Mohon tunggu...
Calvin JordanSimanjuntak
Calvin JordanSimanjuntak Mohon Tunggu... Mahasiswa Universitas Swasta D.I.Yogyakarta

Mahasiswa, D.I.Yogyakarta

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Acara Martonggo Raja dari Sudut Pandang Dimensi Hofstede dan Kluckhohn dan Strodbeck

13 Oktober 2020   20:56 Diperbarui: 13 Oktober 2020   21:11 556 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Acara Martonggo Raja dari Sudut Pandang Dimensi Hofstede dan Kluckhohn dan Strodbeck
hetanews.com

            Acara Martonggo Raja adalah salah satu bagian dari upacara adat dari suku batak. Acara Martonggo Raja merupakan bagian dari upacara adat kematian dari suku batak. Ketika seseorang masyarakat Batak mati saur matua, maka sewajarnya pihak-pihak kerabat sesegera mungkin mengadakan musyawarah keluarga (martonggo raja), membahas persiapan pengadaan upacara saur matua. (Hitabatak, 2017). Acara tersebut di hadiri oleh pihak - pihak kerabat yang terdri dari unsur-unsur dalihan natolu (sistem hubungan sosial masyarakat Batak). Dalihan natolu terdri dari tiga kelompok unsur kekerabatan, hula-hula (kelompok keluarga marga pihak istri), dongan tobu (Kelompok orang-orang: teman atau saudara semarga), dan boru (Pihak marga suami dari masing-masing saudara perempuan kita, keluarga perempuan pihak ayah). Pihak-pihak tersebut diwakili oleh salah satu laki-laki dalam marga tersebut. Acara dilakukan dengan bermusyawarah yang melibatkan beberapa pihak yang ada di atas.

            Acara Martonggo Raja adalah bentuk dari musyawarah yang menjadi salah satu budaya di Indonesia dan terdapat dalam Pancasila sila ke-4. Musyawarah, pembahasan bersama dengan maksud mencapai keputusan atas penyelesaian masalah (KBBI). Kegiatan musyawarah biasa dilakukan dalam kelompok. Kegiatan tersebut jika dilihat dari dimensi Hofstede termasuk dalam kolektivisme.

            In collective cultures, interpersonal relationships form a rigid social framework that distinguishes between in-groups and out-groups. People rely on their in-groups (e.g., family, tribe, clan, organization) for support, and in exchange, they believe they owe loyalty to that group. (Samovar, Porter, McDaniel, & Roy, 2017, h.224).

Budaya kolektivisme mengadalkan kelompok ketimbang individu, salah satunya dalam mengambil keputusan. Dalam acara martonggo raja, pihak yang terlibat berunding membicarakan pemakaman dan adat yang sesuai. Dalam adat batak, seluruh peristiwa kematian mendaptkan perlakuan adat. Namun ada beberapa hal yang membuat upacara adat kematian mendapat sarat adat seperti,

            1. Telah berumah tangga namun belum mempunyai anak (mate di paralang-alangan/mate punu), 2. Telah berumah tangga dengan meninggalkan anak-anaknya yang masih kecil (mate mangkar), 3. Telah memiliki anak-anak yang sudah dewasa, bahkan sudah ada yang kawin, namun belum bercucu (mate hatungganeon), 4. Telah memiliki cucu, namun masih ada anaknya yang belum menikah (mate sari matua), dan 5. Telah bercucu tapi tidak harus dari semua anak-anaknya (mate saur matua). (Hitabatak, 2017)

Hal tersebut semakin menentukan bagaimana upacara adat kematian akan dilaksanakan. Keputusan mengenai hal tersebut diputuskan pada acara tersebut Bersama dengan raja adat yang ada. Selain kolektivisme, dalam dimensi Hofstede acara ini juga mengandung budaya maskulin.  

Masculinity is the extent to which the dominant values in a society are male oriented. (Samovar, Porter, McDaniel, & Roy, 2017, h.228).

Hal tersebut berdasarkan budaya suku Batak yang menganut budaya patrilineal.

            Dalam sudut dimensi Kluckhohn dan Strodbeck, acara ini termasuk dalam orientasi hubungan antara manusia dengan sesamanya. Dalam Koentjaraningrat, 1992 : 28 (Riwanto, 2018), tabel mengenai kerangka Kluckhohn tentang lima masalah hidup yang menentukan orientasi nilai budaya manusia , orientasi hakekat hubungan manusia dengan manusia terdapat; memandang ke tokoh-tokoh, mementingkan rasa ketergantungan kepada sesamanya (berjiwa gotong royong), dan mementingkan rasa tak bergantung pada sesamanya.

 Dari ketiga orientasi hakekat hubungan manusia dengan manusia, acara ini termasuk dalam orientasi kedua, mementingkan rasa ketergantungan kepada sesamanya. Dalam orientasi tersebut disebutkan seperti halnya gotong royong yang dimana dilakukan oleh suatu kelompok sebagai bentuk keloyalan mereka terhadap kelompok. Dalam acara martonggo raja, segala hal dilakukan dalam kelompok dan sebagai bentuk keloyalan keluarga tersebut terhadap adat dalam suku Batak.

            Acara martonggo raja merupakan acara adat yang dilakukan dalam kelompok. Acara adat tersebut mengandung dimensi Hofstede maupun dimensi Kluckhohn yaitu mementingkan hubungan dalam suatu kelompok, Koletivisme dan mementingkan rasa ketergantungan kepada sesamanya (berjiwa gotong royong).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN