalam bahasa Minang berarti kalung kulit/rantai pada leher binantang (anjing). Kata ini adalah kata serapan dari kata “collar” dalam bahasa Inggris yang salah satu artinya adalah kalung sebagaimana deskripsi di atas. Catatan: Bahasa Melayu Malaysia juga menyerap kata yang sama yakni “kolar”, namun dengan maknanya yang lain, yakni kerah baju.

Bugi  (Kereta Bugi), istilah bugi ini adalah kata serapan dari bahasa Inggris, yakni “buggy”, yang pengertian nominatifnya bermacam-macam, antara lain kereta kuda ringan (single seat) beroda empat atau dua. Di Minangkabau kerereta bugi yang dimaksud adalah kereta (single seat) yang beroda dua. Sepertinya budaya kereta bugi ini juga ditiru dari budaya kolonial inggris di Bengkulu.

Dalam laporan perjalanan seorang budayawan Belanda dari Bataviaasch Gennotschaap van Kunsten en Wetenschappen, Mr. G.H. Nahuys pada tahun 1823 dia menulis dalam bukunya: “SCHETS VAN BENKOELEN” Op De Westkust Van Het Eiland Sumatra” mengenai moda transport di Kota Bengkulu masa itu sebagai berikut: “Buggy's en palankijn rijtuigen met een paard zijn in het algemeen gebruik en behalve eene Barouché van den Luitenant Gouverneur heb ik geen ander soort van rijtuig gezien.(Bugi dan Planking kereta kuda dengan seekor kuda pada umumnya yang dipakai, kecuali sebuah Kereta Kuda yang sangat lux, ”Barouché" kepunyaan Letnan Gubernur, saya tidak melihat kendaraan jenis lain.) Catatan: Bugi adalah kereta kuda roda dua satu tempat duduk, sedangkan Planking kereta kuda beroda empat). 

Tidaklah diketahui kapan kereta jenis bugi ini mulai dipakai di Sumatera Barat. Dari berbagai cerita, pada zaman kolonial dulu, hanya pejabat kolonial termasuk yang lokal, seperti demang atau tuanku laras dan lain-lainnya yang mampu membeli kereta kuda luks jenis ini. Biasanya para snobist pemilik kereta bugi ini mengendarai keretanya habis “siesta” dan mandi pada sore hari.

 Mereka jalan berkeliling-keliling beserta dengan gaya angkuhnya, sambil menikmati rentak/derapan kaki kudanya. Seperti para seleb masa sekarang dengan sedan superluxnya. Pada zaman sekarang pada setiap acara penutupan “Pacuan Kuda” di Sumatera Barat juga diadakan “Pacu Darap”/Pacu Derap Kereta Bugi, yang mana dinilai bukan saja kecepatan kuda, namun juga keindahan derap kaki kudanya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2