Mohon tunggu...
Cahyaningsih Humendru
Cahyaningsih Humendru Mohon Tunggu... Mahasiswa - Saya masih mahasiswa

Hallo

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Pengetahuan Mencapai Kebenaran

25 Mei 2024   09:24 Diperbarui: 25 Mei 2024   09:56 115
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Filsafat. Sumber ilustrasi: PEXELS/Wirestock

Selain heran, manusia juga sering bertanya karena dalam hatinya timbul keraguan dan kebimbangan. Manusia semakin ditantang untuk bertanya," benarkah keyakinan-keyakinan dan kebenaran yang sudah ku ketahui selama ini semua keyakinan yang diwariskan secara mendarah daging kepadaku sejak masa kecil? 

Pertanyaan ini semakin ditantang ketika kita berhadapan dengan pendapat orang lain yang sangat bertentangan dengan kita. Contohnya, "saya yakin bahwa akan adanya hidup abadi." Namun orang lain mengatakan bahwa, " setelah mati ya selesai. Disini timbul pertanyaan tentang kesanggupan manusia untuk mencapai kebenaran yang diakibatkan oleh perbedaan keyakinan. Walaupun manusia secara spontan sering yakin akan kemampuannya, namun kadang ia dirangsang oleh kekeliruannya sendiri dan juga oleh pandangan orang lain yang berbeda dengan kita, tetapi orang akan merasa damai bila ternyata pengetahuannya benar

Menjadi pertanyaannya, Apa yang menyebabkan adanya perbedaan pendapat? Bagaimana saya tahu bahwa pengetahuan saya benar? Dan sampai dimana kesanggupan manusia menuju kebenaran? Melalui pertanyaan inilah lahir apa yang disebut filsafat pengetahuan. Plato mengatakan bahwa pengetahuan sudah ada dalam diri seseorang. Pertanyaannya ialah apakah ia mau melahirkannya atau tidak. Kalau kaum Sofis mengatakan bahwa pengetahuan itu bisa ditransfer dan di download, maka Plato mengatakan bahwa pengetahuan tidak bisa di download. Pengetahuan harus lahir dari diri kita sendiri. Tugas filsuf dialektika ialah memprovokasi agar pengetahuan itu lahir betul betul dari diri kita sendiri. Maka pengetahuan itu bagi Plato ialah anamnese (mengingat kembali). Yang kita ketahui adalah apa yang menjadi obsesi kita sendiri dan keyakinan keyakinan kita sendiri. Bukan lewat transfer melainkan lewat sakit melahirkan yang kita alami sendiri maka pengetahuan itu hadir. Inilah yang bagi Plato sebagaimana yang di pahami dari sokrates sebagai metode kebidanan. Seorang bidan tidak melahirkan sesuatu tetapi ia memprovokasi dan menyemangati seorang ibu agar dapat melahirkannya sendiri.Maka yang sebenarnya bahwa ketika kita mempunyai pengetahuan maka kita dapat melahirkan sebuah kebenaran baru. Pengetahuan yang mencapai kebenaran akan menjawab semua pertanyaan dengan semua pendapat dan keyakinan yang berbeda dengan kita.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun