Mohon tunggu...
Cahyani Saputri
Cahyani Saputri Mohon Tunggu... Mahasiswa Administrasi Pendidikan Universitas Jambi

In a world of worriers, be the warrior

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama

Upaya Meningkatkan Sikap Toleransi Melalui Pendidikan Multikultural

14 April 2021   06:03 Diperbarui: 14 April 2021   06:12 72 1 0 Mohon Tunggu...

Pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan perbedaan antara manusia dengan organisme lain. Menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003, pendidikan adalah upaya sadar dan terencana yang bertujuan untuk menciptakan suasana belajar dan proses pembelajaran, sehingga peserta didik dapat secara aktif mengembangkan potensi dirinya, dengan kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian. , kepribadian luhur, keterampilan dan keterampilan yang dibutuhkan oleh masyarakat, bangsa, dan Negara. Menurut Hasan Basri ia mengartikan bahwa asal dari kata "pendidikan" adalah berasal dari kata didik yang mempunyai makna "bina" dan juga berawal dari awalan pen- dan berakhir pada --an, artinya adalah suatu sikap pendampingan atau suatu bimbingan atau suatu pengajaran. Perkembangan seluruh aspek individu manusia yang berlangung sepanjang hidup merupakan makna dari suatu pendidikan itu sendiri.

Keberagaman merupakan sesuatu yang sangat erat dan melekat pada masyarakat Indonesia. Bukan tanpa alasan, Indonesia memiliki ragam ras, budaya dan bahasa sebagai ciri dan ciri khasnya sendiri. Kalaupun berbeda, bangsa Indonesia tetap bekerja keras menjaga keberagaman yang ada dan hidup berdampingan secara rukun dan damai. Inilah yang disebut dengan multikultur yaitu keragaman budaya. Budaya yang dimaksud Ini melibatkan beberapa hal, seperti ras, agama, tradisi, bahasa, status sosial, ekonomi, jenis kelamin, dll. 

Semua hal yang berhubungan dengan perbedaan atau kesamaan yang terdapat pada seseorang maupun kelompok. Pendidikan multikultura adalah suatu proses pembentukan, arah, kebijaksanaan, pelatihan dan pengajaran untuk semua pelajar formal dan informal mengenai nilai-nilai multikultural (seperti perbedaan) ras, agama, budaya, bahasa, jenis kelamin, kelas sosial, ras, kemampuan, sehingga bisa diterapkan dalam kehidupan social. Dari hal itu akan membangun harmoni, kedamaian, ketenangan dan kenyamanan batin dalam berkehidupan social dan bernegara. Adapun tujuan pendidikan multikultural adalah menargetkan keterikatan nilai-nilai baik yang terkandung di dalam pendidikan multikultural sehingga nilai yang diperoleh tersebut dapat direalisasikan pada diri sendiri selama menjalankan kehidupan sebagai manusia.

Kedua orangtua saya berasal dari etnis melayu Kerinci, dimana kelompok etnis ini mendiami wilayah Kabupaten Kerinci Provinsi Jambi. Tepatnya di desa Sungai Tutung. Dalam etnis ini, suatu kelompok masyarakat disatu dusun misalnya dipimpin oleh kepala dusun yang dinobatkan sebagai kepala adat atau tetua adat. Kerinci di sebut dengan suku melayu tua Orang Kerinci sebagiannya memiliki keragaman dialek di setiap daerahnya atau disetiap dusunnya. Sama halnya dengan di Kota Jambi seperti Kota Jambi Seberang. 

Dalam segi bahasanya mungkin sama, namun hanya tampak berbeda pada intonasi pengucapannya. Berbeda dengan Kerinci yang memiliki perbedaan bahasa cukup jauh di setiap dusun. Saya sendiri merupakan keturunan dari etnis tersebut yang sekarang berdomisili ke Provinsi Jambi acap kali dalam berkomunikasi di tertawakan, karena memiliki color dan aksen yang berbeda. Meskipun telah berdomisili ke Kota Jambi saya dan keluarga tetap berkomunikasi dengan menggunakan bahasa dari tanah kampung halaman yakni bahasa Kerinci. 

Anggapan juga sering terjadi disini, masyarakat Jambi sering memiliki anggapan tersendiri dalam menilai orang kerinci. Mereka mengatakan bahwa keseluruhan orang kerinci memiliki warna kulit yang cenderung lebih putih dan memiliki mata yang agak sipit. Mereka melihat daerah Kerinci dikelilingi oleh perbukitan dan pegunungan sehingga memiliki iklim yang dingin. Spekulasi inilah yang menjadi bahan acuan mereka. Terlepas dari hal itu, saya sebagai orang Kerinci merasa imbang, tidak banyak yang berkulit putih dan tidak banyak yang berkulit hitam.

Saya sangat mendukung penuh jika di suatu sekolahan terdapat ajaran tentang multikultur, hal ini menunjukkan bahwa perbedaan adalah suatu hal yang indah. Membangkitkan sikap toleransi antar sesama dan mempererat kesatuan bangsa Indonesia upaya hidup dengan sejahtera dan damai. Calon penerus bangsa wajib mempunyai nilai toleransi yang tinggi terhadap segala perbedaan yang ada, itulah sebabnya pendidikan multikultur harus di terapkan pada suatu sekolah baik pada tinkgat TK, SD, SMP dan SMA. 

Bicara tentang perbedaan, sejatinya Indonesia memiliki banyak sekali keberagaman khususnya dari segi etnik. Namun keberagaman dan perbedaan yang saya miliki sampai detik ini tidak pernah diperlakukan secara berbeda di dalam sebuah kelompok. Meskipun terkadang dalam segi bahasa memiliki aksen yang terdengar aneh, ternyata hal ini pada dasarnya dapat dimaklumi oleh kelompok lingkungan saya dan mereka tidak memandang hal tersebut sebagai bahan candaan yang berlebihan.

Dalam hidup berkelompok, Indonesia memiliki segudang keberagaman budaya dan hal lainnya di setiap masing-masing daerah. Hal ini menujukkan bahwa keberagaman yang dimiliki bangsa Indonesia dapat menjadi suatu pancaran kepada budaya luar. Dan perbedaan ini sekaligus dapat menjadi identitas bangas yang menandakan bangas tersebut kaya akan toleransi. Sebagai warga negara yang memiliki jiwa toleransi antar sesama, saya memandang bahwa perbedaan dalam kelompok saya adalah suatu hal indah dan mestinya tidak untuk saling menjatuhkan. 

Perbedaan yang sering saya jumpai adalah tentang kepercayaan. Saya sangat menghormati betul dan menerima perbedaan yang ada. Karenanya, keberagaman Indonesia adalah kekayaan dan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia. Seharusnya rekan-rekan kita terjalin dengan keragaman Indonesia. Jangan biarkan keragaman yang sudah mapan dirusak begitu saja.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x