Mohon tunggu...
Catur Pujihartono
Catur Pujihartono Mohon Tunggu...

hidup harus lebih dari sekedarnya

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Wangimas dan Filosofi Minum Teh

20 November 2016   14:28 Diperbarui: 20 November 2016   15:10 111 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Wangimas dan Filosofi Minum Teh
Beberapa sampul buku yang sempat menjadikanku sebagai kontributor selama menjadi Kompasianers

Mungkin benar jika ada yang mengatakan “Berapapun usia kita, tidak mungkin kita meninggalkan acara bermain”. Ada sebagian orang yang senang mobil-mobil mewah. Atau banyak orang yang juga tidak mau meninggalkan kegiatan untuk bersepeda atau memancing ikan. Kehidupan memang tidak lepas dari kesenangan bermain dari usia anak-anak dan kemudian  berlanjut hingga dewasa. Permainan yang terus dibawa atau menemukan permainan baru sebagai penyegar kepenatan.

Benar juga ketika Kompasiana mengumpulkan banyak insan yang senang bermain dengan untaian kalimat. Menjadikan kalimat itu paragraf-pragraf yang dinikmati oleh banyak pembaca. Anggota Kompasiana banyak yang mengaku bahwa tidak banyak yang didapatkan dari menulis di Kompasiana. Anggota blog ini yang kemudian disebut Kompasianers memang rela jika harga tulisannya dibayar dengan status headline atau dikunjungi oleh ratusan orang. Semua tidak menjadi permasalahan karena semua sepakat bahwa menulis adalah mainan yang mengasyikan.

Seperti itu juga yang membawa diri saya gabung ke dalam anggota Kompasiana. Terbawa arus keasyikan bermain membuat karya tulis. Kalau sesekali kemudian mengikuti even lomba penulisan, bukan semata karena hadiahnya tetapi lebih pada mendapatkan ukuran kualitas tulisan jika dibanding dengan tulisan-tulisan yang lain. Seberapa jauh tulisan kita mendapat pengakuan dari banyak orang sebagai sebuah karya yang bermutu, mencerahkan dan membawa nilai-nilai yang baik untuk para pembaca..

Sudah hampir 5 tahun ini saya menjadi anggota kompasiana. Tidak banyak tulisan yang bisa saya hasilkan. Hanya 52 tulisan dan beberapa tanggapan. Statistik penulisan yang rendah memang. Namun seperti Kompasianers yang lain, hasil tidak menjadi tujuan utama. Yang penting saya telah berproses dengan sebuah mainan saya ini.

Menjadi anggota sejak 25 Oktober 2011. Langsung mengikuti even “Power Of Book”  dan entah sebuah kebetulan menjadi pemenang di periode terakhir. Karena biasanya Kompasianers baru akan menjadi prioritas menjadi pemenang dalam mengikuti event di Kompasiana. Meskipun begitu tetap saja ini mampu menjadikan  sebuah semangat baru dan mendapat mainan baru yang mengasyikan. Dari sini kemudian muncul beberapa tulisan yang dibukukan di even Kompasiana atau di luar even Kompasian. Meski dalam bentuk antologi atau kumpulan tulisan dari beberapa penulis. Dan diantaranya:

Tulisan saya beberapa sudah menjadi buku. Tetapi dari semua ada analogi yang menggambarkan hubungan antara Kompasiana dengan apa yang saya dapatkan selama menjadi Kompasianers yaitu Filosofi Minum Teh. Kompasiana adalah sebuah teko/ poci yang berisi penuh teh yang menyegarkan. Dan saya adalah sebuah gelas yang ukurannya lebih kecil dari Teko. Lalu apa yang bisa kita tarik dari Filosofi Minum Teh :

  • Mengambil nilai-nilai yang besar dari hal-hal yang sederhana.

Hal yang menarik yang dapat diambil dari Kompasiana adalah saya mampu mengambil nilai-nilai yang besar dari hal-hal yang sederhana.  Seperti halnya dalam keseharian ketika terbiasa dengan tradisi minum teh.  Ada nilai yang begitu besar yang dapat saya ambil dari keseharian dan kesederhanaan.. Setiap gelas adalah pikiran saya yang kemudian akan terisi oleh teh dari teko. yang telah siap untuk diisi dengan berbagai jenis minuman. Gelas tentu akan mengikuti rasa dan warna dari isi teko. Apapun rasa dan warnanya tetap saja gelas rela menerimanya.

  • Terbuka

Air teh telah siap untuk dituang. Tetapi juga gelas harus terbuka agar air teh dapat terwadahi. Maka membiasakan menulis adalah membiasakan pikiran saya untuk terbuka terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam tulisan di Kompasiana. Semakin besar gelas itu terbuka akan semakin mudah dan cepat teh akan tertuang  membuka pikiran, semakin banyak dan cepat kita dapat menampung nilai-nilai dari tulisan. Siap menerima tranportasi ilmu dari berbagai tulisan Kompasianers. Membuka silaturahmi dengan Kompasianers yang lain juga hal yang penting dari keterbukaan.

  • Kerendahaan Hati

Gelas yang dituang harus dalam posisi lebih rendah dari teko. Air tidak akan tertuang ketika gelas itu posisinya lebih tinggi dari teko. Maka hanya sikap rendah hati menjadikan saya iklhas dan sabar menerima semuakompasianers itu sebagai guru dan penasehat. Terus belajar dari siapa saja. Penulis junior ataupun senior. Yang muda maupun yang tua. Tidak pernah merasa lebih hebat dari yang lain.

  • Fokus

Gelas yang sudah terisi penuh oleh teh tidak bisa diisi kembali. Kalau kita paksakan untuk diisi maka pasti akan tumpah. Untuk bisa terisi gelas harus dalam keadaan kosong. Menulis adalah membiasakan untuk fokus dalam satu hal yang akan saya tulis. Karya tulisan tidak akan selesai dan bagus jika  pikiran kita bercabang. Masih ada pikiran hal yang lain. Tetap fokus dengan satu permasalahan yang akan kita tulis.

Memang banyak yang saya ambil dari mainan menulis di Kompasiana ini. Walau pasti ada saat kita merasa jenuh. Apalagi dalam beberapa tahun menjadi Kompasianers sampai sekarang di selanya ada mainan baru yang juga sangat mengasyikan. Hadirnya anak saya “Wangimas Rayarembrandia Emsadaha”. Praktis semua kegiatan menulis menjadi terabaikan. Namun begitu di depan dan komputer berdua dengan Wangimas, kerinduan untuk menulis itu bangkit lagi. Terlebih jika merenungkan kehadiran bocah kecil di dunia ini. Keresahan muncul akan keberadaan Bapaknya yang belum mampu memberikan kebanggaan padanya. Kemudian saya pikir bagaimana membuat Wangimas bangga pada orang-tuanya dengan menulis.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x