Mohon tunggu...
Hukum

Soal Pengakuan La Nyalla, Keinginan Fahri Ternyata Tidak Didukung Erick Thohir

16 Desember 2018   22:45 Diperbarui: 16 Desember 2018   23:28 0 5 1 Mohon Tunggu...
Soal Pengakuan La Nyalla, Keinginan Fahri Ternyata Tidak Didukung Erick Thohir
(Sumber Tribunnews.com)

Politisi dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Fahri Hamzah yang berharap kepada pihak kepolisian untuk mengambil tindakan berupa pemeriksaan kepada mantan politisi Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) La Nyalla Mahmud Matalliti, sepertinya tidak akan digubris oleh kubu Jokowi.

Belum lama ini, Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin, Erick Thohir memberikan pernyataan di media berita CNN Indonesia sebagai sikap tidak mendukung keinginan Fahri Hamzah.

Sebelumnya Fahri mengirimkan pesan singkat kepada wartawan minta agar pihak polisi melakukan tindak lanjut atas pengakuan mantan politisi Gerindra yang kini bergabung di Partai Bulan Bintang (PBB), La Nyalla Mahmud Mattalitti.

Pengakuan La Nyalla tentang penyebaran isu PKI terhadap Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang pernah terjadi di tahun 2014.

Pada kesempatan lain dan menanggapi keinginan Fahri Hamzah tentang dilakukan tindak-lanjut dari pihak polisi kepada La Nyalla. Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin, Erick Thohir menerangkan bahwa tidak akan membuat laporan kepada politisi La Nyalla yang terkait penyebaran isu kepada calon presiden nomor urut satu soal PKI dan keturunan China yang pernah terjadi di Pilpres 2014.

Erick menyebutkan, La Nyalla sudah minta maaf kepada Jokowi secara langsung dan hal ini sudah dianggap selesai. Oleh karena itu Erick menilai, bahwa situasinya adalah antara yang disakiti dan yang bersalah dan minta maaf, artinya sudah selesai, saat memberikan tanggapan di kawasan Jakarta Pusat.

Erick menyebutkan bahwa La Nyalla adalah sosok yang luar bisa karena berani mengakui kesalahan yang diperbuatnya secara langsung kepada Jokowi dan juga kepada masyarakat. Oleh karena itu, Erick menambahkan bahwa Indonesia butuh sosok yang berani berkata jujur dan mengakui kesalahan.

Dalam memperkenalkan dan meraih suara masyarakat dalam pemilihan presiden, sering menjadi ajang penyampaian visi misi yang berguna kepada masyarakat untuk menjadi nilai tambah bagi calon presiden. Namun yang disayangkan, tidak jarang sering terdapat juga mereka yang berusaha menggunakan segala cara, meski hal tersebut tidak berdasarkan fakta dan data yang benar.

Lagi pula, dalam kasus yang terkait tentang soal pengakuan La Nyalla memang menjadi polemik jika orang tidak mengetahui dasar hukum. Dalam hal ini, bisa di kategorikan dalam kasus hukum delik aduan. Dimana selama orang yang dirugikan tidak melapor, maka pihak polisi tidak dapat melakukan tindak-lanjut, seperti yang menjadi keinginan Fahri Hamzah. Apalagi seperti yang kita ketahui, kedua pihak sudah saling memaafkan.

Tanpa mempertimbangkan manuver politik yang terjadi sebelumnya. Saya kira memang sudah sepatutnya untuk tiap individu dapat saling memaafkan apa yang pernah terjadi di masa lampau. Mengakui kesalahan secara jujur kepada orang yang bersangkutan dan juga di umumkan untuk masyarakat, bukan merupakan langkah yang mudah di lakukan orang banyak orang. Butuh kedewasaan dalam melihat sisi positif dan negatifnya.