Mohon tunggu...
Calvin JordanSimanjuntak
Calvin JordanSimanjuntak Mohon Tunggu... Mahasiswa Universitas Swasta D.I.Yogyakarta

Mahasiswa, D.I.Yogyakarta

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Budaya Sapaan, Kenali Dulu Budayanya Agar Tidak Shock

29 September 2020   23:20 Diperbarui: 29 September 2020   23:27 126 6 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Budaya Sapaan, Kenali Dulu Budayanya Agar Tidak Shock
Foto : ABC

Budaya sapaan selalu diajarkan oleh orang tua kita. Budaya sapaan masuk dalam salah satu bentuk tata krama dalam bersikap. Di Indonesia terdapat banyak jenis budaya sapaan yang berasal dari berbagai daerah; Akang, Teteh, Aa (Sunda); Mas, Mba, Pakdhe, Budhe (Jawa), Babe, Enyak, Engkong (Betawi). 

Beragam jenis sapaan itu bertujuan untk menghormati orang yang lebih tua dari kita. Di negara lain terdapat hal sejenis yaitu keigo. Menurut Terada (1984), Orang Jepang menyebut keigo sebagai bahasa yang mengungkapkan rasa hormat terhadap lawan bicara atau orang ketiga (Iqbal, 2018). 

Sementara orang barat sering sekali memanggil orang yang lebih tua dengan panggilan nama saja. Namun bukan berarti cara tersebut salah. Hal di atas di sebut dengan kesantunan dalam berbahasa, yang terkadang menimbulkan perbedaan persepsi mengenai santun atau tidak penggunaan bahasa di dalam suatu negara. 

Kesantunan (politeness) dalam berkomunikasi adalah hal-hal yang berkaitan dengan pemilihan dan penggunaan bentuk kebahasaan dan cara berbahasa tertentu yang dianggap dan disepakati sebagai bentuk dan cara yang sopan oleh suatu masyarakat tutur (Rahayu, 2017).

Persepsi

Saat kita pertama kali berkunjung ke luar negeri dan menemukan orang berbicara dengan orang yang lebih tua hanya menggunakan nama saja, mungkin kita akan kaget. 

Hal tersebut wajar biasanya kita memanggil baik orang yang lebih tua maupun orang asing menggunakan sapaan seperti mas, mba, pak, bu, teteh, akang, aa dan sebagainya. 

Alasan yang dapat memperkuat hal tersebut adalah perbedaan budaya, budaya Indonesia selalu mengajarkan untuk memanggil orang yang lebih tua dengan sapaan baik Pak, Bu, Mas, maupun Mba. 

Kalau begitu berarti salah dong? Jawabannya tidak. Orang Indonesia memandang itu salah karena budaya mereka tidak mengajarkan itu, sedangkan budaya mereka mengajarkan hal tersebut sehingga wajar mereka melakukannya. Hal tersebut yang di sebut persepsi.

British author and scholar, C.S. Lewis, has provided a more practical view of perception, and one that introduces the role of culture: “What you see and what you hear depends a great deal on where you are standing. It also depends on what sort of person you are.” (Samovar, Porter, McDaniel, & Roy, 2017).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x