Mohon tunggu...
Hamdani
Hamdani Mohon Tunggu... Konsultan - Sang Musafir - Mencari Tempat untuk Selalu Belajar dan Mengabdi

Kilometer Nol

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Kapitalisasi Pendidikan dan Pertumbuhan Ekonomi

2 Mei 2018   14:32 Diperbarui: 2 Mei 2018   15:02 1038
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
sumber: edukasi.kompas.com

Setiap guru dan siswa pasti sudah sangat hafal dengan momentum 2 Mei, ya! Hari Pendidikan Nasional, tepatnya hari ini. Di hari tersebut berbagai kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan dan kebudayaan di gelar secara besar-besaran dan sangat meriah. Mulai dari acara berbentuk seremonial sampai kegiatan yang bersifat spiritual, dari pagelaran seni sampai festival budaya. 

Acara Hardiknas pun dilakukan mulai dari pemerintah pusat sampai ke pemerintah kabupaten dan kota di seluruh Indonesia. Biasanya pada acara yang bersifat penting dan strategis, kegiatan dimulai dengan acara upacara kenegaraan, seperti menaikkan bendera merah putih oleh pasukan pengibar bendera, menyanyikan lagu kebangsaan dan seterusnya secara khidmat. 

Yang menjadi pembina upacara pun pasti orang nomor satu di setiap level pemerintahan, jika pemerintah pusat, maka Presiden-lah yang bertindak sebagai pembina upacara. Dan seterusnya sampai pemerintah level dibawahnya. Begitulah gambaran peringatan Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap tahun dan hampir tidak perubahan yang signifikan dalam tata tertib acaranya.

Tidak ada yang salah dengan memperingati hari apapun, seperti halnya kemarin (1 Mei 2018) para buruh memperingati Hari Buruh Sedunia atau lebih dikenal dengan Mayday atau juga Hari Kartini, Hari Pahlawan dan hari-hari lainnya. Bahkan secara pribadi pun kita memiliki hari khusus yang memiliki histori atau nilai tertentu dan kita pun memperingatinya, misalnya hari lahir lalu diperingati dengan Hari Ulang Tahun. Sekali lagi tidak ada yang salah. Namun yang menjadi masalah adalah mengapa harus memperingatinya? Apa tujuan memperingatinya? Dan bagaimana para stakeholder memaknai peringatan hari pendidikan tersebut? Inilah yang menjadi subtansinya menurut hemat penulis.

Dari hasil survey kecil-kecilan yang penulis lakukan dengan mengajukan beberapa pertanyaan kepada siswa dan guru yang mengikuti acara peringatan Hardiknas, penulis mendapati sebanyak 40 persen mengatakan bahwa tujuannya adalah hanya mengikuti kegiatan seremonial, 20 persennya mengatakan bertujuan ingin meningkatkan kemajuan pendidikan, sementara 35 persen lainnya bertujuan mendukung program pemerintah. Hanya 5 persen yang tidak menjawab. Dari hasil survey sederhana tersebut dapat dilihat bahwa ternyata tujuan mendukung program pemerintah dalam memajukan pendidikan paling tinggi. Tentu hal ini sangat positif.

Permasalahan Dunia Pendidikan Saat Ini

Jika kita mengikuti berbagai informasi yang disajikan oleh media massa baik media cetak, media elektronik dan media daring (online), dunia pendidikan nasional masih diselimuti berbagai masalah, mulai dari masalah fasilitas sekolah, laboratorium, mobiler, yang masih belum memadai dan bahkan masih timpang antara satu sekolah dengan sekolah lainnya. Kemudian masalah guru yang masih terjadi kekurangan dan kurang kompeten, persoalan kurikulum yang masih tumpah tindih dan masalah teknis lainnya.

Menghadapi era digital dan model pendidikan abad 21 tuntutan terhadap pendidikan semakin komplit, bukan hanya dari segi perkembangan teknologi yang sangat cepat namun tingkat persaingan pun kian meluas, tidak lagi kompetisi berbasis lokal tetapi secara global. Sebab itu jika semua persoalan pendidikan yang selama ini tidak dibenahi, maka sangat mempengaruhi kualitas lulusan dan peserta didik dalam berkompetisi. Misalanya persoalan guru, menurut Namin AB Ibnu Solihin (2015) "Guru banyak yang masih mengajar pakai cara zaman dahulu, padahal sekarang sudah zaman digital. Ditambah siswa yang dihadapinya lahir di zaman digital. Praktik mengajar seperti ini kebanyakan terjadi di sekolah-sekolah negeri. Bahkan, kepala sekolahnya sendiri banyak yang usinya tua, dan sudah hampir pensiun,"

Dari segi kelengkapan fasilitas sekolah juga masih ada yang belum mencapai standar minimal. Di Aceh sendiri masih ada sekolah yang masih menggunakan gedung atau tempat belajar yang tidak layak, bahkan lebih pantas disebut kandang kambing daripada tempat belajar. Fakta ini terdapat di Kabupaten Aceh Utara. Selain sarana tempat belajar, aliran listrik yang tidak tersedia juga merupakan masalah yang fundamental untuk menerapkan sekolah berbasis internet dan digital. Memang hal ini sangat ironis, belahan dunia lain yang justru sangat maju namun masih ada sekolah di Indonesia yang belum teraliri listrik.

Penerapan kurikulum juga menjadi polemik tersendiri dalam proses belajar mengajar di Indonesia, bukan hanya di kota-kota besar bahkan di Aceh juga menjadi kontroversial dan terjadi simpang siur di kalangan para pendidik dan sekolah. Sebagian yang setuju dan tertarik dengan kurikulum 13 (K13), maka disekolah tersebut diterapkan kurikulum 13 meskipun secara infrastruktur dan proses belum siap. Namun sebagian yang lain justru menolak penerapan K13 walaupun ditengarai K13 sangat relevan dan bagus untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas.

Proyeksi kebutuhan pendidikan abad 21 sendiri sekurang-kurangnya ada tiga komponen utama yang harus dimiliki oleh seorang peserta didik agar mampu berkompetisi secara global; pertama : Karakter, ini berkaitan dengan personaliti dan soft skill seseorang. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun