Mohon tunggu...
Cakra Union
Cakra Union Mohon Tunggu... Mahasiswa - Peserta Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM 2) Universitas Negeri Malang

Kelompok modul nusantara yang beranggotakan 19 orang mahasiswa/i dari berbagai almamater mulai sabang hingga merauke. Bersatu dalam perbedaan demi negeri tercinta Indonesia. Saling merangkul untuk mewujudkan rasa nasionalisme dan patriotisme. Bertukar sementara, bermakna selamanya!

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Menilik Sejarah Pondok Pesantren Al-Ishlahiyah Singosari

13 Oktober 2022   19:55 Diperbarui: 13 Oktober 2022   19:59 720
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ket: Foto bersama di halaman depan Pondok Pesantren Al-Ishlahiyah Singosari, Malang.

Pada kesempatan kali ini, kami para peserta kegiatan Modul Nusantara diajak untuk mengunjungi salah satu pondok pesantren di Jl. Kramat Kelurahan Pagentan, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur yaitu Pondok Pesantren Al-Ishlahiyah.

Setiba di sana, kami disambut hangat oleh salah satu dewan pendidik pesantren. Kami pun bertemu dengan Kepala Sekolah Yayasan Ponpes Al-Ishlahiyah, H. Muhammad Nasrullah.

Beliau menceritakan tentang perkembangan pesantren tersebut. Pondok ini mayoritas dihuni oleh santri putri, karena pertama kali dibangun memang dikhususkan untuk pondok putri.

Perlu kita ketahui bahwa Ponpes ini merupakan pondok putri pertama yang ada di kawasan Malang. Pondok Pesantren Al-Ishlahiyah didirikan pada tahun 1955 oleh Almarhum KH. Mahfudz Kholil bersama istrinya Hj. Hasbiyah Hamid (Puteri Almarhum KH. Abdul Hamid Hasbullah (adik kandung pendiri NU, KH. Abdul Wahab Hasbullah, Tambakberas Jombang).

Pada saat itu diawali dengan para remaja putri di sekitar Singosari mengaji kepada KH. Mahfudz dan hanya untuk kegiatan mengaji lalu pulang ke rumah masing-masing.

Namun seiring berjalannya waktu jumlah santrinya semakin bertambah. KH. Mahfudz pun mengorganisir para santri yang mengaji di rumahnya dengan membentuk komisariat IPPNU (Ikatan Pelajar Putri Nahdatul Ulama') yang diberi nama Al-Ishlah (yang berarti maju/damai).

Sejak saat itulah kediaman keluarga KH. Mahfudz mulai dikenal dengan sebutan pesantren putri Al-Ishlah dan kemudian diganti dengan nama Pesantren Al-Ishlahiyah.

Dikarenakan sudah mulai banyak remaja yang ikut mengaji kerumah KH. Moh Mahfudz, maka dibangunlah bangunan pondok untuk tempat tinggal para santri dan terus berkembang hingga didirikannya pondok khusus putra.

KH. Mahfudz Kholil merupakan cucu dari KH Moh Thohir, pengasuh Ponpes Miftahul Falah, Kelurahan Bungkuk, Kecamatan Singosari.

Beliau merupakan salah satu ulama dan pembuka tapak tilas penyebaran agama Islam di daerah Malang Raya bagian Utara.

Banyak peziarah yang berbondong-bondong mengunjungi makam KH. Moh Thohir yang tak begitu jauh dari Pondok Al-Ishlahiyah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun