Mohon tunggu...
Carlo Diori Tonio
Carlo Diori Tonio Mohon Tunggu... -

Tidak bingung, selalu gelisah dan gundah gulana

Selanjutnya

Tutup

Money Artikel Utama

Kampus Jemawa, Mahasiswa Utopis, dan Pengangguran

30 Juli 2016   00:28 Diperbarui: 30 Juli 2016   18:29 1849
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Malam itu saya sedang duduk di sudut stasiun Pasar Senen, Jakarta, menunggu giliran untuk masuk ke dalam peron dan naik ke dalam kereta. Seorang diri memerhatikan sekeliling berharap ada yang sudi untuk mengajak saya berbicara, siapapun, supir taksi, porter stasiun, atau bungkus-bungkus sampah di jalanan.

Namun kerumunan sedang sibuk dengan malam dan jadwal mereka masing-masing. Hampir bosan hingga akhirnya saya menyaksikan seorang ibu sedang berdiri memeluk anak lelakinya, lama dalam diam, erat. Saya masih sibuk memerhatikan mereka saat akhirnya ibu dan anak tersebut saling melepaskan pelukannya, sang ibu mencium kening anaknya, anak itu mengusap air mata bak adegan perpisahan di film drama.

Tebakan pertama saya, anak itu pasti mahasiswa baru yang dilepas oleh orangtuanya ke perantauan. Dalam pengamatan itu, saya tidak melibatkan emosi mengingat empat tahun yang lalu saat dilepas oleh kedua orangtua, saya justru berjalan dengan bahagia sembari mengangkat kardus dan tas di Stasiun Gambir, Jakarta. Saya tak merasakan apa yang dirasakan anak lelaki itu.

Hari ini, lima hari kemudian, wilayah sekitar kampus saya mulai ramai dengan wajah para mahasiswa baru yang diantar oleh keluarganya. Wajah mereka begitu kontras dengan chubby cheeks yang belum memudar menandakan mereka masih berusia remaja, pakaian mereka begitu berbeda, tidak mengenakan jaket beridentitaskan himpunan atau organisasi. Semester baru telah dimulai, selamat menyandang status mahasiswa. Mungkin anak lelaki di Stasiun Pasar Senen itu salah satu dari mereka, mungkin juga tebakan saya salah.

Ucapan Manis Universitas yang Utopis 

Foto: Istimewa
Foto: Istimewa
Tahun ajaran baru semester ini begitu spesial, karena akhirnya saya menuntaskan rencana yang telah saya susun sejak pertama kali saya menyandang status sebagai mahasiswa, lulus melewati batas waktu normal delapan semester. Mungkin rencana itu hanya sebuah ide jenaka, di balik itu terdapat sebuah prinsip untuk lulus di waktu yang tepat, bukan sekedar tepat waktu.

Dan mungkin juga di balik prinsip itu masih terdapat sebuah prinsip lainnya. Yaitu ketakutan dan kesadaran bahwa lepasnya status "mahasiswa" akan berbarengan dengan tersematkannya status "sarjana" dan "pengangguran". Setidaknya bagi sebagian orang, sebagian besar, besar sekali.

Berdasarkan data yang dilansir oleh Badan Pusat Statistik, pada tahun 2013 terdapat 434.185 penganguran terdidik lulusan universitas, bukannya membaik, angka tersebut justru meningkat menjadi 495.143 pengganguran pada tahun 2014. Seperti membayangkan seluruh penduduk Republic of Malta (sebuah negara seluas 31.600 hektare dengan 445.246 jiwa penduduk) tidak memiliki pekerjaan.

Haruskah kita tercengang atau justru mewajarkan kenyataan tersebut sebagaimana kita selalu mencari alasan dan pembenaran atas segala hal? Lalu siapa yang patut bertanggungjawab? Saya akan melepaskan opini ini dari analisa ekonomi dan sistem pendidikan, dan mencoba berfokus terhadap kultur utopia dan kesombongan perguruan tinggi.

Universitas tidak pernah lelah menjejali para mahasiswa baru dengan angan dan gambaran dunia kuliah serta kerja yang utopis. Bahwa kita mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri (PTN) / Perguruan Tinggi Swasta (PTS) berkualitas, disegani di Indonesia dan diperhitungkan di dunia. Saya ingat betul bagaimana semasa ospek dahulu dekan fakultas di PTN tempat saya berkuliah berbicara dengan lantang dalam gaya humorisnya "Kalian telah dikutuk menjadi orang kaya", "Kalian dilahirkan untuk menjadi penegak hukum", dan bahkan "Selamat datang putra-putri terbaik bangsa".

Mahasiswa baru mana yang (setelah berbulan-bulan berlelah-lelah untuk mempersiapkan diri masuk perguruan tinggi favorit) mampu menahan gejolak rasa percaya dirinya ketika seorang profesor yang begitu dihormati di lingkungan kampusnya berbicara demikian, seolah-olah masa depannya sudah dijamin oleh nama besar perguruan tinggi mereka (Sayangnya dekan saya kini menjabat sebagai rektor universitas, artinya akan semakin banyak mahasiswa baru yang harus mendengar retorikanya).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun