Mohon tunggu...
Budi Santoso
Budi Santoso Mohon Tunggu...
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Selanjutnya

Tutup

Politik

Memalukan, Ternyata Begini Logika Berpikir Hatta Taliwang

26 Januari 2018   14:07 Diperbarui: 26 Januari 2018   14:18 1471 0 2 Mohon Tunggu...

Sebagai sebuah sistem politik, demokrasi sejauh ini masih dianggap yang terbaik. Keunggulan utamanya adalah menempatkan kekuasaan itu tepat berada di tangan rakyat. Sehingga berbeda dengan sistem politik otoritarian atau monarki, rakyat bisa memiliki kendali pada pemimpinnya. 

Para pendiri bangsa Indonesia, sepakat memilih sistem politik itu karena sesuai dengan kepribadian masyarakat Indonesia. Dalam kebudayaan kita itu telah mengakar dengan konsep musyawarah mufakat. 

Di sisi lain, demokrasi diperjuangkan oleh founding fathers dengan konteks pasca-kolonial. Mereka ingin agar rakyat Indonesia benar-benar berdaulat dan memegang penuh kendali kekuasaan itu. 

Namun sekarang banyak pihak yang justru meragukan sistem demokrasi. Mereka dulu mengaku dirinya pendukung reformasi, namun sebenarnya mengidap keinginan untuk kembali pada zaman otoriter Orde Baru. 

Itu seperti yang sering dipropagandakan oleh mantan anggota DPR RI dari Fraksi PAN, M. Hatta Taliwang. Di beberapa tulisannya ia terlihat meragukan demokrasi akan mendorong kemajuan di Indonesia. 

Selain itu, ia juga kerap mendiskreditkan pemerintahan Joko Widodo. Ia menyebutkan beberapa fitnah yang sulit untuk dibuktikan kevalidannya.

Memang tak jelas apa motifnya. Namun bila diperhatikan, tampaknya ia memang ingin mendukung kembalinya pemimpin otoriter di Indonesia. 

Apa yang dipropagandakan M. Hatta Taliwang di portal berita abal-abal, seperti portal-islam.id sangat subyektif. Tulisannya yang berjudul, "Catat! Ini Lima Ciri Presiden Produk Demokrasi Liberal-Brutal" itu sangat jelas tanpa bukti yang mendalam. Apalagi berdasarkan riset ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. 

Anehnya, portal berita itu terus saja memproduksi konten yang bertendensi fitnah, provokatif, mengandung kebohongan dan ujaran kebencian. Tentu saja itu merupakan hal yang aneh, karena meski menggunakan nama Islam, tapi faktanya jauh dari ajaran agama tersebut. Karena Islam tak pernah mengajarkan fitnah, kebohongan dan kebencian.

Hatta juga harusnya belajar lagi menulis, agar apa yang diargumenkannya bisa dilengkapi dengan bukti. Bukan hanya fasih menggarap konten tulisan yang provokatif saja.

Karena pembaca yang cerdas bisa kenali tulisan yang bermutu atau yang tidak dari argumen dan logika yang disajikannya. Dan kita adalah pembaca yang cerdik nan cerdas demikian. 

VIDEO PILIHAN