Mohon tunggu...
Cerita_Esa
Cerita_Esa Mohon Tunggu... Guru - Menulis dan membaca tidak membuatmu kaya sekejap, tapi yakini dapat membuat hidupmu beradap

@Cerita_esa karena setiap jengkal adalah langkah, dan setiap langkah memiliki sejarah, maka ceritakanlah selama itu memberi manfaat.

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Jujur Sama dengan Minoritas

17 September 2021   09:58 Diperbarui: 17 September 2021   10:14 200
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Diary. Sumber ilustrasi: PEXELS/Markus Winkler

Sekian dari cerita konyol itu, sekarang memang harus memasuki kenyataan. Gedung yang terlihat sudah tua dengan cat tembok yang semakin pudar itu kini aku masuki. Tidak lama lagi kuliah umum akan dimulai.

"Mana kawan baruku? Mana kawan satu fakultasku? Mana kawan satu prodiku? Siapa kalian semua itu? Siapa? Mana? Siapa? Manaaaaaaa?" Itu sekadar jeritan orang yang kaget keadaan baru.

Lagi-lagi di kampus baru aku juga harus punya kawan baru. Sahabat karibku sudah menyebar di penjuru Indonesia. Kami memang sahabat, tapi kami lebih memilih masa depan masing-masing. Si Candra yang kini memilih menjadi calon perawat dan juga Frida yang juga jadi bidan.

Deny dan Budi justru terbang ke Kalimantan untuk mengadu nasib. Ada juga yang di Purwokerto jadi pegawai ternak siapa lagi kalau bukan Agus. Puja alih profesi di Jakarta.

Satu lagi, kawan seperjuanganku yang sudah pindah ke Yogyakarta sebagai tempat mengadu ilmu. Delapan belas bersaudara yang tidak bisa aku sebutkan semuanya telah menjadi sahabat sejak aku duduk di bangku SMK. Belum lagi sahabat nan jauh di sana ada Eni dan Ratih yang mempunyai kehidupan masing-masing.

Oh, tidak Tuhan. Ternyata aku harus beradaptasi lagi dengan manusia-manusia baru. Sambil memandang begitu banyaknya mahasiswa baru yang mengikuti kuliah umum pagi ini sesekali aku memperhatikan pencerahan yang katanya disampaikan oleh rektor kamus ini. tengok kanan tengok kiri, mataku memantau beberapa penjuru gedung itu, ternyata tidak ada yang aku kenal kecuali Via.

***

Hari pertama perkuliahan selesai. Tidak ada yang bisa menggantikan gambaranku tentang PTN. Serasa ketika itu ragaku harus berpapasan pada situasi sebenarnya dan rasaku masih melayang bermimpi oleh binar-binar PTN.

Hari kedua hingga beranjak satu minggu, lebih banyak menemui kejanggalan. Satu hal yang masing terngiang dalam benak, untung aku bertemu kawan yang senasib. Setidaknya alasan-alasan yang dianggap konyol selama ini bisa tercurahkan. Ya, bayang-bayang penyesalan sepertinya masih terkonsep keras. Mimpi diantara mendapatkan hal yang paling baik sepertinya semakin terkubur.

***

Perkuliahan berjalan tiga bulan. Yang masih heran dariku,"kok kuliah masih ada ulangan ya. Aku kira cuma ujian semester doang hehe." Hari sebelumnya seperti saat aku akan mengahadapi ulangan sewaktu SD, SMP dulu. Seharian suntuk tidak bosan membalikkan per helai buku materi. Antara paham dan tidak aku berusaha menaklukkan. Ketika hari yang ditetapkan tiba, dengan mantapnya aku datang dan meletakkan tas di bangku paling depan. Jleeep. Seketika aku bingung dengan tingkah teman sekelas yang pada ribut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
  11. 11
Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun