Mohon tunggu...
Kamaluddin
Kamaluddin Mohon Tunggu... Sekertaris Wilayah Forum Santri Nasional Sulawesi Tenggara dan Ketua PMII Konawe periode 2017-2018

Memanusiakan Manusia

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Cadar, Apakah Budaya atau Syariat Islam?

29 November 2019   10:20 Diperbarui: 30 November 2019   00:36 297 0 0 Mohon Tunggu...
Cadar, Apakah Budaya atau Syariat Islam?
Gambar: Cadar atau Niqab

Manusia lahir dari rahim seorang perempuan tanpa menggunakan sehelai pakaian yang menempel ditubuhnya. Manusia mengenal pakaian sekitar 170.000 ribu tahun lalu hal itu berdasarkan penelitian dari University of Florida pada tahun 2013.

Pakaian yang digunakan oleh manusia memiliki berbagai macam jenis, salah satunya adalah Cadar atau yang dikenal dalam bahasa arab sebagai Niqab. Cadar atau niqab merupakan salah satu pakain yang akhir-akhir ini marak diperbincangkan oleh beberapa kalangan, ada yang mengganggap cadar merupakan budaya Arab dan ada juga yang mengatakan Cadar merupakan syariat islam

Lantas mana yang betul, apakah cadar merupakan bagian dari Syariat Islam atau merupakan budaya Arab yang diadobsi oleh beberapa umat islam? Kita akan membahas masalah cadar ini dimulai dari sejarahnya sampe pada hukum menggunakannya dalam islam.

Pertama, kita akan membahas Sejarah Awal Cadar atau dimasa pra islam. Menurut Abdul halim abu syuqqah, seorang ulama yang melakukan riset tentang cadar yang termuat dalam sebuah buku yang berjudul An-Niqab fi syariat al-islam menyatakan bahwa Niqab meruapakan bagian dari salah satu jenis pakaian yang digunakan oleh sebagian merempuan dimasa jahiliyah.  Kemudian model pakaian ini berlangsung hingga masa islam".

Berdasarkan riset yang dilakukan abdul Halim abu syuqqah terhadap Niqab atau cadar sangat jelas bahwa cadar ada sebelum nabi Muhammad SAW diangakat sebagai rosul dan nabi, dengan kata lain bahwa cadar ada atau digunakan oleh kaum wanita sebelum islam datang atau pada masa jahiliyyah.

Kedua, sejarah cadar ketika islam datang. Cadar merupakan pakaian yang digunakan oleh para wanita jauh sebelum islam datang mapaun ketika islam datang ditanah mekka. Dan perlu diketahui bahwa ketika islam datang tidak ada sebuah perintah khusus atau sebauah kewajiban maupun hanya sebatas ke sunnahan untuk menggunakan cadar atau Niqab.

Hal ini berdasarkan salah satu hadits yang riwayat Ibnu Majah dari Aisyah. Bahwa ia berkata "pada saat nabi sampai di madinah dimana saat itu beliau menikahi shafiyyah binti huhay, perempuan-perempuan anshor datang mengabarkan tentang kedatangan nabi. Lalu saya (Aisyah) menyamar dan mengenakan niqab kemudian ikut menyambutnya. Lalu nabi menatap kedua mataku dan megenaliku. Aku memalingkan wajah sembari menghindar dan berjalan cepat, kemudian nabi menyusulku". (Hr. Ibnu Majah).

Dari riwayat Ibnu majah sangat jelas sekali bahwa Niqab atau cadar Hanyalah salah satu jenis pakaian yang sudah ada ketika dimasa-masa islam datang.  Dan cadar merupakan pakaian langkah dalam kehidupan sehari-sehari perempuan yang ada di Madinah dan Mekkah. Kerena, dalam riwayat- riwayat hadits tersebut kata "Niqab" hampir selalu diikuti dengan kata "tanakkur" yang memiliki arti (menyamarkan diri dari orang lain).

"Tanakkur" dalam hadits tersebut juga bisa dimaknai bahwa pakaian yang digunakan oleh istri Nabi adalah pakaian yang tidak biasa. Jadi dapat disimpulkan bahwa niqab dalam hadits tersebut merupakan wasilah untuk "tanakkur" dimana pakaian tersebut digunakan oleh sejumlah perempuan Arab pra Islam saat mereka keluar dari Mekkah atau Madinah. Dan hal itu merupakan sesuatu yang sangat jarang atau langkah.

Ketiga, Hukum menggunakan Cadar. Kalau kita berbicara masalah hukum menggunakan cadar terjadi perbedaan pendapat dikalangan ulama, sebagai mana tertuang dalam kitab Al-Mawsu'atul Fiqhiyyah Al-kuwaitiyyah " Mayoritas Fuqaha (baik dari mahzab Hanafi, Maliki, Syafi'i dan Hambali) berpendapat bahwa wajah bukan termasuk aurat.  Jika demikian, wanita boleh menutupinya dengan cadar dan boleh membukanya".  Jadi, kita akan bahas satu persatu pandangan para ulama tersebut:

Pertama, pendapat Imam Hanafi yang mengatakan bahwa dizaman sekarang perempuan yang masih muda (Al-mar'ah asy-syabbah) dilarang membuka wajahnya diantara laki-laki.  Bukan karena wajah itu sendiri adalah aurat tetapi lebih kerena untuk menghindari fitnah (dalam kitab Al-Mawsu'atul Fiqhiyyah Al-kuwaitiyyah).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN