Mohon tunggu...
Ilham S
Ilham S Mohon Tunggu... Mahasiswa Serabutan

Pemuda inferior yang sedang belajar beropini melalui tulisan..

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Punk dalam Perspektif Filsafat Eksistensialisme

29 Januari 2020   01:21 Diperbarui: 31 Januari 2020   00:01 209 0 0 Mohon Tunggu...
Punk dalam Perspektif Filsafat Eksistensialisme
hypebeast.com

Konotasi negatif memang melekat erat dengan punk. Gerakan yang berpegang teguh pada prinsip anti kemapanan ini kerap diasosiasikan dengan aksi kriminal yang menjadi anomali dalam masyarakat. Tak jarang banyak orang yang sepakat untuk mendefinisikan punk sebagai kelompok indisipliner yang kerjaannya hanya mabuk-mabukan, memalak, membuat keributan serta aksi anarkis yang mengganggu ketertiban dan meresahkan masyarakat. Tetapi bagaimanapun juga, punk telah menjadi suatu fenomena unik yang keberadaannya sudah menjadi bagian dari dinamika kehidupan masyarakat.

Mulanya punk lahir di Inggris pada tahun 1970-an sebagai bentuk ide dan perlawanan anak-anak muda yang berasal dari kelas pekerja terhadap pemerintahan monarki Inggris yang menerapkan sistem ekonomi kapitalisme yang mengakibatkan munculnya berbagai tindakan eksploitasi dan diskriminasi terhadap kelas pekerja. 

Sesuai dengan latar belakangnya, punk dapat didefinisikan sebagai perilaku yang lahir dari sifat melawan, tidak puas hati, marah, dan benci pada sesuatu yang tidak pada tempatnya terutama terhadap tindakan yang menindas (G, 2010). Punk juga dapat diartikan sebagai pemuda yang mempunyai keberanian memberontak untuk memperjuangkan kebebasannya dan melakukan perubahan (O'Hara, 1995). Mereka hidup bebas dan tetap bertanggung jawab pada setiap tindakannya. 

Lebih jauh, punk dapat dikonsepsikan sebagai wujud pemberontakan dari manusia yang merasa nihil atas hidupnya yang diekspresikan dalam bentuk kebebasan. Mereka mengalami gejolak perasaan untuk dapat bebas melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang mereka inginkan tanpa intervensi dari pihak mana pun.  

Dari definisi-definisi itu, secara tidak langsung kita dapat memandang punk sebagai refleksi atas gejolak eksistensi manusia yang mana membuat punk dapat dilihat dari kecamata eksistensialisme. Secara umum eksistensialisme menekankan pentingnya kebebasan manusia dan pilihan kreatif yang bebas atau dengan kata lain, manusia sendiri yang berhak untuk menentukan esensinya. 

Kebebasan bukan sesuatu yang harus dibuktikan atau dibicarakan, tetapi ia adalah suatu realitas yang harus dialami. Kebebasan manusia adalah bebas berkehendak, memilih di antara kemungkinan yang ada yang selalu berbeda dari waktu ke waktu, menetapkan keputusan-keputusan serta bertanggung jawab tentang semua itu (Roswantoro, 2004).  

Sejalan dengan itu, dengan kebebasan yang selalu diusung, punker (sebutan untuk orang yang menerapkan gaya hidup punk) secara leluasa mampu untuk membentuk identitas diri mereka sendiri tanpa harus mengkhawatirkan atau takut dengan komentar negatif dari orang lain.

Selanjutnya, Soren Kierkegaard melalu karyanya The Present Age memperingatkan bahwa manusia sedang menghadapi suatu zaman yang penuh dengan proses penyamarataan. Manusia akan menjelma menjadi manusia massa. Proses penyamarataan ini akan menyebabkan timbulnya frustasi. Proses penyamarataan ini tidak memperhatikan kepribadian manusia, perbedaan kualitatif manusia dengan yang lainnya, dan penghayatan subjektif. Dalam massa yang menyamaratakan ini, individu pribadi terasing dari dirinya sendiri, mengalami alienasi diri, dan tidak menjalankan eksistensinya secara sejati (Hassan, 2005). 

Jalan yang dapat diambil untuk melawan proses penyamataraan ini adalah dengan tampil berbeda. Maksudnya adalah mengikuti kemauan hati dan melakukan hal yang disukai tanpa harus peduli dengan omongan orang lain.  Dengan berbeda dari apa yang disebut Kierkegaard sebagai massa, manusia mampu secara sejati menjalankan eksistensinya dan secara penuh menjadi manusia yang konkret dan nyata karena dalam prosesnya manusia telah mengalami internalisasi dan aktualisasi diri. Menetapkan siapa dirinya, memutuskan ingin jadi apa dirinya, dan kemudian bertindak sesuai dengan pilihannya.

Masalah yang disinggung oleh Soren Kierkegaard ini terbukti dengan hadirnya punk di tengah-tengah masyarakat mapan yang telah menentukan mana yang lazim dan mana yang tidak lazim dengan mengabaikan subjektivitas. Kita bisa melihat bagaimana punker mengekspresikan dirinya dengan penampilan yang mungkin bagi kita tidak lazim, rambut disusun runcing ke atas (mohawk), memakai jaket kulit dan celana jeans ketat penuh sobekan, badan penuh tato dan tindik. Dengan gaya penampilan seperti ini, punk melawan pikiran-pikiran massa yang sudah dimapankan yang menganggap negatif penampilan orang lain yang berbeda.

Bagi penulis, sejatinya punk merupakan salah satu wujud gambaran manusia yang berdinamika dengan eksistensinya. Mereka hidup atas penghayatan dalam diri dan menempatkan diri mereka sebagai subjek yang mana mampu membuat mereka menjadi manusia utuh dengan eksistensinya yang bermakna.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x