Ceritaramlan

Pemimpin yang Gemar Zakat dan Sedekah, Pasti Tak Korupsi

13 Juni 2018   16:15 Diperbarui: 13 Juni 2018   16:25 537 0 0
Pemimpin yang Gemar Zakat dan Sedekah, Pasti Tak Korupsi
eramas.id

"Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah" seruan ini di dalam ajaran Islam mengingatkan kita akan pentingnya saling memberi, saling berbagi.

Dalam Islam kita mengenal konsep sosial yang mengajak seluruh ummatnya untuk saling tolong menolong kepada sesama dalam kebaikan. Ibadah Zakat, Qurbah dan Sedekah yang ada dalam Islam, selain mempererat hubungan manusia dengan Tuhan, juga menguatkan hubungan manusia dengan manusia lainnya. Selain, itu zakat & sedekah juga memberikan banyak manfaat baik bagi yang menerima maupun yang memberi.

Gemar zakat & sedekah, pun menjadi salah satu syarat kepemimpinan dalam Islam. Pemimpin yang gemar zakat & sedekah diyakini tidak akan korupsi, karena ia punya semangat berbagi. Mereka yang punya semangat berbagi rezeki takkan takut apa yang dimilikinya habis, karena mereka yang gemar zakat & sedekah percaya rezeki datangnya dari Allah. Pemimpin yang gemar zakat & sedekah meyakini, apa yang telah diberi akan mendapat ganjaran terbaik dari Allah Swt.

Tahun 2018 adalah tahun politik di Indonesia. Sejumlah kontestasi pemilihan kepala daerah sedang berlangsung, baik di tingkat Kabupaten / Kota maupun Provinsi. Salah satu daerah yang tengah sibuk menjalankan pesta demokrasinya di tahun 2018 ialah Sumatera Utara. Di Sumut kedua paslon yang tengah bertarung sama-sama mencitrakan diri mereka sebagai sosok yang 'bersih' dan layak dipilih. Namun, sebagai muslim tak payah sebenarnyany bagi kita menentukan mana pemimpin yang benar-benar bersih.

Seperti yang kami sampaikan diatas, dalam Islam, gemar zakat dan sedekah merupakan salah satu syarat penting dalam kepemimpinan. Mereka yang gemar zakat & sedekah, pasti tak korupsi, karena mereka yakin rezeki mereka telah dijamin Allah Swt. Nah, diantara kedua paslon, manakah yang paling memenuhi syarat gemar zakat & sedekah ?

Adalah Musa Rajekshah alias Ijeck, kami melihat sosok calon wakil gubernur Sumut nomor urut 1 ini sebagai sosok yang paling memenuhi salah satu syarat kepemimpinan dalam Islam; gemar zakat & sedekah. Sedari dulu, Ijeck yang merupakan anak tokoh masyarakat Sumatera Utara Haji Anif ini memang dikenal senang melakukan kegiatan sosial. Sebagai Ketua Yayasan Haji Anif ( YHA ) Ijeck terlibat aktif dalam penyaluran bantuan sosial yang berdampak positif bagi masyarakat Sumut, jauh sebelum kontestasi Pilgubsu berlangsung.

Diantara program Yayasan Haji Anif ( YHA ) dibawah kepemimpinan Ijeck ialah mobil pembersih masjid, yang saat ini telah dirasakan manfaatnya oleh sekitar 3000an masjid di 12 Kabupaten / Kota di Sumut. YHA juga memberikan bantuan di bidang pendidikan, dengan mendirikan sekolah-sekolah gratis, menghibahkan lahan yang dimiliki keluarga haji anif untuk areal sekolah, membantu honor guru mengaji, memberikan pelatihan keterampilan perempuan, mendirikan sejumlah masjid, dan membantu biaya pembangunan gedung-gedung perkuliahan di sejumlah Universitas Negeri dan swasta di Sumatera Utara. Selain itu, saat ini Ijeck juga menjabat sebagai Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Medan.

Karenanya kami heran ketika Badan Pengawas Pemilu ( Bawaslu ) Sumut membuat aturan akan mengawasi penyaluran zakat. Selain telah masuk terlalu jauh kedalam ranah yang bukan miliknya, pengawasan penyaluran zakat oleh bawaslu juga terkesan seperti hendak 'memotong' langkah salah satu paslon yaitu paslon nomor urut 1, yang memang dikenal rajin menyalurkan zakat dan bersedekah jauh sebelum kontestasi pilkada.

Pun, berlangsungnya pemilihan kepala daerah adalah upaya untuk mendapat pemimpin daerah yang membawa kemaslahatan pada masyarakat yang dipimpinnya. Merujuk pada Islam, memilih pemimpin bersih berarti memilih pemimpin yang gemar zakat & sedekah. Karena mereka yang yakin akan manfaat berbagi, dan yakin rezekinya telah diatur Allah Swt, pasti takkan korupsi.