Mohon tunggu...
Hamdani
Hamdani Mohon Tunggu... Konsultan - Sang Musafir - Mencari Tempat untuk Selalu Belajar dan Mengabdi

Kilometer Nol

Selanjutnya

Tutup

Kurma

Ramadan sebagai Bulan Pendidikan bagi Hawa Nafsu

18 Mei 2018   14:44 Diperbarui: 19 Mei 2018   11:59 349
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi: riaumandiri.co

Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah R.A, Rasulullah Saw bersabda, "ketika datang bulan ramadan, pintu-pintu langit dibuka, pintu-pintu jahannam ditutup, dan setan-setan dibelenggu."

Karena begitu bernilainya puasa ramadan di sisi Allah, maka syariat ramadan ini juga diberikan kepada ummat Islam. Itulah makna dibukanya pintu-pintu langit, agar ummat Islam bisa memperoleh hikmah yang besar sebagaimana Nabi Adam. AS dan ummat Nasrani serta ummat Yahudi yang dulu juga diperintahkan berpuasa. 

Puasa ramadan dengan segala ketentuan pelaksanaannya sebagai syariat ibadah, bukan hanya bertujuan dalam aspek ilahiyah saja namun juga mengandung nilai-nilai insaniyah dalam konteks sosial. 

Banyak unsur pendidikan yang Allah dan Rasul Nya ajarkan dalam hikmah ramadan. Perintah menahan diri dari makan dan minum, secara filosofis mengandung makna ketaatan ummat Islam terhadap perintah larangan Allah. Jika Allah mengatakan jangan kerjakan, maka tidak dikerjakan.

Dalam konteks sosial, puasa ramadan mendidik ummat Islam agar memperhatikan soal pelarangan makan dan minum. Tidak boleh mengambil makanan dan minuman yang bukan milik kita, itulah makna menahan diri dari makan dan minum secara hikmah. 

Bila kita lihat dari sudut pandang kesehatan, ternyata konsep puasa ini menghasilkan kesehatan bagi tubuh. Dengan jeda makan dan minum hanya 8-10 jam per hari mampu meremajakan kembali daya kerja pencernaan dan usus. Di mana sebelum ramadan lambung terus bekerja memproses makan yang masuk. 

Selain itu, sebagai makhluk sosial, manusia diajarkan melalui puasa ramadan agar peka terhadap kondisi orang lain (saudaranya). Bagaimana rasanya kalau kita makan dan minum sehari saja, sungguh sangat tidak nyaman hidup ini. Nah, bayangkan orang fakir yang tidak makan berhari-hari. Oleh sebab itu, jika kita memiliki kelebihan makanan (harta), maka berbagilah dengan orang-orang fakir/miskin yang kekurangan makanan. 

Sangat banyak hikmah puasa ramadan lainnya yang diberikan Allah Swt. Bahkan bukan hanya hikmah secara fisik atau materi namun secara batiniah juga puasa ramadan mengajarkan manusia untuk menjaga hati, menjaga lisan dari perkataan yang dapat menyakiti saudaranya, hingga hikmah kesabaran yang sangat luar biasa. 

Intinya bahwa puasa ramadan mendidik ummat Islam untuk menjadi manusia yang paripurna, seimbang lahir dan batin. Sehat secara fisik juga sehat secara batin. Tidak ada iri, dengki dan sifat-sifat licik lainnya sebagai penyakit hati yang sangat ganas. 

Menjadi orang yang peka terhadap keadaan masyarakat disekelilingnya, senang membantu antar sesama, menjaga aib saudaranya dengan lidah dan perkataan. Itulah sebagian kepribadian yang diharapkan dimiliki oleh ummat Islam paska ramadan. 

Memang diakui bahwa ibadah puasa adalah ibadah yang berat. Tidak semua orang mampu melakukannya dengan baik, apalagi jika tidak ada keikhlasan dalam mengerjakannya, maka semakin terasa sangat berat. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kurma Selengkapnya
Lihat Kurma Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun