Yeni Kurniatin
Yeni Kurniatin karyawan swasta

Ordinary creature made from flesh and blood with demon and angel inside. more info just drop to bioeti@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Novel

Orion: Galau Nasional [03:42]

10 Juli 2018   05:32 Diperbarui: 10 Juli 2018   07:28 439 0 0

             Tiada yang lebih galau selain di bulan Juli.

Gelombang kegalauan datang silih berganti. Wajar jika bulan Juli ditetapkan sebagai bulan galau nasional. Walaupun hanya sepihak.

Tak kalah dengan friend zone, penerimaan peserta didik baru (PPDB) dengan sistem zonasi menguras emosi dan energi. Karena yang pintar akan kalah dengan yang dekat. Hal itu membuat sebagian orang tua kecewa. Anaknya tidak bisa masuk sekolah favorit.

Frustasi. Untuk apa belajar giat jika pada akhirnya tidak bisa sekolah ditempat yang diingikan. Membuat patah semangat. Untuk apa meraih nilau sempurna pada UN. Gak ada artinya sama sekali, kecuali pindah alamat ke dekat sekolah favorit.

Ada pro dan kontra tentang sistem zonasi. Sistem baru agar pendidikan di kita lebih maju. Kan, Semua sekolah negeri itu ada standarnya. Guru-guru disertfikasi. Tak ada sekolah favorit dan non favorit Agar anak tidak terjebak macet zone. Berlama-lama terjebak di jalan raya, bisa butek itu otak. Sekolah dekat jadi akan lebih mudah diawasi. Katanya itu maksud dan tujuan sistem zonasi.

Hasil PPDB diumumkan pekan berikutnya. Sebelum diumumkan, maka hari-hari itu tidak layak menyandang masa tenang.

Haru biru memantau PPDB. Disokong dengan server yang sering down sejak awal. Ini menguras air mata sangat. Jikalah emak-emak seluruh Indonesia melek internet  dan cukup lihai menggunakan medsos. Maka jika dihadapkan PPDB yang merupkan kawin silang antara sistem online-offline. Pengetahuan internet para emak  akan bertekuk lutut.

Tak hanya drama PPDB, di bulan Juli ini pula, SNMPTN diumumkan. Kelulusan yang kemarin dirayakan menyisakan sebuah kegalauan. Apakah mereka akan menyandang gelar mahasiswa atau masuk kriteria pengangguran nasional.

Para mamah muda yang anaknya baru masuk sekolah juga tidak ketinggalan galau. Hari pertama sekolah. Meraka harus pakai kostum apa? Eh, bit! Maksudnya bawa bekal apa?

Kegalauan Bu Ilma bukan karena PPDB, bukan pula urusan kostum.  Kegalauan yang hakiki. 

Bagaimana jika Gee tidak keluar dari kamarnya?

--

                Berseragam lengkap Patrion, Gee menatap dirinya pada cermin. Cermin di kamar Gee berfungsi sebagai pintu.  Kemeja lengan panjang warna biru telor asin. Rok kotak-kotak semata kaki berwarna biru tua. Blazer biru tua dengan logo Patrion yang dibordir di dada sebelah kiri. Dua kancing warna berwarna sama.  

                Perlengkapan sekolah ini, Gee dapat satu minggu lalu. Mengambil seragam sekaligus tour singkat Patrion diantar Pak Rusliwa. Tour singkat dipandu Pak Agus. Dia bukan guru di Patrion.Gee tidak tahu jelas posisinya apa di Patrion. Katanya sangat berpengaruh. Itu yang Gee dengar.

 Mereka membawa Gee pada lorong yang disebut lorong walk of fame. Di lorong yang menghubungkan antara aula dan kelas terdapat banyak foto-foto. Puluhan, mungkin ratusan.

"Apakah ayah ada diantaranya?" Tanya Gee.

Pak Rusliwa hanya mengangkat kedua tangannya."Coba terka? Apakah Ayah ada?"

                "Ini adalah para alumni yang ikut mengharumkan Negara bangsa ini Gee," Tunjuk Pak Agus. Di bawah foto selain nama dan tahun angkatan ada keterangan. Menjabat Menteri, pejabat daerah, dirut, pemilik perusahaan dan banyak lagi.

                Dan Gee mengenal sedikit. Ada beberapa yang sering wara-wiri di berita karena terjerat kasus korupsi. Menurut Gee, mungkin harus diberi keterangan jika lulusan Patrion yang terkena korupsi. Ya, paling enggak warna bingkainya dibedakan. Suatu saat Gee akan mengusulkannya pada Pak Agus.

                "Nah, bagian ini adalah lulusan terbaik." Tunjuk Pak Agus.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2